tirto.id - Idul Adha 2026 tanggal berapa? Apakah hari raya Qurban untuk kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah akan sama atau beda? Berdasarkan data hisab BMKG hingga BRIN, Idul Adha tahun ini diprediksi serentak pada Rabu, 27 Mei 2026.
Dalam menentukan kapan Idul Adha 2026, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan melakukan sidang isbat yang berlangsung pada Minggu (17/5) di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jalan M.H. Thamrin No. 6, Jakarta.
Dalam sidang isbat tersebut, akan ditetapkan apakah bulan Zulkaidah 1447 H tetap 29 hari, atau dibulatkan menjadi 30 hari. Jika Zulkaidah tetap 29 hari, berarti Senin (18/5) adalah hari pertama Zulhijah 1447 H. Namun, jika Zulkaidah 30 hari (istikmal), maka 1 Zulhijah 1447 H bertepatan dengan Selasa (19/5).
Artinya, jika hari pertama Zulhijah adalah 18 Mei, maka 10 Zulhijah yang merupakan hari raya Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Namun, jika 1 Zulhijah adalah 19 Mei, maka hari raya Qurban akan jatuh pada Kamis, 28 Mei 2026.
Kapan Idul Adha 2026 Kalangan Muhammadiyah, Apakah 27 Mei?
Untuk menetapkan awal bulan baru dalam kalender Hijriah, Kemenag RI menggabungkan metode hisab dan rukyat, sesuai dengan Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004. Dalam hal ini, metode hisab digunakan sebagai pedoman awal, lantas dibuktikan dengan rukyat (melihat) hilal yang untuk Zulhijah 1447 H ini dilakukan di 88 titik seluruh Indonesia.
Sementara itu, metode yang dilakukan Muhammadiyah adalah hisab (penghitungan). Acuannya adalah Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Terkait Idul Adha 1447 H, organisasi tersebut sudah merilis Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Disebutkan, ijtimak jelang Zulhijah 1447 H terjadi pada Sabtu Pon, 29 Zulkaidah 1447 H bertepatan dengan 16 Mei 2026 M, pukul 20:01:02 UTC. Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC tidak ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°.
Selanjutnya, Parameter Kalender Global (PKG) 2 tidak terpenuhi karena setelah pukul 24:00 UTC tidak ada satu wilayah pun di daratan Amerika yang saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi itu memenuhi parameter tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8° dan ijtimak terjadi sebelum fajar di New Zealand (17:47:31 UTC).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di seluruh dunia tanggal 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada hari Senin Kliwon, 18 Mei 2026. Hari Arafah (9 Zulhijah 1447 H) jatuh pada hari Selasa Pon, 26 Mei 2026. Terakhir, Iduladha (10 Zulhijah 1447 H) jatuh pada hari Rabu Wage, 27 Mei 2026.
Prediksi Idul Adha 2026, Apakah Serentak pada Rabu 27 Mei?
Sebelum Kemenag melakukan sidang isbat pada Minggu (17/5/2026), beberapa lembaga sudah merilis hasil hisab terkait kapan awal bulan Zulhijah. Salah satunya adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Menurut BMKG, untuk penentuan awal bulan Zulhijah 1447 H, konjungsi akan terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 M pukul 03.00.55 WIB atau 04.00.55 WITA atau 05.00.55 WIT. Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 3,29 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 6,95 derajat di Sabang, Aceh.
Sementara itu, elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 17 Mei 2026, berkisar antara 8,91 derajat di Merauke, Papua sampai dengan 10,62 derajat di Sabang, Aceh.
Lembaga Falakiyah (LF) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Rabu (13/5) merilis data hilal jelang Zulhijah 1447 H. Dalam data tersebut, disebutkan bahwa ketinggian hilal terkecil ada di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan, dengan 3 derajat dan 15 menit. Sudut elongasinya 8 derajat 57 menit, dan lama hilal di atas ufuk 16 menit 10 detik.
Tinggi hilal terbesar ada di Kota Sabang, Aceh dengan ketinggian 6 derajat dan 47 menit, elongasi hilal 10 derajat 40 menit.
Dikutip dari artikel "LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026" oleh Muhammad Syakir NF (NU Online), data di atas menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk dan memenuhi kriteria imkanurrukyah. Pasalnya, tinggi hilal sudah di atas 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat.
Kemenag sendiri, melalui Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad, menyampaikan data awal (hisab) yang menunjukkan posisi hilal pada 29 Zulkaidah 1447 H secara hisab telah memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. Namun, data tersebut masih bersifat prediktif dan belum menjadi dasar penetapan resmi.
“Perhitungan menunjukkan tinggi hilal berada di atas 3 derajat dan elongasi di atas 6,4 derajat, sehingga secara teori telah memenuhi kriteria imkan rukyat ... penetapan awal Zulhijah tetap menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat sebagai otoritas resmi pemerintah," paparnya dikutip dari laman Kemenag RI.
Terkait awal bulan baru dalam kalender Hijriah, Kemenag berpedoman pada kriteria MABIMS, yaitu imkanur rukyat akan terjadi ketika tinggi hilal mencapai 3 derajat atau lebih, dengan sudut elongasi 6,4 derajat atau lebih. Dari data BMKG dan Kemenag di atas, diprediksi bahwa Zulkaidah hanya berlangsung 29 hari, dan 1 Zulhijah akan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Berdasarkan hisab Muhammadiyah, Sabtu (16/5) ini bertepatan dengan 29 Zulkaidah. Karena Parameter Kalender Global (PKG) 1 dan 2 belum terpenuhi, maka Zulkaidah dibulatkan jadi 30 hari. Artinya, bulan Zulhijah dalam KHGT Muhammadiyah akan dimulai pada Senin, 18 Mei 2026 dan Idul Adha jatuh pada Rabu, 27 Mei.
Sementara itu, berdasarkan perhitungan BMKG dan data Kemenag, Minggu (17/5) bertepatan dengan 29 Zulhijah. Jika hanya melihat data hisab, pada tanggal tersebut, posisi hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS. Artinya, kemungkinan Zulkaidah tetap 20 hari, dan bulan Zulhijah dimulai Senin (18/5). Dengan demikian, Idul Adha berpotensi jatuh pula pada Rabu, 27 Mei. Hanya saja, kepastiannya tetap menunggu hasil sidang sibat ang berlangsung Minggu (17/5).
Penulis: Umu Hana Amini & Fitra Firdaus
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





























