Huawei Punya Senjata Baru Ponsel Honor, Apakah Saling Bunuh?

Oleh: Ahmad Zaenudin - 4 Agustus 2018
Dibaca Normal 2 menit
Honor merupakan sub-merek milik Huawei. Ponsel pintar ini masuk di segmen pasar yang sama.
tirto.id - Ren Zhengfei, pendiri Huawei memilih tak melantai di bursa saham untuk mengembangkan bisnisnya. Sebuah cara yang tak lazim bagi perusahaan ponsel pintar global. Namun, sebagai perusahaan privat, Zhengfei menegaskan “pemilik Huawei bukanlah sosok serakah. Itulah salah satu alasan mengapa kami melampaui rekan-rekan kami.”

Zhengfei tak asal sesumbar. Pada 2018, Huawei memperkirakan akan memperoleh pendapatan hingga $100 miliar. Perkiraan tersebut tak terlalu muluk. Pada 2016 Huawei memperoleh pendapatan 603,6 miliar yuan, setara dengan $92,5 miliar. Salah satu lini bisnis terkuat mereka ialah bisnis consumer (device), salah satunya smartphone.

Pada kuartal I-2018, Huawei mengapalkan 39,3 juta unit smartphone. Ini setara dengan 11,8 persen pangsa pangsa pasar smartphone dunia, nilai yang menempatkan Huawei jadi perusahaan smartphone terbesar nomor ketiga, hanya kalah dari Samsung dan Apple. Hasil ini pun menempatkan mereka jadi perusahaan papan atas smartphone asal Cina.
Di segmen smartphone, Huawei tak buru-buru berpuas diri, mereka melahirkan Honor.


Infografik Huawei Honor


Huawei Honor


Panji Pratama, Public Relation Manager Huawei Indonesia, mengatakan Honor merupakan sub-merek Huawei. Honor merupakan merek yang menyasar kalangan muda memanfaatkan jaringan e-commerce. Namun, meskipun Honor kepunyaan Huawei, khususnya di Indonesia, Honor “tidak di bawah manajemen Huawei Indonesia.”

Di Indonesia, Honor masuk pada awal 2018. James Yang, President Honor Indonesia, dalam peluncuran Honor 10, mengatakan Honor ditargetkan masuk tiga besar dalam tempo tiga tahun mendatang. Ia mengklaim, Honor memperoleh pertumbuhan 100 persen di tiap bulan sejak diluncurkan.

Secara resmi, Huawei memperkenalkan Honor pada 2013. Dalam advertorial Honor yang dimuat The Verge, senada dengan perkataan Panji, merek ini “fokus pada kalangan muda.” Salah satu langkahnya: bekerjasama dengan pembuat gim seperti Gameloft untuk mengoptimalkan smartphone Honor berjalan baik bila penggunanya memainkan gim.

Secara umum, masih merujuk advertorial tersebut, Honor menggunakan cara sederhana berbisnis: menawarkan smartphone premium dengan harga kompetitif dan berkomunikasi langsung dengan konsumen, dan menjual secara online. Di Indonesia sendiri, merek tersebut menjual smartphone di beberapa e-commerce, semisal Shoppee dan Lazada.

Untuk saat ini, strategi yang dilakukan Honor sukses. Honor mengklaim menempati posisi pertama di Finlandia dan nomor ketiga di Rusia. Data yang dipacak Statista mencatat, Honor mengapalkan 16 juta unit smartphone pada 2016, naik lebih dari 100 persen dibandingkan 2015 yang baru mengapalkan 8,5 juta unit smartphone.


Kenapa Huawei harus membuat Honor?

George Zhao, salah satu elit Huawei, pada jurnalis CNBC Nancy Hungerford, mengatakan “inilah saatnya kami mengembangkan produk bagi pasar internasional.” Menurut rencana, mereka ingin membuat smartphone yang penjualannya setara, antara yang dijual di dalam negeri dan luar negeri pada 2020.

Jim McGregor, Principal Analyst Tirias Research, firma riset pasar, dalam tulisannya di Forbes, mengatakan Honor merupakan jawaban bagi Huawei menembus pasar luar negeri. Menurut McGregor, salah satu alasan yang mengemuka ialah pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Eropa, kesulitan konsumen mengucap kata “Huawei” sebagai “wah-way.”

“Banyak perusahaan Asia mengalami kesulitan membangun merek mereka bagi negara-negara barat,” tulis McGregor. “Nama seperti Xiaomi dan Changhong sukar diterjemahkan dengan baik bagi pasar barat,” katanya.

Honor merupakan merek yang “mudah dicerna” negara-negara barat. Salah satu alasannya, kata “honor” termuat dalam bahasa Inggris. Sebagaimana dikutip dari Cnet, Honor bagi Huawei merupakan “sebuah merek yang tidak takut melakukan sesuatu secara berbeda, berani dan membawa perubahan.”

Merek merupakan sesuatu yang menantang bagi perusahaan. Perusahaan hanya punya kesempatan satu kali memastikan merek yang mereka bangun berdiri di posisi yang tepat di tengah masyarakat. “Ketika diluncurkan, pemirsa, dalam hal ini konsumen, jadi pemilik mereka,” tulis McGregor.

Merek yang baik ialah merek yang memiliki karakteristik tersendiri, yang sukses memberikan citra positif, penempatan global, dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Huawei, menurut McGregor punya tantangan soal merek ini.


Daniel Gleeson, peneliti dari IHS, sebagaimana diwartakan Cnet, punya pendapat lain soal kelahiran merek Honor. Huawei, menurut Gleeson, punya konotasi kurang baik di negara-negara barat. Huawei dianggap lekat dengan Pemerintah Cina, yang membuat masalah privasi jadi perhatian serius. Gleeson pun mengatakan mengapa Honor diciptakan ialah adanya persepsi “murahan” bagi produk-produk Cina. Honor ingin menjungkirbalikkan persepsi negatif soal Huawei.

Baca juga artikel terkait HONOR atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra