tirto.id - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menggelar "Gen Z Fest: The Next Wave of Digital Native" sebagai ruang dialog terbuka antara negara dan Generasi Z dalam merespons tantangan peradaban digital, kesehatan mental, serta pembentukan karakter generasi masa depan.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa Gen Z bukan generasi yang layak diberi stigma negatif. Ia menolak anggapan yang menyebut Gen Z sebagai generasi apatis atau cuek terhadap lingkungan sosial.
“Banyak persepsi negatif yang ditempelkan kepada Gen Z. Padahal ciri khas Gen Z itu jujur dan apa adanya. Mereka kritis dan berani menyampaikan pendapat,” ujar Wihaji dalam talkshow interaktif Gen Z Fest di Auditorium Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur pada Kamis (18/12/2025).
Dalam dialog yang berlangsung cair, Wihaji mengajak Gen Z berbicara terbuka mengenai realitas yang mereka hadapi, terutama isu kesehatan mental dan perundungan (bullying).
Wihaji mengungkapkan hasil survei yang menunjukkan sekitar 34 persen anak muda mengalami gangguan kesehatan mental, salah satunya dipengaruhi oleh pola penggunaan gawai dan media sosial.
“Rata-rata Gen Z memegang handphone 7 sampai 8 jam sehari, bahkan bisa lebih. Ini membentuk ‘keluarga baru’ dalam kehidupan mereka, yaitu gawai dan media sosial, yang tanpa disadari memengaruhi cara berpikir dan kesehatan mental,” jelasnya.
Wihaji menekankan bahwa pemerintah tidak datang untuk menghakimi, melainkan mendengarkan harapan Gen Z terhadap masa depan Indonesia dan peran negara dalam mendampingi siklus kehidupan mereka, mulai dari remaja, calon pengantin, hingga membangun keluarga.
“Saya diperintahkan presiden untuk fokus pada generasi ini. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, kalian yang akan menggantikan kami. Tugas negara adalah memastikan kalian tumbuh sehat, tangguh, dan berdaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena “musyawarah netizen” di era digital, ketika opini publik kerap terbentuk dari komentar media sosial tanpa proses verifikasi. Menurut Wihaji, Gen Z perlu dibekali kemampuan literasi digital agar tidak terjebak hoaks, perundungan digital, dan penghakiman massal.
Terkait isu bullying, Wihaji menegaskan sikap tegas pemerintah bahwa perundungan tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun.
“Tidak ada seorang pun yang memilih dilahirkan dengan kondisi tertentu. Karena itu, mem-bully orang lain sama sekali tidak bisa diterima,” ujarnya.
Kemendukbangga/BKKBN merancang Gen Z Fest sebagai kegiatan edutainment hybrid yang memadukan talkshow menteri, pertunjukan musik, games interaktif, dan sesi berbagi bersama audiens. Kegiatan ini diikuti mahasiswa, pelajar, komunitas Gen Z, influencer, hingga peserta daring.
Melalui Gen Z Fest, Kemendukbangga/BKKBN berharap bisa membangun kedekatan dengan Generasi Z sekaligus mendorong mereka menjadi agen perubahan, bukan sekadar objek kebijakan.
“Negara harus hadir, dan Gen Z harus dilibatkan. Masa depan Indonesia ditentukan oleh dialog hari ini,” pungkas Wihaji.
Editor: Dina T Wijaya
Masuk tirto.id
































