Menuju konten utama

F&B Kuasai 47 Persen Bisnis Waralaba meski Ada Tekanan Ekonomi

Levita menilai kreativitas pelaku usaha, khususnya di sektor waralaba menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli tetap terserap di pasar.

F&B Kuasai 47 Persen Bisnis Waralaba meski Ada Tekanan Ekonomi
Pengunjung mencari informasi tentang bisnis waralaba pada pameran waralaba dan lisensi terbesar di Indonesia, IFRA Business Expo 2025 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (25/4/2025). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia, Levita G Supit, mengungkapkan sektor makanan dan minuman (Food & Beverage/F&B)) masih menguasai bisnis waralaba di Indonesia. Kontribusinya bahkan mencapai sekitar 47 persen dari total industri waralaba di Indonesia.

“Masih di F&B. F&B itu dia di 47%. Karena apa? Orang belanja enggak belanja, pasti makan. Enggak shopping, makan,” ujar Levita dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan kuatnya sektor F&B tidak lepas dari karakter konsumsi masyarakat yang menjadikan makan dan minum sebagai kebutuhan utama. Dalam kondisi ekonomi apa pun, konsumsi tetap berjalan, meski dengan penyesuaian.

“Cuman mereka makannya sesuai dengan isi kantong mereka,” katanya.

Menurut Levita, fleksibilitas daya beli inilah yang membuat bisnis F&B tetap tumbuh, bahkan di tengah kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi global maupun isu domestik seperti potensi kenaikan harga energi.

Ia mengakui sempat ada kekhawatiran ketika muncul rumor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Namun, kondisi tersebut tidak sampai menekan kinerja bisnis waralaba.

“Memang kemarin agak worry dengan adanya rumor tentang bensin naik, ya. Itu semua sudah pasti kalau bensin naik, sudah pasti semua akan naik,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyebut langkah pemerintah dalam meredam isu tersebut membuat dampaknya belum terasa di lapangan.

“Tapi dengan adanya redaman dari pemerintah, itu membuat belum ada efek. Belum ada efek terhadap bisnis waralaba,” kata Levita.

Bahkan, di tengah situasi tersebut, minat pelaku usaha untuk masuk ke bisnis waralaba justru masih tinggi. Levita mengungkapkan sejumlah pengusaha besar tetap melihat peluang ekspansi.

“Malah beberapa hari yang lalu, begitu banyak pengusaha besar yang meminta bisnis franchise ke kami untuk mereka buka,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa pelaku usaha telah melakukan riset dan masih melihat prospek cerah di sektor waralaba, khususnya F&B.

“Tadi saya bilang, artinya apa? Mereka kan sudah nge-research dulu. Mereka kan sudah survey dulu. Artinya mereka masih melihat bahwa opportunity itu masih, masih besar,” katanya.

Levita menambahkan, hingga saat ini belum terlihat adanya penurunan kinerja di sektor waralaba.

Di sisi lain, pelaku usaha juga mulai menyiapkan berbagai strategi antisipasi jika tekanan ekonomi benar-benar terjadi. Salah satunya dengan menjaga harga tetap stabil di tengah kenaikan biaya.

“Kalau harga naik, otomatis harga makanan dia naik juga dong. Dia bisa siasatin dengan tidak menaikkan harga makanan,” kata Levita.

Strategi yang dilakukan antara lain dengan menyesuaikan porsi hingga mengganti bahan baku. Selain itu, pelaku usaha juga mulai beralih dari bahan impor ke bahan lokal untuk menekan biaya.

“Misalnya tadinya mereka pakai kentang impor, sekarang mereka pakai kentang lokal. Kentang dari Sumatra enggak kalah [kualitasnya],” kata Levita.

Ia juga menyebut penyesuaian kualitas bahan sebagai salah satu opsi yang dilakukan pelaku usaha tanpa mengubah harga jual.

“Mungkin dagingnya, grade-nya mungkin lebih diturunin, begitu. Tapi dengan tidak mengubah harga,” ujarnya.

Levita menilai, kreativitas pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli tetap terserap di pasar.

“Itulah salah satu contoh kreativitas yang namanya pelaku usaha waralaba. Jadi mereka tidak serta-merta panik,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, ia optimistis sektor F&B akan tetap menjadi penopang utama bisnis waralaba ke depan.

Baca juga artikel terkait BISNIS WARALABA atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto