Emak-Emak Pepes Kontroversial, tapi Mengapa Relevan dalam Pilpres?

Ratusan ibu-ibu pendukung paslon nomor 01 yang tergabung dalam PERTIWI dan pendukung paslon 02 yang tergabung dalam MAKBUL secara spontan bertemu di Pondok Indah Mall, Jakarta, Rabu (13/2/2019). tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Widia Primastika - 4 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Perempuan tak hanya menjadi pemilih terbanyak, tapi juga punya persoalan dan pandangan yang patut dibidik oleh capres.
Pertengahan Februari 2019, jika kita menulis kata “pepes” pada mesin pencari Google, yang muncul adalah sekumpulan resep makanan olahan kaya rempah, yang biasanya berbahan dasar ikan, dan dibungkus dengan daun pisang.

Namun, sejak hari Senin, 25 Februari 2019, semua berubah. Hasil pencarian teratas bukan lagi resep masakan lezat yang menggugah selera, melainkan salah satu perkumpulan ibu-ibu pendukung Prabowo-Sandi.

Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo Sandi, disingkat Pepes, mendadak melejit setelah peristiwa penangkapan tiga ibu-ibu yang menyebarkan kabar bohong pada hari Minggu, 24 Februari 2019, sekitar pukul 23.30, di Karawang, Jawa Barat.

Berdasarkan video yang dibagikan oleh akun bernama @citrawida5, ibu-ibu itu berusaha mempengaruhi warga agar mendukung jagonya. Mereka bilang jika Jokowi-Ma’ruf menang, warga tak bisa lagi mendengar suara azan dan mengenakan kerudung. Mereka juga menyampaikan bahwa Jokowi-Ma’ruf akan melegalkan perkawinan sejenis.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga tak menampik bahwa Pepes merupakan kelompok relawan yang terdaftar, tapi mereka menyanggah Pepes menebar kampanye hitam.

“Itu selama ini disosialisasikan Pepes dari Oktober hingga sekarang. Ikut mengerek elektabilitas Prabowo-Sandiaga. Tiba-tiba ada orang Pepes yang lakukan kampanye negatif, itu bukan cara Pepes,” ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade kepada Tirto.

BPN pun tak menerima tudingan bahwa emak-emak tersebut korban BPN. Menurut mereka, pernyataan itu muncul karena kurangnya pengetahuan dan terlalu bersemangat. Andre pun mengklaim BPN telah memberikan arahan tentang informasi yang boleh dan tidak dalam kampanye.


Kumpulan Emak-Emak Pilpres Ini dan Itu

Pepes merupakan salah satu komunitas relawan perempuan yang mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga. Ketua Umum Pepes, Wulan, mengatakan bahwa gerakan itu dibentuk setelah Sandiaga mendeklarasikan partai emak-emak.

“Kemudian saya bilang, ‘Kenapa kita nggak bikin partai emak-emak aja ya?' Kemudian kita declare partai Pepes ini,” ujar Wulan.

Sebenarnya, wadah bagi emak-emak ini sudah ada sebelum 17 Agustus 2018. Segelintir anggota kumpulan ini sudah saling kenal sejak Pilpres 2014 lalu. Namun, kala itu mereka belum memiliki nama kumpulan dan belum mengetahui sosok pendamping Prabowo.

“Kami perkumpulan ibu-ibu arisan saja, sih. Cuma, kami satu visi dari awal. Kami kenal di 2014, terus kami berteman sampai sekarang. [Kenalnya lewat mana?] Dari macem-macem, ada teman ngantar anak les, macem-macem. Namanya saja emak-emak, masa mesti tahu dari mana saja?” kata Wulan.

Kini, Pepes menurut Wulan telah berkembang dengan 3.000 anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan arahan dari BPN, para relawan harus militan. Tak hanya aktif di media sosial, mereka juga wajib turun ke lapangan. Syarat itu pula yang harus dipatuhi oleh anggota Pepes.

Mereka pun bersedia mengorbankan waktu, materi, dan tenaga untuk menjalankan program-program yang direncanakan. Ada kegiatan Mak Preneur (memberikan pelatihan wirausaha bagi ibu-ibu), Mak Education (memberikan workshop parenting bagi ibu-ibu), dan Mak Health (memberikan bakti sosial berbentuk pemeriksaan kesehatan gratis di daerah-daerah).


Mereka pun juga memiliki program Pepes Kepung, program door to door untuk mengenalkan warga tentang pasangan calon yang mereka dukung.

Relawan perempuan tak hanya dimiliki oleh kubu Prabowo-Sandi, tapi juga Joko Widodo-Ma’ruf Amin, salah satunya Perempuan Tangguh Pilih Jokowi (Pertiwi). Ketua Umum Pertiwi, Putri K. Wardani, mengatakan kelompoknya merupakan perempuan pendukung Jokowi-Ma’ruf dari berbagai latar belakang.

Putri mengatakan ia telah aktif mendukung Jokowi sejak 2011. Sebelumnya, wadah yang dibentuk Putri dikenal dengan nama Jokowi Center.

“Kami merasa memiliki platform yang sama dengan pemikiran-pemikiran yang diusung oleh bapak Joko Widodo. Selama 4 tahun lebih ini, kami merasa bahwa beliau sudah pada arah yang benar. Pertiwi ini merupakan underbow Jokowi Center yang mengkhususkan diri untuk perempuan,” ungkap Putri.

Seperti Pepes, Pertiwi mengaku punya 3.000 anggota. Aktivitas mereka beragam, tergantung minat masing-masing individu, mulai dari menyapa warga, aktivitas sosial, serta kampanye damai dan anti-hoaks.

Meski tak ada arahan khusus Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Putri menyampaikan bahwa seluruh aktivitas Pertiwi telah direstui oleh TKN. Apalagi sang ketua umum juga bergabung di TKN.

Pentingnya Komunitas Perempuan

Dalam pertarungan Pemilihan Presiden 2019, gerakan perempuan memang lebih lantang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saat berkampanye, masing-masing pasangan calon tak jarang adu pamer pendukung perempuan.

Barbara C. Burell melalui studinya yang berjudul “Gender, Presidential Election and Public Policy: Making Women’s Votes Matter” (PDF) membeberkan gender telah menjadi fokus utama kampanye sejak pemilu 1980 di Amerika Serikat.

Ada dua alasan yang mendasarinya, yakni jumlah dan pendapat. Selain menjadi mayoritas pemilih, perempuan juga bisa menghadirkan perspektif yang berbeda dalam melihat suatu masalah.

Sama dengan Amerika Serikat, Indonesia juga memiliki jumlah pemilih perempuan lebih besar dibandingkan pemilih laki-laki. Berdasarkan hasil penyempurnaan rapat pleno terbuka Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan tahap II (DPTHP-II) yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih dalam DPT dalam dan luar negeri adalah 192.828.520.

Dari jumlah tersebut, jumlah pemilih dalam negeri berjumlah 190.770.329, terdiri dari 95.368.749 laki-laki dan 95.401.580 perempuan. Di luar negeri, terdapat 2.058.191 pemilih yang terdiri dari 902.727 pemilih laki-laki, dan 1.155.464 pemilih perempuan. Maka, tak heran jika tim sukses setiap pasangan calon berusaha merebut suara mereka untuk mendongkrak elektabilitas.

Di Amerika Serikat, perhatian tentang gender muncul ketika Ronald Reagan menang pemilu pada 1980. Keberhasilan Reagan untuk menduduki takhta presiden memang mulus, tapi ada delapan persen senjang gender dalam suara yang diperolehnya, yakni 46 persen perempuan dan 54 persen pria.


Hal yang menyebabkan kesenjangan gender dalam pemilihan itu salah satunya adalah posisi ekonomi perempuan yang berada di bawah laki-laki dalam pekerjaan dan masalah keuangan. Reagan dianggap tidak mampu meyakinkan pemilih perempuan bahwa dia ada di pihak kesetaraan.

Sejak itu, perempuan menjadi perhatian utama dalam pemilu, salah satunya dengan melibatkan mereka dalam kampanye dan pembuatan kebijakan.

Berdasarkan survei berjudul “A Closer Look at the Gender Gap in Presidential Voting” yang dilakukan oleh Pew Research Center pada 2016, dalam politik di Amerika Serikat, perempuan lebih suka menekankan isu terhadap ras dan etnis minoritas, lingkungan, masalah aborsi, dan perlakuan terhadap kaum LGBT.



Survei yang dilakukan oleh Pew Research Center pun menemukan bahwa dalam memilih presiden, 83 persen perempuan menganggap bahwa kebijakan ekonomi sangat mempengaruhi pilihan mereka.

Dalam penelitian berjudul “Gender, Presidential Election and Public Policy: Making Women’s Votes Matter” yang dilakukan oleh Burell, ia mencontohkan organisasi perempuan yang muncul di Amerika Serikat saat Pemilu 2004, yakni kelompok Mainstream Moms Oppose Bush (MMOB) dan kelompok lawannya Moms4Bush.

Meski membawa isu dan tujuan yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama: mempengaruhi suara perempuan, merekrut, dan melatih pendukung perempuan.

Kelompok perempuan yang telah mendukung Bush sejak Pemilu 2000 menekankan enam bidang masalah, yakni membuat Amerika lebih aman, memperkuat ekonomi melalui pengurangan beban pajak keluarga, dan usaha kecil, membuat perawatan kesehatan lebih terjangkau dan dapat diakses oleh semua orang Amerika Serikat, mereformasi pendidikan sehingga tidak ada anak yang tertinggal, memberdayakan kelompok berbasis agama dan masyarakat, dan membangun budaya tanggung jawab.


Di bawah pimpinan langsung Laura Bush, program ini dijalankan untuk membantu perempuan secara khusus dan akhirnya berhasil membantu Bush kembali menduduki kursi Presiden di tahun 2004. Dari situ, Indonesia bisa berkaca. Mendukung maupun menolak Jokowi atau Prabowo, membawa isu konservatif ataupun emansipatoris, kumpulan perempuan akan lebih bisa memahami bahasa sesamanya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Politik)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight