Riset Mandiri Tirto

Gen Z Bukan Generasi Apolitis: Survei Aksi "#ReformasiDikorupsi"

Oleh: Scholastica Gerintya - 3 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Aksi #ReformasiDikorupsi mematahkan stigma bahwa Generasi Z apatis pada politik. Mengapa mereka memutuskan untuk terlibat?
tirto.id - Mata saya pedih bukan main seperti terciprat sambal. Masih mengerjapkan kedua mata, berusaha mengurangi pedih, hidung saya malah dihantam rasa gatal dan pedas. Kerongkongan kering dan bernapas jadi hal yang sulit. Sesak, panik, bingung, dan takut. Untuk pertama kalinya saya merasakan gas air mata.

Pengalaman 'baru' itu saya temui pada Selasa, 24 September 2019, ketika hadir di aksi #ReformasiDikorupsi di Gedung DPR RI, Jakarta, untuk mengambil data terkait anak-anak muda yang memutuskan untuk terlibat dalam aksi protes mahasiswa terbesar pasca-1998.

Tulisan ini dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama membahas isu-isu apa saja yang menjadi perhatian peserta aksi dan alasan alasan kelompok usia muda ini mengikuti aksi. Bagian kedua menyoroti peran media sosial dalam aksi #ReformasiDikorupsi dan pendapat mereka setelah terlibat dalam aksi. Bagian ketiga fokus pada penilaian peserta aksi terhadap kinerja pemerintah dan DPR.


Metode

Pengambilan data dilakukan dengan metode random sampling. Kuesioner daring disebarkan pada periode 24-26 September 2019. Selama tiga hari, terkumpul 496 responden.

Untuk menjaga kualitas data, pada survei ini ada beberapa hal yang kami lakukan. Pertama, setiap responden yang menjawab pertanyaan wajib mengisi alamat surel yang valid. Jika ada alamat email yang meragukan, atau tidak lengkap, maka data responden tersebut dieliminasi.

Kedua, kami menyertakan sejumlah pertanyaan kunci, seperti:
1. Apakah Anda mengikuti aksi #ReformasiDikorupsi?
Pada survei ini, kriteria responden yang ditentukan adalah keikutsertaan dalam aksi #ReformasiDikorupsi. Oleh karena itu, kami mengeliminasi data dari seluruh responden yang menjawab "Tidak."

2. Di mana lokasi aksi demonstrasi yang Anda ikuti?
Jika responden menjawab "#GejayanMemanggil", "Rumah", atau "Berjuang di media sosial," maka data dari responden tersebut tidak digunakan. Sementara jawaban seperti "DPR RI, Jakarta," "Depan DPRD Kota Malang," atau "DPRD Surakarta" masuk dalam analisis.

3. Mengapa Anda tertarik dan memilih untuk terlibat dalam gerakan ini?
Di tahap ini, jawaban responden yang tidak dapat dianalisis dan tidak selaras dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dieliminasi. Beberapa contoh jawaban tersebut, seperti: "Iya," "-," atau "Harus kerja."

4. Apa pendapat Anda setelah terlibat dalam gerakan ini?
Melalui pertanyaan ini, bisa terlihat responden mana yang sungguh-sungguh terlibat dalam aksi unjuk rasa. Kami mengeliminasi data responden dengan jawaban yang meragukan, seperti: "Saya tidak ikut aksi secara langsung." Responden dengan jawaban yang elaboratif lebih diutamakan.

Ketiga, dalam penyebaran kuesioner, kami juga meminta bantuan pengumpulan data dari orang-orang yang memang benar terlibat dan ikut turun ke lapangan dalam aksi ini: reporter dan aktivis.

Pada akhirnya, terdapat data dari 391 responden yang layak untuk diolah dan dianalisis.


Profil Responden

Pada survei ini, mayoritas responden adalah laki-laki, yaitu sebesar 53,96 persen. Dari sisi usia, responden didominasi kelompok usia 21-25 tahun (50,13 persen). Kelompok usia terbanyak kedua adalah responden berusia 16-20 tahun (33,50 persen).

Sementara dari segi pendidikan, sebagian besar responden tengah menempuh pendidikan sarjana tingkat satu (S1), yaitu 81,84 persen. Selain itu, kebanyakan responden berdomisili di Yogyakarta (24,55 persen), DKI Jakarta (24,04 persen), dan Jawa Barat (23,53 persen).

Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa
Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa. tirto.id/Quita

Memprotes Kinerja DPR

Jika dilihat dari lokasi aksi, mayoritas responden berdemonstrasi di DKI Jakarta (49,87 persen), tepatnya di kawasan Gedung DPR RI. Lokasi aksi terbanyak berikutnya ada di Jawa Timur (8,7 persen) dan di Jawa Tengah (7,16 persen). Sementara lokasi lainnya berada di Sulawesi Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, dan Bali.

Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa
Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa. tirto.id/Quita

Ada tiga isu yang jadi perhatian terbesar peserta aksi #ReformasiDikorupsi. Revisi rancangan KUHP (RKUHP) adalah isu terbanyak yang disebutkan responden, yaitu sebesar 74,42 persen. Isu berikutnya adalah revisi UU KPK sebesar 64,96 persen dan rancangan UU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dengan angka 43,48 persen.

Bukan cuma perkara undang-undang, isu kekerasan militer dan pelanggaran HAM di Papua (22,25 persen) juga menjadi keprihatinan peserta aksi. Sebanyak 18,41 persen responden juga menginginkan pemerintah segera menyelesaikan perkara kebakaran hutan dan lahan di Riau. Selain itu, ada pula responden yang menolak dwifungsi militer (2,05 persen), "dwifungsi" Polri (2,05 persen) dan kecewa dengan kinerja DPR (3,84 persen).

Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa
Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa. tirto.id/Quita


"Semua Bisa Jadi Korban"

"Banyak poin RKUHP yang multitafsir dan dapat mengkriminalisasi masyarakat sipil yang tidak bersalah." Kalimat ini saya kutip dari jawaban seorang responden laki-laki berusia 22 tahun yang tinggal di Jawa Barat.

Seorang responden perempuan berusia 24 tahun mengatakan, "Saya korban kekerasan seksual. Saya butuh RUU PKS. Tanpa pandang gender, semua orang bisa menjadi korban kekerasan seksual." Alasan ini dikemukakan perempuan yang berdomisili di Yogyakarta itu untuk terlibat dalam gerakan aksi #ReformasiDikorupsi.

Kedua responden adalah bagian dari 99,74 persen responden yang menyatakan bahwa mereka mengetahui isu-isu yang menjadi tuntutan aksi. Hanya ada satu responden yang menjawab tidak tahuーia datang ke lokasi aksi lantaran ingin tahu jalannya aksi.

Mayoritas responden berunjuk rasa untuk memperjuangkan hak dirinya sendiri dan orang lain (27,62 persen). Sebanyak 20,2 persen bergerak karena peduli dan mengaku terdorong hati nurani. Selain itu, 19,95 persen mengaku ingin menyuarakan aspirasi sebab merasa tak didengar oleh para dewan.

Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa
Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa. tirto.id/Quita

Dari seluruh jawaban responden, tidak ditemukan tuntutan untuk menurunkan presiden dari jabatannya. Ini juga berlaku pada 13,04 persen responden yang menyatakan kekecewaannya terhadap kinerja pemerintah dan/atau DPR. Kendati terbatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa dan kelompok usia muda ini memahami isu-isu yang jadi persoalan dan bergerak untuk kepentingan publik.

Sebagai penutup, saya lampirkan kutipan dari beberapa jawaban responden yang mendukung argumentasi ini.

Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa
Infografik Riset Mandiri Aksi Mahasiswa. tirto.id/Quita

Baca juga artikel terkait RISET MANDIRI atau tulisan menarik lainnya Scholastica Gerintya
(tirto.id - Politik)

Penulis: Scholastica Gerintya
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight