Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Harga Pangan Amat Pelik, Menanti Tawaran Solusi Para Cawapres

Perubahan iklim, krisis geopolitik, dan tata kelola yang masih berantakan membuat harga pangan terus naik, menjadi teror harian bagi rakyat.

Harga Pangan Amat Pelik, Menanti Tawaran Solusi Para Cawapres
Sejumlah petani merontokkan bulir padi organik di Agro Eduwisata Organik (Aewo) Mulyaharja, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (14/12/2023). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/aww.

tirto.id - Debat keempat Pilpres 2024 atau debat kedua cawapres akan digelar pada Minggu, 21 Januari 2024. Tema debat yang diusung adalah “Pembangunan Berkelanjutan, Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, Energi, Pangan, Agraria, Masyarakat Adat dan Desa”.

Persoalan kenaikan harga pangan dipandang sejumlah pengamat mendesak dibahas dalam debat mendatang.

Menurut Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, persoalan pangan berkaitan erat dengan akses harga dan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

“Ada masalah di tata kelola dan implementasi [hari ini] bagaimana proses perumusan dan distribusi. Serta penting kebijakan soal pricing policy atau dari harganya,” kata Tauhid kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Tauhid menyoroti komoditas pangan yang perlu diantisipasi adalah beras. Menurutnya, komoditas beras diprediksi masih akan mengalami peningkatan harga.

“Beras sepanjang tahun kemarin belum turun-turun dan itu sudah lebih dari 12 ribu [rupiah per kilogram], padahal pemerintah sudah melakukan importasi,” ujarnya.

Tauhid menjelaskan, kebijakan impor masih belum memengaruhi harga beras di pasaran. Hal ini, tambahnya, berkaitan dengan permasalahan distribusi dan stok beras dengan manajemen yang kurang baik.

“Belum lagi ada pemanfaatan dari pedagang dalam kenaikan harga. Ini termasuk isu strategis bagi cawapres karena ini yang paling terasa,” tutur Tauhid.

Selain itu, tambahnya, komoditas hortikultura seperti bawang putih dan cabai juga berpotensi mengalami peningkatan harga. Menurutnya, perubahan iklim berdampak pada penurunan produksi, sehingga berdampak pada ketersediaan dan harga komoditas tertentu.

Dia melihat ada keterlambatan melakukan importasi sehingga berpengaruh pada stok di masyarakat. Menurutnya, kebijakan yang tidak tepat akan berpengaruh langsung pada stok pangan di pedagang dan Bulog.

“Importasi sudah terlalu tinggi tapi harga beras dan pangan lainnya tidak turun-turun, ini yang perlu diperhatikan,” sambungnya.

Berdasarkan pantauan Tirto, Selasa (16/1/2023) pagi, data panel Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyajikan sejumlah bahan pangan yang mengalami kenaikan tren harga. Di antaranya beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, telur ayam, hingga daging ayam dan sapi.

Misalnya, rata-rata harga beras medium berada di level Rp13.280 per kilogram atau naik tipis 0,15 persen. Sementara harga beras premium naik 1,13 persen menjadi Rp15.180 per kilogram.

Harga ini berada di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah lewat Perbadan No.7/2023 sebesar Rp10.900-Rp11.800 per kilogram untuk beras medium, dan Rp13.900-Rp14.800 per kilogram untuk beras premium.

Gerakan pangan murah di Surabaya

Warga menyunggi beras murah yang dibelinya saat Gerakan Pangan Murah di Surabaya, Jawa Timur, Senin (16/10/2023). ANTARA FOTO/Didik Suhartono/tom.

Menanti Pembenahan Tata Kelola

Ekonom Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan persoalan pangan saat ini seperti fenomena gunung es, yang terlihat seolah hanya persoalan harga.

Padahal, kata dia, jika didalami persoalan pangan ini tidak terlepas dari tata kelola pangan yang masih semrawut.

“Data pangan yang akurat dan real time tidak ada, insentif bagi petani berkurang, subsidi pupuk dan solar dikurangi sehingga biaya produksi meningkat dan berujung kepada kenaikan harga di konsumen,” kata Yusuf kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Yusuf menilai, kondisi harga pangan belakangan ini masih menunjukkan kecenderungan peningkatan.

Ia mengutip data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga pangan nasional pada tanggal 14 Januari 2024 mencapai Rp15.010 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar 2,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Beberapa komoditas pangan disebutnya mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

“Misalnya, bawang merah, salah satu komoditas pangan yang paling rentan terhadap kenaikan harga. Harga bawang merah di tingkat petani pada tanggal 14 Januari 2024 mencapai Rp25.000 per kilogram, mengalami kenaikan 18,18 persen dari bulan sebelumnya,” ujar Yusuf.

Hal serupa juga terjadi pada cabai rawit merah, yang harganya naik 20,00 persen menjadi Rp40.000 per kilogram, dan daging sapi dengan kenaikan 19,27 persen menjadi Rp 163.320 per kilogram di tingkat konsumen pada tanggal yang sama.

“Dalam konteks jangka pendek saat ini, kenaikan harga dipengaruhi oleh faktor El Nino dan juga rantai pasok global yang terganggu,” kata dia.

Lebih lanjut Yusuf menjelaskan, kenaikan harga pangan dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang bersumber dari dalam dan luar negeri.

Faktor internal yang berasal dari dalam negeri, tambahnya, seperti produksi pangan yang rentan penurunan akibat berbagai faktor seperti cuaca yang tidak menentu, serangan hama, penyakit, dan penggunaan teknologi pertanian yang kurang optimal.

“Distribusi pangan juga merupakan aspek internal yang dapat menyebabkan kenaikan harga, diakibatkan oleh kendala infrastruktur yang tidak memadai, biaya transportasi yang tinggi, serta praktik monopoli atau oligopoli di sektor distribusi,” tambah Yusuf.

Sementara itu, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyatakan berlangsungnya perang di Ukraina serta kebijakan beberapa negara yang melakukan proteksi dagang, memengaruhi kenaikan harga beras saat ini.

Selain itu, tambahnya, faktor geopolitik dari konflik di Laut Merah antara AS dengan Yaman juga yang memengaruhi kargo pengiriman bahan pangan, terutama pada kenaikan harga beras secara internasional.

“Kemudian juga ada faktor cuaca. Banyak yang meramalkan bahwa El Nino ini masih akan terjadi 2024 yang membuat curah hujan berkurang,” kata Bhima kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Bhima menilai, salah satu persoalan pangan yang perlu dibahas dalam debat cawapres adalah masalah makelar pangan. Dia menyatakan, semakin bergantung pada impor, maka margin keuntungan yang dinikmati oleh mafia pangan akan semakin besar.

“Nah itu juga harus diurai di dalam debat, solusi-solusinya seperti apa. Jadi bukan hanya slogan kita kurangi impor,” ungkap Bhima.

Faktanya, kata dia, sampai saat belum ada solusi sehingga ketergantungan impor pangan masih cukup tinggi. Di daerah, imbuhnya, isu harga pupuk juga perlu dipikirkan solusinya karena berkaitan dengan produksi petani.

“Selain masalah pupuk juga masalah regenerasi petani, semakin sedikit anak-anak muda terjun ke dunia pertanian. Sehingga sektor pertanian didominasi oleh usia non-produktif,” sambungnya.

Jagung hibrida bioteknologi

Petani menunjukkan benih hibrida bioteknologi produksi Syngenta Indonesia pada Pekan Nasional (Penas) Tani Nelayan XVI di Lanud Sutan Sjahrir Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/6/2023). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/tom.

Agenda Paslon

Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar Pranowo-Mahfud Md, Yusuf Lakaseng, menyampaikan paslon capres-cawapres nomor urut 3 akan membenahi dari hulu untuk mengatasi kenaikan harga pangan. Mereka, kata Yusuf, akan membantu para petani untuk ketersediaan lahan.

“Lahan pertanian makin sempit maka solusinya perlu redistribusi tanah paling tidak setiap KK memperoleh lahan garapan minimal dua hektare. Setelah itu diikuti dengan peningkatan kapasitas petani kita, baik pengetahuan maupun teknologi,” ujar Yusuf kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Yusuf menilai solusi ketahanan pangan bukan dengan food estate. Hal itu, menurutnya, justru sebagai bentuk pengabaian pada petani.

“Harusnya petani diberdayakan bukan negara malah membuka lahan sendiri,” kata Yusuf.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Afriansyah Noor, mengungkapkan paslon capres-cawapres yang mereka usung akan membenahi distribusi pupuk subsidi bagi petani. Hal ini, menurutnya, menjadi kunci agar produksi pertanian dan ketersediaan bahan pangan bisa terpenuhi.

“Harga pangan itu harus murah agar daya beli masyarakat terjangkau, ini tanggung jawab pemerintah agar terciptanya regulasi soal pangan. Pangan ini sumber layak hidup manusia sehingga petani produksinya harus meningkat,” ujar Afriansyah kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Di sisi lain, Juru Bicara Timnas Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN), Reynaldi Sarijowan, menyatakan paslon nomor urut 1 akan memberlakukan kebijakan pertanian kontrak untuk menekan kenaikan harga pangan. Dia menegaskan agenda menekan harga pangan masuk dalam visi-misi AMIN.

“Gapoktan (gabungan kelompok tani) dikontrak selama lima tahunan untuk memastikan harga kebutuhan pokoknya terjamin. Maka yang terjadi ada harga minimal dan maksimal sehingga petani ada kepastian untuk panen dan untuk menjual,” ujar Reynaldi kepada reporter Tirto, Selasa (16/1/2024).

Baca juga artikel terkait PILPRES 2024 atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Irfan Teguh Pribadi