Menuju konten utama

Harga Beras Tingkat Eceran Alami Inflasi 3,44% secara Tahunan

Harga beras di penggilingan mengalami inflasi 0,75 persen MTM dan 6,19 persen YOY pada Januari 2026.

Harga Beras Tingkat Eceran Alami Inflasi 3,44% secara Tahunan
Pekerja mengangkut dan menata beras di gudang penyimpanan Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau, Jumat (9/1/2026). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/bar

tirto.id - Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyebutkan harga beras mengalami inflasi secara bulanan (month to month/MTM) maupun secara tahunan (year on year/YOY) di tingkat penggilingan, grosir, dan eceran pada Januari 2026.

Menurut Ateng, harga beras yang mereka hitung merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan mencakup seluruh wilayah di Indonesia.

"Di tingkat eceran, [harga beras] terjadi inflasi sebesar 0,16 persen secara month to month dan 3,44 persen secara year on year," ucap Ateng saat konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026).

Ateng menyatakan harga beras di penggilingan mengalami inflasi 0,75 persen MTM pada Januari 2026 dan 6,19 persen YOY. Jika dipilah berdasarkan kualitas beras di penggilingan, beras premium mengalami inflasi 2,65 persen MTM dan 8,86 persen YOY.

Sedangkan, inflasi beras medium mengalami penurunan 0,64 persen MTM dan mengalami kenaikan 4,68 persen YOY.

"Selanjutnya, untuk inflasi beras di tingkat grosir dan eceran, di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,4 persen secara month to month, sedangkan year on year terjadi inflasi sebesar 4,84 persen," sebut Ateng.

Sebagai informasi, perekonomian Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 secara bulanan. Deflasi tersebut terjadi seiring penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

Deflasi pada awal tahun ini terutama dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan hortikultura serta penurunan sejumlah harga yang diatur pemerintah.

Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 1,03 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,30 persen terhadap inflasi Januari.

Sejumlah komoditas pangan tercatat dominan mendorong deflasi, antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit 0,08 persen, serta bawang merah sebesar 0,07 persen. Selain itu, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,05 persen dan 0,03 persen.

Deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga bensin serta tarif angkutan udara, yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Penurunan harga tersebut sejalan dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh Pertamina pada Januari 2026 serta stabilnya tarif listrik pada periode Januari hingga Maret 2026.

Baca juga artikel terkait HARGA BERAS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fadrik Aziz Firdausi