Event Formula E & Upaya Mengurangi Emisi Lewat Kendaraan Listrik

Reporter: Riyan Setiawan - 19 Mei 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Fabby nilai kendaraan listrik membawa manfaat bagi lingkungan. Namun, saat ini Indonesia belum miliki ekosistem yang terbangun dengan baik.
tirto.id - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan penyelenggaraan Formula E sudah sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo terkait energi ramah lingkungan. Selain itu, acara yang akan digelar pada 4 Juni mendatang ini bisa mempromosikan penggunaan mobil listrik di Indonesia.

“Hadirnya Formula E di Jakarta sejalan dengan upaya Presiden Jokowi dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi konvensional, dan beralih pada energi ramah lingkungan," kata Anies dalam akun Instagram pribadinya, @aniesbaswedan, Sabtu (16/10/2021).

Anies menyebut keputusan penyelenggaraan Formula E di DKI ditetapkan melalui FIA World Motor Sport Council di Paris, pada 15 Oktober 2021 yang sekaligus meratifikasi kalendar balapan musim ke-8 tahun 2021/2022.

Ketua Panitia Formula E, Ahmad Sahroni mengatakan, tiket telah dijual sejak 1 Mei 2022 dengan harga mulai dari Rp250 ribu sampai Rp10 juta melalui website https://jakartaeprix.goersapp.com/.

Penyelenggaraan Formula E digelar dengan kapasitas 60.000 penonton. Tak hanya balapan, gelaran acara Formula E juga terdapat food festival, konser musik, serta event hiburan lainnya. “Semua masyarakat yang ingin menonton pelaksanaan Formula E, dan pada event ada artis-artis yang luar biasa di sana," kata Sahroni di Jakarta, 27 April 2022.

Saat ini, anggaran yang telah dikeluarkan untuk Formula E sebesar Rp560 miliar untuk commitmen fee dan Rp60 miliar untuk pembangunan sirkuit di Ancol, Jakarta Utara.

Sirkuit internasional Formula E Jakarta dibangun di sisi selatan Ancol Beach City (ABC) Mall. Kini, memiliki panjang lintasan 2,4 kilometer, lebar 12 meter dan jumlah tikungan 18.

Dengan lebar trek 12 meter itu, mobil Formula E cukup ruang untuk melakukan overtake dan menyalip lawan. Sedangkan di sirkuit Formula E lainnya yang dibangun di jalan raya, hanya memiliki 3 jalur yang lebar standarnya 10,5 meter. Ukuran mobil Formula E Gen 2 saat ini memiliki panjang 5,1 meter, lebar 1,7 meter, tinggi 1 meter dan wheelbase 3,1 meter. Sedikit lebih kompak dibanding mobil Formula One (F1).


Diklaim Kurangi Emisi & Penggunaan BBM

Tujuan penyelenggaraan Formula E untuk mengkampanyekan kendaraan listrik demi mengurangi emisi karbon dinilai merupakan cara yang efektif. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, manfaat dari kendaraan listrik yaitu dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), polusi udara, dan pencegahan krisis iklim. Namun, besarannya tergantung pada intensitas emisi tenaga listrik.

Sektor transportasi sendiri menjadi penyumbang emisi GRK terbesar kedua di Indonesia, yakni 157 juta ton CO2 atau 27 persen setelah sektor industri sebanyak 215 juta ton CO2.

Fabby mengatakan, lebih sedikit pembakaran bahan bakar minyak (BBM), maka lebih rendah CO, PM, CH, dam lainnya. Sebab, setiap 1 km perjalanan, mobil berbahan bakar bensin memproduksi 252 gr CO2.

“Jadi kalau populasinya cukup besar bisa menurunkan polusi udara. Kuncinya adalah populasi, kalau jumlah sedikit, tidak signifikan dampaknya,” kata Fabby saat dihubungi reporter Tirto, Kamis, (3/5/2022).

Saat ini, Indonesia memiliki target produksi kendaraan listrik yang cukup ambisius. Pemerintah menargetkan 2 juta unit mobil listrik dan 3 juta unit motor listrik pada 2030. Kementerian Perindustrian bahkan mematok target yang lebih ambisius, yaitu 13 juta kendaraan roda dua dan 2 juta kendaraan roda empat pada 2030. Namun, hingga Maret 2022, kendaraan listrik yang beroperasi baru sebanyak 16.060 unit.

Jika pemerintah berhasil mencapai targetnya, Fabby menilai, maka kendaraan listrik memiliki potensi menurunkan emisi GRK dari sektor transportasi, yaitu pada 2030 dapat mengurangi 8,4 juta ton CO2 dan pada 2050 bisa mencapai 49,5 juta ton CO2.

Hal ini juga dinilai dapat menjadi upaya pemerintah Indonesia untuk mencegah peningkatan suhu bumi untuk tidak melewati 1,5℃ berdasarkan Perjanjian Paris tentang perubahan iklim yang disepakati pada 4 November 2016.

Selain itu, penggunaan mobil listrik juga lebih hemat biaya. Rata-rata mobil listrik mengkonsumsi 1 kWh untuk menempuh jarak 5,5 - 6 km. Sehingga diperkirakan 1.5 kWh untuk 10 km. Sementara untuk kendaraan konvensional membakar 1 Liter untuk menempuh 8-10 km.

“Perjalanan sepanjang 10 km hanya mengeluarkan biaya Rp2.200, bandingkan jika pakai pertamax dengan jarak tempuh yang sama menghabiskan Rp12.500,” kata Fabby.



Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin juga mengatakan, jika Formula E menjadi sebuah kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakan beralih ke kendaraan listrik sebagai langkah mengurangi emisi karbon.

Pada 2019, emisi karbon Indonesia telah mencapai 255 juta ton CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Ia menuturkan, penggunaan mobil listrik bisa mencegah kenaikan emisi karbon yang diprediksi mencapai 470 juta ton C02 pada 2030.

Sementara itu, Safrudin menjelaskan dibutuhkan sekitar 68 juta kiloliter per tahunnya. Pada 2030, Indonesia diprediksi bakal membutuhkan minimal 100 juta kilo liter bahan bakar fosil per tahun. Berdasarkan data 2021, konsumsi BBM Indonesia mencapai lebih dari 84,47 juta miliar kilo liter.

Jika konsisten menerapkan kendaraan rendah emisi gas karbon seperti kendaraan listrik, maka di tahun 2030 bisa mengurangi efek gas rumah kaca dari transportasi darat sampai dengan 59 persen. Selanjutnya juga bisa menghemat sekitar 59 juta kilo liter bensin dan 56 juta kilo liter solar atau sekitar Rp677 triliun rupiah.

“Bahwa penggunaan kendaraan listrik diproyeksikan pada 2030 akan mendapat keuntungan ekonomi hingga Rp9.603 triliun sebagai konsekuensi dari penghematan energi fosil atau bahan bakar minyak,” kata Safrudin.

Product Planning Wuling Motors, Danang Wiratmoko menjelaskan, keuntungan kendaraan listrik sudah dipastikan dengan dilakukannya penelitian pada 2016 yang menjelaskan kalau penggunaannya bisa mempengaruhi lingkungan, terutama pada polusi udara.

Kemudian, mobil litrik juga tidak memiliki mesin yang berisik ketika dikendarai sehingga memberikan kenyamanan ketika melakukan perjalanan. Selain itu, perawatan untuk mobil listrik lebih mudah dan juga sederhana karena tidak memiliki sistem pembuangan. Tidak perlu juga mengganti oli, hanya perawatan dan mengecek baterai aki.

“Mobil listrik tidak perlu mengantre di pom bensin untuk mengisi bahan bakar, cukup meng-charger alat pengisian energi ke mobil listrik,” kata Danang melalui keterangan tertulis dikutip Tirto pada Jumat (13/5/2022).


Kelemahannya dan Apa yang Harus Dilakukan?

Fabby mengatakan kendaraan listrik memang membawa manfaat bagi lingkungan. Namun, saat ini Indonesia belum memiliki ekosistem yang terbangun dengan baik.

Adapun ekosistem yang dimaksud dalam studi ini mencakup beberapa aspek: insentif dan kebijakan pendukung dari pemerintah; infrastruktur pengisian daya; model dan pasokan kendaraan listrik; kesadaran dan penerimaan publik; dan rantai pasokan baterai dan komponen kendaraan listrik.

Agar terciptanya target banyak orang menggunakan kendaraan listrik untuk menurunkan emisi karbon, kata Fabby, IESR mendorong agar pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan fiskal sehingga membuat harga kendaraan listrik lebih kompetitif. Berkaca dari pengalaman negara lain seperti Amerika Serikat, Norwegia, dan Cina, insentif dapat berupa pembebasan PPN, pajak registrasi, bea impor, serta pemberian subsidi.

Saat ini total insentif yang diberikan pemerintah Indonesia hanya mampu mengurangi sekitar 40 persen dari harga awal kendaraan listrik yang masuk ke Indonesia, kata Fabby.

Selain itu, dari sisi pasokan, pemerintah perlu juga meningkatkan kuantitas dan ketersediaan beragam model kendaraan listrik dengan memberikan kebijakan yang mendorong produsen untuk memproduksi lebih banyak kendaraan listrik.

“Seperti dengan penetapan standar efisiensi bahan bakar pada tahap awal dan penggunaan mekanisme kredit kendaraan listrik saat pasar sudah semakin berkembang seperti yang diterapkan di Cina dan California,” kata Fabby.



Sementara itu, Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin menekankan bahwa upaya pengurangan emisi sektor transportasi harus terintegrasi dari hulu hingga hilir, meliputi energi bersih, teknologi bersih, manajemen industri dan transportasi, standar emisi, dan yang paling penting sisi law enforcement atau bagaimana pelaksanaan aturan-aturan yang telah dibuat berjalan dengan semestinya.

“Untuk mendorong pengembangan kendaraan listrik, yang harus dilakukan pemerintah adalah menetapkan standar emisi, kemudian menerapkan skema feebate/rebate, yaitu memberi insentif bagi industri yang memenuhi standar dan memberlakukan denda bagi produsen kendaraan yang tidak bisa memenuhi standar yang telah ditetapkan,” jelas Safrudin.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai, kendaraan listrik memang lebih ramah lingkungan dibandingkan kendaraan konvensional. Namun, Walhi memandang jika dilihat dari sektor hulu, kendaraan listrik tidak bebas dari ancaman lingkungan.

Manajer Kampanye Tambang dan Energi Walhi, Rere Christanto mengatakan, terdapat ancaman ekstraksi nikel dalam wacana percepatan program Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KLBB). Dia menjelaskan, logam utama yang dipakai dalam baterai lithium-ion yang digunakan KLBB adalah kobalt, lithium, nikel, dan mangan yang merupakan sumber daya alam.

Selain itu, saat ini batu bara juga masih merupakan salah satu sumber daya alam yang digunakan untuk energi listrik. “Jika dilihat dari hulu, produksi kendaraan listrik berasal dari pertambangan yang merusak lingkungan dengan deforestasi. Lalu akibatnya, hutan yang dapat menampung karbon hilang,” kata Rere kepada Tirto, Selasa (17/5/2022).

Rere menjelaskan limbah baterai isi ulang untuk kendaraan listrik juga mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), yang di dalamnya terkandung unsur kimia lithium, timah, asam sulfat, dan lainnya yang dapat membahayakan lingkungan maupun kesehatan manusia.

“Jadi, tata kelola harus hati-hati dan jangan sampai ada kontaminasi. Pengelola harus benar dan untuk pengelolaannya ditunjuk tim tersendiri yang khusus menanganinya,” kata dia.

Agar produksi kendaraan listrik ramah lingkungan dan tetap menjaga ekosistem alam, kata dia, Walhi menyarankan agar pemerintah memproduksi bahan bakar kendaraan listrik berbasis energi terbarukan. Energi terbarukan dapat diperoleh melalui arus laut samudera, panas bumi, bioenergi, angin, air, dan cahaya matahari yang dapat ditampung melalui panel surya maupun pembangkit listrik.

“Yang paling penting energi yang bisa digunakan dan bisa dipulihkan dan tidak merusak lingkungan,” kata dia.

Lebih lanjut, Rere juga meminta pemerintah menjalankan gugatan dari Koalisi Ibu Kota yang telah dikabulkan oleh Pengadilan Negeri (PN) terkait polusi udara di Jakarta pada 2021. “Iya, jika memang memiliki concern yang sama besar soal perbaikan kualitas lingkungan,” tuturnya.

Ahmad Safrudin menambahkan, pemerintah juga harus membatasi produksi nikel, batu bara, dan bahan baku kendaraan listrik lainnya agar tidak mengeksploitasi lingkungan.

“Kalau bisa nikel dan bahan bakunya tidak perlu diekspor, sebaiknya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri saja agar sumber daya alam tidak banyak dikeruk,” tuturnya.


Pemerintah Dorong Penggunaan Kendaraan Listrik

Presiden Jokowi mengaku akan mendorong pengembangan dan penggunaan mobil listrik. Pemerintah akan menggunakan Keketuaan Presidensi G20. Jokowi bahkan nantinya menginginkan transportasi berbasis ramah lingkungan di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Mantan Gubernur DKI itu ingin Indonesia tampil dari hulu dengan industri baterai dan komponen mobil hingga hilir dari sisi pengadaan stasiun pengisian kendaraan listrik.

Saat ini, kata Jokowi, pemerintah Indonesia menyiapkan 60 stasiun pengisian kendaraan listrik berstatus fast charging 200 kw kemudian SPKLU ultra fast charging pertama di Indonesia dan 150 titik fasilitas pom charging. Pengisian daya mobil diperkirakan memakan waktu 30 menit.

Jokowi menuturkan, pemerintah akan terus mendorong agar ada transisi besar energi fosil ke energi terbarukan. Apalagi, ia menyebut APBN terbebani akibat impor BBM.

“Oleh sebab itu, kondisi ini tidak boleh kita biarkan, kita harus mencari cara agar bisa mewujudkan kemandirian energi," kata Jokowi saat meresmikan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) Ultra Fast Charging pertama di Indonesia yang berlokasi di Nusa Dua, Bali, Jumat (25/3/2022).

Kementerian Keuangan sendiri saat ini memberikan insentif atau diskon Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) untuk kendaraan bermotor ramah lingkungan hingga September 2022.

Insentif diberikan kepada dua segmen: Pertama kendaraan harga paling banyak Rp200 juta untuk kendaraan hemat energi dan Low-Cost Green Car (LCGC). Insentif diberikan dalam bentuk potongan PPnBM sebesar 100%, 66,66% dan 33,33% sehingga PPnBM yang dibayar di kuartal pertama hanya sebesar 0%, kuartal kedua 1% dan kuartal ketiga 2%.

Segmen kedua adalah kendaraan dengan kapasitas mesin sampai dengan 1500 cc dengan harga antara Rp200 – Rp250 juta yang diberikan diskon PPnBM sebesar 50% pada kuartal pertama sehingga konsumen membayar tarif PPnBM hanya sebesar 7,5%.



Sementara itu, Gubernur DKI Anies Baswedan mengaku telah melakukan beberapa langkah untuk mengembangkan kendaraan listrik. Saat ini, Pemprov DKI telah mengoperasikan 30 unit bus listrik, dan tahun ini ditargetkan sebanyak 100 unit.

Gubernur Anies juga melakukan kerja sama dengan Bloomberg New Energy Finance (BloombergNEF) demi target Jakarta mencapai net zero emissions pada 2050, khususnya melalui kebijakan sustainable mobility bus listrik.

“Kebijakan sustainable tersebut melalui pengembangan pedestrian, jalur sepeda, integrasi transportasi publik multi moda, target elektrifikasi 50% armada Transjakarta pada 2025, dan elektrifikasi seluruh armada Transjakarta pada 2030, dan kebijakan terkait lainnya," kata Anies melalui keterangan tertulis, Minggu (15/5/2022).

Kemudian untuk gugatan warga mengenai kualitas udara di Jakarta, Anies menyatakan siap menjalankan putusan majelis hakim PN Jakarta Pusat demi udara ibu kota yang lebih baik.

Senior Sustainability Manager FIA Formula E London, Iona Neilson menilai, ajang balapan mobil litrik itu juga dapat membangkitkan kesadaran masyarakat tentang lingkungan yang berkelanjutan karena bebas emisi (zero emission), sehingga membantu kualitas udara di Indonesia.

“Formula E untuk meningkatkan kesadaran soal sustainability dan energi terbarukan kepada para penonton dan para penggemar,” kata Iona dalam keterangan tertulis, Rabu (11/5/2022).

Hal senada diungkapkan Vice President Infrastructure and General Affairs Organizing Committee Jakarta ePrix 2022, Irawan Sucahyono. Ia menjelaskan, standar sustainability itu juga bisa disebarkan oleh Formula E melalui hal-hal kecil. Contohnya, pengelola tidak lagi menjual makanan dengan pembungkus seperti styrofoam dan mengimbau pengunjung membawa dan menggunakan botol air minum yang bisa diisi ulang.

Kemudian saat pembangunan sirkuit, penyelenggara tak menebang pohon yang menghalangi pembangunan, tapi memindahkannya. Irawan menjelaskan, acara ini mengombinasikan tiga aspek: performance, efficiency dan sustainability.

“Ini balapan motor ramah lingkungan. Jadi, mungkin nanti dunia balapan akan berubah semua menjadi seperti ini," katanya.


Baca juga artikel terkait FORMULA E atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight