tirto.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, melainkan bagian penting dari strategi nasional dalam mengentaskan kemiskinan secara terukur dan berkelanjutan. Ribuan anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem kini telah merasakan manfaat nyata dari program tersebut.
Menurut Gus Ipul, pendekatan Sekolah Rakyat bersifat menyeluruh: tidak hanya memberi akses pendidikan bagi anak-anak, tetapi juga memberdayakan orang tua mereka agar dapat mandiri secara ekonomi.
“Sesuai arahan Presiden, anaknya sekolah, lantas orang tuanya diberdayakan dengan program-program pemerintah yang ada, tidak hanya di Kementerian Sosial, tapi juga di Kementerian lainnya juga Pemerintah Daerah,” kata Gus Ipul di Kantor Kemensos, Jakarta.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat dirancang sebagai miniatur pengentasan kemiskinan terpadu. Setiap keluarga siswa memperoleh dukungan menyeluruh dari berbagai sektor, mulai dari perbaikan rumah melalui Program 3 Juta Rumah, bantuan kesehatan lewat PBI-JKN dan cek kesehatan gratis, hingga bantuan sosial dan akses ke Koperasi Desa Merah Putih.
“Nah dengan begitu dalam kurun waktu paling lama 5 tahun, keluarga siswa Sekolah Rakyat ini sudah menjadi keluarga yang lebih mandiri,” ujarnya.
Dalam wawancara bersama Alfito, Gus Ipul membagikan pengalamannya berkunjung ke berbagai Sekolah Rakyat di penjuru Indonesia. Ia mengaku kerap menemukan momen yang menyentuh hati ketika melihat semangat dan tekad anak-anak yang berjuang di tengah keterbatasan.
“Kalau kita berkunjung ke Sekolah Rakyat, kita menemukan banyak keharuan di sana, memang beberapa anak kita yang istimewa, meskipun di tengah keterbatasan, mereka punya semangat, mereka punya cita-cita,” jelasnya.
Baginya, setiap kunjungan ke Sekolah Rakyat menjadi pengingat akan besarnya arti harapan.
“Di situ orang tuanya haru, anaknya haru, kita sendiri bisa merasakan apa yang menjadi perasaan orang tua dan siswa-siswa Sekolah Rakyat ini,” katanya.
Gus Ipul mengatakan, melalui program ini Presiden Prabowo Subianto ingin mengembalikan perhatian negara kepada kelompok masyarakat yang selama ini luput dari sorotan.
“Ini sekali lagi saya anggap sebagai salah satu hal yang luar biasa dari Presiden Prabowo, mengajak kita untuk menoleh mereka-mereka yang selama ini mungkin terpinggirkan,” ungkapnya.
Hingga kini, sudah berdiri 165 Sekolah Rakyat rintisan di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat permanen setiap tahun, masing-masing dengan kapasitas 1.000 siswa. Dalam lima tahun ke depan, jumlahnya diharapkan mencapai 500 sekolah permanen dengan total 500 ribu siswa.
“Kalau sudah kapasitas penuh, maka setiap tahun itu akan ada 500 ribu siswa dan keluarganya yang naik kelas secara berkelanjutan gitu,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada pendidikan dasar, Sekolah Rakyat juga menyiapkan tahapan setelah kelulusan — baik bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan maupun yang akan memasuki dunia kerja.
”Jadi kita sudah memikirkan hilirisasinya, jadi anak-anak lulus seperti apa, maka itu sejak awal kita menggunakan Tes DNA Talent, yang menggunakan teknologi berbasis AI, untuk melihat minat, bakat, dan jeniusnya anak-anak kita ini,” urainya.
Tes DNA Talent ini, lanjut Gus Ipul, bersifat rekomendatif dan menjadi alat bantu bagi para guru dan kepala sekolah untuk mengenali potensi siswa secara lebih mendalam.
“Hasil DNA Talent bersifat rekomendasi yang bisa menjadi pedoman bagi para guru dan kepala sekolah untuk membimbing siswa dan mendalami siswa yang ingin bekerja atau melanjutkan pendidikan, untuk selanjutnya diarahkan sesuai minatnya,” katanya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































