Menuju konten utama

Gubernur Mualem Minta Gas Andaman Tak Semua Dialirkan ke Jawa

Gubernur Aceh, Mualem, meminta cadangan gas di Blok Andaman tidak seluruhnya dialirkan ke Pulau Jawa. Ia ingin Aceh juga mendapatkan manfaatnya.

Gubernur Mualem Minta Gas Andaman Tak Semua Dialirkan ke Jawa
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. FOTO/ Humas Pemerintah Aceh
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem menegaskan cadangan gas raksasa yang ditemukan di Blok Andaman tidak boleh seluruhnya dialirkan ke Pulau Jawa. Ia meminta pemerintah pusat dan operator migas memastikan Aceh memperoleh manfaat langsung melalui pembangunan industri hilirisasi di daerah.

Menurutnya, pengalaman masa lalu dalam pengelolaan gas Arun harus menjadi pelajaran agar Aceh tidak kembali hanya menjadi penonton dalam pemanfaatan sumber daya alamnya sendiri.

"Jadi ini yang perlu kita kembangkan, saya dengan wali (Wali Nanggroe) tidak sanggup," kata Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem di Banda Aceh, Senin (1/6/2026).

Mualem juga meminta dukungan pihak-pihak asal Aceh yang berada di pemerintahan pusat untuk memperjuangkan kepentingan daerah dalam pengelolaan gas Andaman.

"Dengan ada kawan-kawan kita di Jakarta kalau mau disampaikan ya silahkan. Supaya jangan begitu. Kita sudah tau dulu macam mana Arun di masa Soeharto kita jadi penonton terbaik," katanya.

Menurutnya, sebagian gas dari Blok Andaman perlu diolah di Aceh melalui pembangunan fasilitas industri yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

"Bagaimana mereka tinggalkan gas Aceh supaya tidak dibawa semua, jadi ada pabrik-pabrik yang perlu kita bangun di Arun atau di mana supaya anak-anak kita dapat kerja," lanjutnya.

Sikap tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Aceh yang sebelumnya meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda persetujuan Plan of Development (PoD) I Lapangan Tangkulo di wilayah kerja South Andaman.

Permintaan itu tertuang dalam surat Gubernur Aceh Nomor 500.10/2264 tertanggal 27 Februari 2026. Pemerintah Aceh beralasan saat ini belum tercapai kesepakatan dengan operator blok, Mubadala Energy, terkait konsep pengembangan lapangan gas raksasa tersebut.

Dalam usulannya, Pemerintah Aceh mendorong pemanfaatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun yang memiliki infrastruktur eksisting bekas PT Arun NGL sebagai Onshore Receiving Facility (ORF), sekaligus pusat pemrosesan dan hilirisasi gas dari Blok South Andaman.

Kementerian ESDM Percepat Pembangunan Pipa Transmisi Gas Bumi Dusem

Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM tengah mempercepat pembangunan pipa transmisi gas bumi Dumai-Sei Mangkei (Dusem). Infrastruktur tersebut dipersiapkan untuk menyalurkan produksi gas dari Blok Andaman ke berbagai wilayah di Sumatra hingga Jawa.

Pembangunan pipa itu merupakan bagian dari upaya integrasi jaringan gas nasional yang selama ini belum terkoneksi secara menyeluruh di wilayah Sumatra bagian selatan.

"Pemerintah masih terus mengupayakan pembangunan infrastruktu pipa transmisi gas bumi dalam upaya merealisasikan kemudahan akaes gas dengan menjangkau beberapa wilayah di Indonesia," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman, dikutip dari akun Instagram Ditjen Migas @halomigas.

Laode mengatakan pipa transmisi gas akan dibangun secara terintegrasi dari Aceh hingga Jawa Timur sehingga menciptakan satu jalur utama distribusi gas nasional.

Rencana penyaluran gas Andaman melalui jaringan pipa nasional tersebut kini menjadi perhatian di Aceh. Pemerintah daerah berharap pengembangan lapangan gas raksasa itu tidak hanya mendukung kebutuhan energi nasional, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi Aceh melalui pembangunan industri hilir dan penciptaan lapangan kerja.

Baca juga artikel terkait ACEH atau tulisan lainnya dari Firhan Farabi

tirto.id - Flash News
Kontributor: Firhan Farabi
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Ilham Choirul Anwar