Hobi Posting Foto Anak di Medsos: Baik atau Tidak?

Ilustrasi foto anak di media sosial. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Patresia Kirnandita - 16 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Di zaman media sosmed seperti sekarang, tidak hanya orang tua yang eksis, tapi juga anak-anak, bahkan bayi baru lahir.
Puluhan foto Kawa (8 bulan), putra penyanyi Andien Aisyah meramaikan akun Instagramnya. Sejak kelahiran putra pertamanya, Andien memang gemar sekali memublikasikan aktivitasnya bersama Kawa dan suami, atau hanya foto Kawa sendiri. Euforia menjadi orangtua memang tak jarang membuat seseorang ingin terus membagikan kisahnya bersama si anak atau cerita tumbuh kembang si kecil dari hari ke hari. Bagi sebagian orangtua, selalu ada saja polah tingkah anak yang jenaka atau pose imut menggemaskan yang patut diperlihatkan ke orang lain lewat media sosial.

Kawa adalah satu dari sekian banyak anak selebritas yang mendapat sorotan publik. Bukan berkat kerja paparazzi, melainkan justru peran aktif Andien dan sejumlah penggemarnya. Di Instagram, terdapat 1.217 post dengan tagar #anakuaskarabiru—nama lengkap anak Andien. Istri Irfan Wahyudi ini bukan orang satu-satunya yang mengunggah konten dengan tagar itu. Ada akun lain seperti @temankawa yang dikelola oleh penggemar bayi tersebut dan memang dibuat dengan tujuan mendokumentasikan detail-detail keseharian Kawa yang belum sampai berusia 1.

Sejak kemunculan media sosial semacam Facebook, Twitter, atau Instagram, jamak ditemukan perilaku orangtua seperti Andien di berbagai pelosok dunia. Di Amerika Serikat misalnya, menurut polling Time dan Survey Monkey terhadap lebih dari 2000 orangtua beda generasi, 81% milenial, 70% generasi X, dan 47% baby boomers pernah membagikan foto anak-anaknya di media sosial. Sementara berdasarkan studi yang dilakukan AVG tujuh tahun silam, informasi lebih 90% anak-anak di AS pernah dipublikasikan (entah oleh orangtua atau anggota keluarga lainnya) di internet, bahkan sebelum mereka menginjak usia 2.

Penelitian lain menunjukkan, 63% orangtua di AS menggunakan Facebook untuk memublikasikan informasi soal anaknya. Dari persentase tersebut, 97%-nya mengunggah foto anak, 89% menuliskan status terkait polah tingkah anak, dan 46% mengunggah video buah hati mereka.

Baca juga Budaya Berbagi di Media Sosial



Macam-macam alasan bisa mendasari pilihan orangtua untuk memublikasikan foto atau informasi lainnya seputar identitas anak. Linda Geddes yang menulis di The Guardian misalnya, menyatakan ia mengunggah informasi anak di media sosial karena ingin membagikan cerita perkembangan anak-anaknya kepada teman dan keluarga yang tinggal berjauhan dengannya.

Pendapat serupa juga dikemukakan beberapa orangtua yang Tirto wawancarai. Nurvina (27), ibu dari Bilal (2), mengatakan ia gemar memublikasikan foto anak juga karena ia merasa senang bila di kemudian hari bisa mengulas balik pengalaman tumbuh kembang anak dengan melihat foto dan tulisan tentang Bilal yang ia unggah di media sosial. Sementara Heri (34), ayah dari tiga anak, mengungkapkan, “Mengunggah foto anak di media sosial itu menyenangkan, bisa berbagi cerita dan kelucuan dengan teman-teman saya dan istri, terutama kepada mereka yang seusia kami. Biasanya, seusai posting ada saja yang menanyai kabar atau mengajak ketemuan.”

Tidak hanya pengalaman tumbuh kembang anak saja yang dibagikan di media sosial. Pengalaman mendidik anak pun menjadi hal lain yang ingin disampaikan orangtua lewat perilaku berbagi cerita dan foto anak di media sosial. Bukan rahasia bila saat ini, khususnya bagi generasi milenial dan penerusnya, internet dan media sosial menjadi sumber referensi pertama dalam mengasuh anak. Tak melulu mereka mesti datang ke orangtua, bertanya langsung kepada teman atau pakar kesehatan bila terjadi sesuatu yang tak beres dengan anak. Cukup ambil gawai dan buka Google atau situs parenting, cari permasalahan yang ingin dipecahkan, dan puluhan opsi solusi pun tersaji untuk mereka.

Baca juga Mengasuh Anak ala Milenial

Catatan Penting Mengunggah Foto Anak

Sejumlah psikolog dan pakar parenting melihat adanya konsekuensi negatif yang berpotensi muncul saat orangtua memublikasikan detail tentang anak di media sosial. Mary Alvord, PhD, psikolog dari Rockville, Maryland, menyatakan pendapatnya di situs American Psychological Association, “Sebagian post memang tidak mungkin menimbulkan bahaya, tetapi yang lainnya, yang menyangkut detail personal anak, bisa membikin mereka menjadi sasaran tindak kejahatan.” Untuk itulah, literasi media penting dipelajari, tidak hanya oleh anak-anak yang dicemaskan orangtua akan terpapar bahaya internet, tetapi juga oleh orangtua sendiri yang gemar memublikasikan foto anak.

Baca juga “Jihad Selfie” Waspadai Deradikalisasi lewat Literasi Digital

Isu lain yang diangkat dari memublikasikan foto anak ialah kesepakatan atau consent anak. Mereka yang masih balita misalnya, mustahil memahami konsep consent. Segala tindak-tanduk mereka, mulai dari yang manis, jenaka, sampai memalukan bisa menjadi bahan unggahan orangtua. Di sisi orang dewasa, orangtua merasa sah-sah saja mengunggah foto-foto seperti itu, bahan menjadi candaan dengan sesama orangtua atau warganet lainnya. Namun yang kerap alpa diperhatikan orangtua, anak bisa merasa risi atau malu saat beranjak remaja atau dewasa dan menemukan foto kanak-kanak mereka yang diunggah orangtua di media sosial.

Sarita Schoenebeck, Ph.D., asisten profesor di School of Information, University of Michigan, melakukan penelitian tentang pengunggahan foto anak oleh orangtua di media sosial. Ia melihat, anak-anak usia 10-17 yang ditelitinya merasa was-was dan tidak nyaman saat orangtua memublikasikan informasi soal mereka. “Anak-anak (yang saya teliti) ingin orangtua lebih sering menanyakan persetujuan mereka lebih dulu sebelum mengunggah apa pun terkait hidup mereka,” ungkap Schoenebeck. Ketika yang dipublikasikan terkait dengan prestasi atau hobi yang dilakukan anak, mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. Beda cerita bila yang diunggah adalah kejadian memalukan seperti terjatuh, menangis, tantrum, atau menunjukkan perilaku memalukan lainnya.

Efek lain yang bisa timbul dari pembagian informasi anak di media sosial adalah kompetisi antar-orangtua. Bisa saja sosok anak yang satu ditampilkan nyaris tak bercacat cela, penuh prestasi, berkecukupan, cakap fisik, pandai, dan segala hal positif lainnya dari anak yang diidamkan mayoritas orangtua. Potret ini sangat mungkin menimbulkan kecemburuan orangtua lain yang melihat anaknya tak sepadan atau memiliki kelebihan berbeda yang tak menjadi kekaguman teman-temannya.

Baca juga Baik-Buruk Efek Instagram bagi Kesehatan Mental

Akhirnya, sebagian orangtua pun berambisi untuk memoles atau menyetir anaknya sedemikian rupa supaya secitra dengan gambaran anak hebat versi teman-temannya di media sosial. Tak terkecuali soal pola asuh yang sering menjadi penghakiman para orangtua di dunia digital. Lihat saja bagaimana hebohnya warganet saat mendapati Andien memberikan makanan padat untuk anaknya yang belum genap setahun.

Baca juga Pro dan Kontra Makanan Padat untuk Bayi

Publikasi soal anak terus menerus yang dilakukan di media sosial oleh orangtua bisa pula membentuk anak menjadi "superstar" di dunia digital. Bagi sebagian besar orang, menjadi terkenal mendatangkan efek-efek positif dan menguntungkan. Namun, tak ada satu hal pun yang seratus persen baik. Menjadi bintang sedari dini bisa mendatangkan beban psikologis bagi anak, terlebih saat ia mulai belajar memahami ekspektasi orang sekitarnya yang tidak melulu bisa ia penuhi.

Baca juga Efek Jadi Bintang Sejak Kecil

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI ANAK atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight