tirto.id - Di berbagai sudut Jakarta, gelanggang olahraga (GOR) hingga lapangan sepak bola tampak lebih semarak. Ini karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, dalam tiga tahun terakhir, merevitalisasi sejumlah fasilitas olahraga untuk masyarakat. Tak hanya mempercantik kota, kebijakan ini juga menghadirkan ruang bagi warga untuk hidup sehat dan berprestasi.
Jakarta sejak dulu identik dengan kemacetan dan gaya hidup serba cepat. Alhasil, banyak warga sulit meluangkan waktu untuk olahraga. Karena itu, ketersediaan gelanggang olahraga yang nyaman dan mudah diakses menjadi hal penting.
Selama 2023–2025, Pemprov DKI Jakarta telah membangun dan memperbaiki 27 fasilitas olahraga. Program ini mencakup revitalisasi gelanggang remaja tingkat kecamatan, pembangunan lapangan sepak bola, hingga renovasi stadion. Lokasinya juga tersebar merata di lima wilayah kota Jakarta.
Pada 2025, misalnya, Pemprov DKI Jakarta membangun gelanggang remaja di empat kecamatan di wilayah Jakarta Selatan, yakni Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, dan Tebet. Sementara di Jakarta Barat, pembangunan gelanggang remaja dilakukan di tiga lokasi, meliputi Kecamatan Palmerah, Kembangan, dan Kalideres.
Tahun ini juga dilakukan pembangunan lapangan sepak bola di daerah Sukatani, Jakarta Selatan; lapangan sepak bola Gedong, Jakarta Timur; dan lapangan sepak bola Ki Amat, Jakarta Barat.
Selain membangun, Pemprov DKI Jakarta juga memperbaiki fasilitas olahraga yang sudah ada, di antaranya Stadion Atletik Rawamangun dan rehabilitasi atap JIRTA tahap kedua.
Tahun lalu, juga dilakukan beberapa pembangunan dan rehabilitasi, seperti perbaikan atap membran di Lapangan Tenis Bulungan, rehabilitasi Atap JIRTA tahap pertama, hingga pembangunan Gedung Dispora, Gelanggang Remaja Kecamatan Cipayung dan Kecamatan Sawah Besar.

Akses Mudah, Fasilitas Mumpuni
Ketika Tirto berkunjung ke Lapangan Tenis Bulungan, Minggu (5/10/2025) siang, atap lapangan tenis sudah terpasang rapi dan teduh. Siang hari itu, beberapa warga datang untuk olahraga bareng keluarga dan kerabat. Di sebelah Lapangan Tenis Bulungan, tersedia lapangan basket. Beberapa anak terlihat semangat berlatih basket.
Intan (26), warga asal Jakarta Selatan, mengaku rutin menjadikan Lapangan Tenis Bulungan sebagai destinasi kunjungan rekreasional akhir pekan. Ketimbang pergi ke mal, Intan lebih nyaman mengajak keluarga atau teman-temannya berolahraga di lapangan ini.
“Karena untuk sewa lapangan juga tergolong mudah dan murah, apalagi kalau sudah sering jadi worth it aja sih, masih di bawah Rp200 ribuan,” ujar Intan saat ditemui Tirto di area lapangan, Minggu (5/10/2025).

Sementara Agung (34), mengajak keluarganya bermain tenis di Bulungan sambil kulineran di sekitar daerah tersebut. Menurut pria asal Jakarta Selatan ini, tak begitu sulit untuk mengakses Lapangan Tenis Bulungan sehingga nyaman dijadikan tempat olahraga bersama keluarga.
Terlebih, kata dia, fasilitas lapangan juga makin nyaman berkat perbaikan toilet pada tahun lalu. Agung menilai fasilitas olahraga yang nyaman dan mumpuni di tengah kota menjadi penting, apalagi jika warga diberikan kemudahan untuk mengaksesnya.
“Betul ini memang bisa membuat masyarakat lebih gerak. Harapannya memang tidak perlu jadi seperti komersial agar warga lebih sering olahraga,” ucap dia kepada Tirto.
Menciptakan Kota Sehat, Bugar, Bahagia
Perbaikan Lapangan Tenis Bulungan dimulai pada 20 Juni 2024 dan dilakukan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta. Tujuan utamanya meningkatkan kenyamanan dan kualitas fasilitas olahraga, terutama penggemar tenis. Rehabilitasi ini sejalan dengan visi Pemprov DKI Jakarta yang ingin menciptakan kota sehat, bugar, dan bahagia. Perbaikan Lapangan Tenis Bulungan rampung pada Oktober 2024.
Kepala Dispora DKI Jakarta, Andri Yansyah, mengatakan, pada periode 2023-2025, Pemprov DKI Jakarta gencar melakukan perbaikan dan pembangunan fasilitas olahraga. Upaya ini bukan hanya untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, melainkan juga untuk memastikan masyarakat memiliki ruang olahraga representatif berstandar nasional, bahkan internasional.

“Revitalisasi ini dilakukan secara bertahap, dari perbaikan GOR atau gelanggang remaja kecamatan, pembangunan fasilitas olahraga baru, hingga renovasi venue-venue besar,” ujarnya, dalam keterangan pers pada Agustus lalu (19/8/2025).
Dari sisi pembinaan, fasilitas olahraga yang lebih modern dan lengkap memberi ruang lebih besar bagi anak-anak dan remaja untuk berlatih sejak usia dini.
Menurutnya, fasilitas olahraga yang nyaman, multifungsi, dan dekat dengan warga menjadi magnet bagi komunitas maupun individu untuk berolahraga secara rutin.
Andri mengatakan, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas olahraga di sejumlah wilayah Jakarta sejalan dengan penunjukkan Jakarta sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Rencananya, ada 32 venue yang bakal digunakan dalam ajang yang digelar pada November 2025. Saat ini, seluruh fasilitas tengah disiapkan agar layak dipakai sebelum POPNAS berlangsung.
“Dengan kondisi sarana yang sesuai standar, diharapkan lahir bibit-bibit atlet potensial dari berbagai cabang olahraga yang bisa mengharumkan nama Jakarta, bahkan Indonesia, di kancah internasional. Selain itu, fasilitas ini juga berperan penting dalam menciptakan gaya hidup sehat dan meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta,” jelas Andri.
Di sisi lain, revitalisasi fasilitas olahraga tidak hanya ditujukan untuk kegiatan kompetisi atau event besar. Pemprov DKI Jakarta ingin fasilitas ini menjadi ruang aktivitas sehari-hari masyarakat.
GOR yang tertata rapi dan mudah diakses mendorong munculnya komunitas olahraga lokal. Di banyak kota dunia, gelanggang olahraga juga berperan penting sebagai ruang sosial.
Salah satu contoh revitalisasi teranyar adalah GOR Cendrawasih di Cengkareng, Jakarta Barat. Stadion yang dibangun sejak 1989 itu kini diubah menjadi pusat olahraga multifungsi.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, ketika meninjau lokasi pada Juni lalu mengaku terkesan dengan fasilitas olahraga yang memiliki luas sekitar tujuh hektare tersebut dengan kapasitas sekitar 500 penonton.
Nantinya, stadion ini tak hanya untuk sepak bola, tetapi juga ada lapangan basket, bulu tangkis, hingga olahraga padel. Kehadiran fasilitas ini diharap membuat warga sekitar lebih mudah berolahraga tanpa harus pergi jauh.
"Kalau dilihat, fasilitasnya cukup bagus. Selain lapangan sepak bola, ada juga lapangan basket, nantinya akan ada bulu tangkis, padel, dan lainnya. Saya berharap renovasi dan penyempurnaannya bisa segera kita mulai," kata Pramono.
Ia menjelaskan, tahun ini tahapan perencanaan pembangunan sudah berlangsung. Sementara untuk proses pembangunan fisik sedang diusulkan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026.
GOR Cendrawasih memiliki luas sekitar 70.000 meter persegi dengan berbagai fasilitas, antara lain stadion sepak bola, gedung serbaguna, GOR bulutangkis, lapangan futsal dan tenis, serta arena panjat dinding (wall climbing). Stadion ini juga pernah digunakan untuk kompetisi Galatama pada era 1990-an dan menjadi markas bagi Persija Barat FC. Pram menilai kualitas lapangan yang baik dapat dimanfaatkan sebagai tempat latihan bagi para atlet muda.
"Kalau ada lapangan sebagus ini, bisa kita kerja samakan dengan Persija. Dan kalau Persija membutuhkan tempat latihan rutin, saya akan memfasilitasinya. Saya ingin prestasi Persija semakin baik," ungkap Pram.
Melahirkan Atlet Muda
Pengamat tata kota, M. Azis Muslim, mengapresiasi langkah Pemprov DKI Jakarta karena membawa dampak positif bagi masyarakat. Program yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, selain memperbaiki penataan ruang kota yang ramah masyarakat, juga menyehatkan warga.
Menurut Azis, ketersediaan ruang publik untuk olahraga yang memadai menjadi faktor penting dalam kehidupan perkotaan. Dia melihat munculnya kesadaran baru di kalangan masyarakat, terutama generasi muda, untuk menjaga kesehatan lewat aktivitas fisik.
Fenomena meningkatnya keramaian di berbagai fasilitas olahraga, seperti di kampus hingga Stadion Gelora Bung Karno (GBK), menunjukkan kebutuhan warga terhadap ruang aktivitas yang sehat semakin besar.
“Fasilitas ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghadirkan pentingnya gaya hidup sehat dan untuk memotivasi para warga masyarakat untuk rajin juga berolahraga,” kata Azis kepada wartawan Tirto, Minggu (5/10).
Selain aspek kesehatan, revitalisasi fasilitas olahraga membuka potensi jangka panjang. GOR menjadi ruang kaderisasi atlet muda, pusat kegiatan komunitas, bahkan penggerak ekonomi lokal melalui aktivitas UMKM.
Meski begitu, Azis mengingatkan pentingnya pengelolaan dan pemeliharaan berkelanjutan agar manfaatnya tidak berhenti sebatas peresmian. Keterlibatan masyarakat, menurutnya, menjadi kunci menjaga keberlanjutan fasilitas publik tersebut.
“Untuk bisa menghadirkan adanya ownership, tentu perlu ada keterlibatan masyarakat untuk sama-sama bertanggung jawab merawat dan memelihara sarana-prasarana yang memang dimiliki. Mungkin di situ dengan melibatkan kelompok-kelompok remaja, karang taruna, atau para komunitas,” ujar Azis.
Di sisi lain, Guru Besar Ilmu Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta, Djoko Pekik Irianto, menilai pembangunan sarana olahraga menjadi kewajiban pemerintah daerah dan pusat dalam konteks mendukung gaya hidup aktif masyarakat dan mencetak atlet masa depan.
Djoko memandang fasilitas olahraga yang memadai merupakan salah satu faktor utama pembinaan atlet, selain adanya kompetisi, keilmuan, dan ketersediaan atlet berkompeten.
Djoko menekankan pentingnya pengelolaan yang profesional serta pemisahan fungsi antara layanan publik dan kegiatan bisnis. Menurut Djoko, fasilitas olahraga publik seharusnya menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat luas.
“Kalau DKI mau melahirkan calon atlet muda, pengelolaan fasilitas olahraganya harus sebaik mungkin. Kalau perlu jangan ditarget untuk PAD karena nanti berlomba untuk mendapatkan pendapatan,” kata Djoko kepada wartawan Tirto, Minggu (5/10/2025).
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































