tirto.id - Seiring berkembangnya zaman yang kian bersandar pada angka, data, dan keterampilan berhitung, pemerintah menilai kemampuan numerasi menjadi fondasi penting pembangunan nasional. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menghadirkan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) yang melibatkan empat pilar utama: pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat luas.
Berdasarkan Buku Saku Gerakan Numerasi Nasional di Sekolah (2025), gerakan ini bertujuan meningkatkan kemampuan numerasi siswa melalui kegiatan kontekstual dan partisipasi lintas pihak. Bentuknya bisa sederhana, seperti mengurutkan benda, bermain permainan, hingga membuat taman numerasi di sekolah.
Peluncuran GNN dilakukan pada Selasa (19/8/2025) oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, yang menegaskan pentingnya anak-anak Indonesia mencintai Matematika dan numerasi sebagai dasar berbagai cabang ilmu.
“Numerasi itu penting dan numerasi adalah bagian dari kemahiran... agar kemampuan anak-anak kita di bidang ilmu-ilmu lain juga dapat ditingkatkan dengan Matematika sebagai ilmu alatnya dengan numerasi sebagai pondasinya,” kata Mu’ti saat peluncuran di SD Negeri Meruya Selatan 04 Pagi, Jakarta.
Mu’ti mengungkap, banyak anak Indonesia masih kesulitan membaca jam analog dan memahami soal cerita karena lemahnya literasi dasar. Hal itu tercermin dari skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 yang menempatkan Indonesia di posisi 66 dari 81 negara. “Mungkin esensi dari numerasi adalah pada logika itu dengan berbagai macam dimensi, sehingga mereka punya kemampuan untuk menguasai tidak hanya Matematika, tetapi juga berbagai disiplin keilmuan,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, Kemendikdasmen menekankan pentingnya menumbuhkan minat dan rasa cinta terhadap numerasi. Setelahnya, kemampuan ini akan ditanamkan lewat logika, komputasi, dan keterampilan berpikir kritis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya di ruang kelas.
Peluncuran GNN juga menandai berdirinya Taman Numerasi di 140 sekolah di 16 provinsi. Berdasarkan Panduan Operasional Taman Numerasi (2025), area ini dirancang sebagai ruang belajar yang mengenalkan konsep numerasi melalui permainan dan eksplorasi yang interaktif. “Belajar tidak terbatas di bangku sekolah, tapi juga bisa kita laksanakan di rumah, bahkan juga nanti akan dibangun taman-taman numerasi,” imbuh Mu’ti.
Dari Sekolah hingga Rumah: Membangun Budaya Berhitung
Kondisi literasi dan numerasi di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Nilai PISA yang stagnan di bawah negara tetangga menunjukkan perlunya perbaikan dari jenjang dasar. Guru Besar Ilmu Strategi Pembelajaran Digital Universitas Pendidikan Ganesha, I Gde Wawan Sudatha, menekankan pentingnya kesinambungan antara literasi dan numerasi. Menurutnya, memahami persoalan Matematika juga membutuhkan kemampuan menalar dan membaca konteks.
“Kalau sekarang, lebih banyak terdapat kecenderungan untuk menghabiskan materi... sehingga kita lupa bahwa pelajaran mengenai numerasi dan logika juga penting,” kata Wawan kepada Tirto (2/10/2025). Ia berharap GNN menjadi wadah bagi guru dan orang tua menerapkan praktik numerasi di rumah dan sekolah. “Pada akhirnya, nanti juga akan bisa meningkatkan keterampilan komunikasi untuk bertanya, berargumentasi, dan berdiskusi,” tambahnya.
Namun, Wawan juga mengingatkan pentingnya kesiapan guru. Menurutnya, mereka harus memiliki kemampuan merancang stimulus numerasi yang relevan dengan keseharian siswa, dari pertanyaan sederhana hingga lagu. “Guru juga harus bisa memotivasi siswanya, itu yang paling penting,” tegasnya.
Membumikan Matematika: Dari Wonosari ke Majalengka
Ari Sulistyo, guru SMP Negeri 1 Wonosari sekaligus penyusun Buku Saku Gerakan Numerasi Nasional, melihat GNN sebagai langkah untuk “membumikan Matematika” di tengah siswa. “Anak-anak menghitung uang saku mereka sehari-hari dan dipakai untuk apa... itu sebenarnya konsep-konsep Matematika yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam penerapannya, menurut Ari, Gerakan Numerasi Nasional merupakan program yang bersifat menghimpun yang sudah tersedia di masyarakat (bottom-up), yakni melalui Taman Numerasi dan komunitas-komunitas yang sudah berjalan. Tantangannya, kata dia, ada pada peran keluarga yang belum semua bisa mendampingi anak-anak dalam belajar berhitung di rumah. “Padahal, sudah dilakukan, misalnya mengajak bicara tentang uang jajan atau harga makanan,” jelasnya.
Ari menambahkan, Matematika kerap dianggap eksklusif dan sulit, padahal konsepnya dekat dengan kehidupan. “Banyak penelitian menyatakan kemampuan berpikir secara numeratif menjadi bekal anak-anak dalam menyelesaikan masalah. Tapi penerapannya kadang kurang bisa dilakukan dengan baik,” ujarnya. Ia berharap GNN dapat mengubah cara pandang masyarakat agar tidak lagi takut pada Matematika.
“Saya kira, tentu masyarakat Indonesia atau mungkin generasi muda kita di masa-masa yang akan datang akan lebih melihat numerasi, kemudian dengan Matematika menjadi hal yang biasa,” imbuhnya.
Taman Numerasi: Belajar Sambil Bermain
Di Majalengka, Ida Widaningsih, Kepala Sekolah SD Negeri Munjul 2, mengubah lahan sekolah menjadi taman numerasi berwarna-warni. Lapangan dicat seperti permainan engklek untuk mengenalkan urutan bilangan, sementara lorong-lorong dipenuhi garis bilangan ganjil, genap, dan prima. “Matematika ini harus dikemas dengan teknik yang menyenangkan, sehingga anak-anak tidak merasa takut,” ujarnya.
Taman tersebut tak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga bermain. “Responsnya sangat baik. Sambil bermain, mereka tidak terasa melakukan numerasi,” katanya.
Namun, praktik tersebut bukan berarti tanpa halangan. Menurut Ida, untuk menunjang peningkatan kemampuan numerasi siswa, mereka masih membutuhkan alat atau media penunjang berupa puzzle atau permainan lainnya. Sayangnya, karena keterbatasan, alat-alat tersebut belum dapat dihadirkan di SD Negeri Munjul 2.
“Kami baru bisa membuat Taman Numerasi yang memanfaatkan cat, seperti itu saja. Kalau membuat alat, kami belum (bisa). Baru sebatas alat-alat sederhana, seperti alat ukur tinggi badan, grafik, dan gambar. Kemudian, kami juga membuat dari model kertas untuk permainan ular tangga, mengenalkan angka dan perkalian dari permainan ular tangga di kelas,” terang Ida.
Sementara itu, Eka Nurviana Fatmawati, Guru SD Negeri 1 Butuh dan Duta Teknologi Kemendikdasmen, menegaskan bahwa numerasi bukan sekadar memahami rumus. Numerasi tidak hanya berhenti hingga siswa mengerti konsep... tetapi sampai mereka mampu menerapkannya di kehidupan nyata.
“Sayangnya, mulai dari pengalaman belajar yang saya dapatkan dari jenjang SD sampai sekarang saya menjadi seorang guru, Matematika itu hanya sebatas di buku sekolah saja. Artinya hanya lewat soal di dalam kelas dan tidak pernah menyentuh aspek di kehidupan nyata,” terang Eka.
Eka menerapkan pendekatan realistic mathematics education melalui simulasi pasar atau kantin sekolah agar siswa belajar Matematika kontekstual. “Tidak pernah mereka ini akhirnya mengeluh bahwa belajar Matematika bersama Bu Eka itu membosankan,” ujarnya.
Eka melihat terjadi dampak yang cukup signifikan dari Gerakan Numerasi Nasional terhadap peningkatan pemahaman dari siswa mengenai Matematika. Sebelumnya, Eka melihat terdapat siswa yang belum mampu menjawab soal cerita atau menghubungkan Matematika dengan kehidupan sehari-hari.
Dari sisi guru pun, mereka harus terbiasa dengan cara menjembatani antara konsep dengan realitas dan mengubah metode konvensional menjadi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa. Dengan kata lain, para pengajar harus mampu berinovasi menciptakan pembelajaran yang menekankan pada kebermaknaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebanyakan guru-guru zaman sekarang, karena sudah ada penyempurnaan kurikulum, sudah banyak yang mengubah pola pikirnya. Dari yang awalnya hanya didominasi oleh ceramah dan buku teks, mereka sekarang sudah mulai berinovasi menciptakan pembelajaran yang lebih menyenangkan dan berpengalaman bagi murid-murid,” terang Eka.
Belajar dari Denpasar: Saat Permainan Jadi Kelas Terbuka
Di Bali, SMP Sapta Andika Denpasar menjadi contoh nyata penerapan numerasi lewat permainan tradisional. Sekolah dengan 886 siswa itu memiliki Taman Widya Numerasi di lantai dua yang dipenuhi permainan seperti dengkleng, ular tangga, Monopoli, dan congklak. “Tantangan awalnya adalah bagaimana kami mengemas numerasi supaya anak-anak cepat menangkap. Akhirnya, kami gunakan permainan sederhana, seperti dengkleng, ular tangga, Monopoli, dan congklak,” kata Arik Adnyani, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, kepada Tirto (7/10/2025).
Program ini melanjutkan kegiatan Tutor Teman Sebaya yang sudah berjalan sejak 2022. Hasilnya terlihat nyata. “Dari segi numerasi, terlihat dari rapor kami terjadi peningkatan... gabungan dari Program Taman Numerasi dan program sekolah memang pasangan yang tepat,” jelas Arik. Nilai Matematika dan IPA siswa meningkat, sementara para guru menjadi lebih sadar akan penerapan numerasi dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Arik memberi contoh kegiatan sederhana: menghitung kebutuhan rumput untuk taman sekolah menggunakan rumus luas persegi panjang. “Minimal perkalian, hal-hal yang berbau numerasi sederhana itu mereka paham,” katanya. Tantangan tetap ada, terutama keterbatasan sarana dan waktu bermain bergilir. Ia berharap ke depan taman numerasi bisa lebih lengkap dan inklusif.
Namun, Arik mengungkap, tantangan dari penerapan Gerakan Numerasi Nasional di SMP Sapta Andika adalah ketersediaan sarana dan prasarana. Kondisi tersebut membuat murid-murid menggunakan permainan secara bergilir. Arik berharap, suatu saat nanti seluruh muridnya dapat bermain di saat yang bersamaan dan tanpa kendala dari segi waktu.
Bagi siswa, taman ini membawa suasana belajar yang lebih menyenangkan. Mahendra, siswa kelas 9, mengaku senang bisa belajar tanpa gawai. “Dengan adanya Taman Numerasi, teman-teman dapat bermain tanpa menggunakan HP. Lebih seru dan bisa ketawa sama-sama,” ujarnya.
Ia juga menuturkan, taman itu membuatnya lebih paham konsep keuangan dan permainan tradisional yang dulu jarang ia temui. “Kalau ada teman yang enggak ngerti... bisa saya jelaskan,” tutupnya.
(JEDA)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id
































