Menuju konten utama

Duka di Pejompongan: Demo Ricuh Berujung Pengeroyokan Warga

Kedua keluarga berharap kepolisian segera menangkap pelaku penganiayaan yang terjadi di Pejompongan, Jakarta usai aksi massa di DPR.

Duka di Pejompongan: Demo Ricuh Berujung Pengeroyokan Warga
Pengunjuk rasa berjalan di sebelah pembatas jalan yang dibakar saat aksi di Jakarta, Jumat (29/8/2025). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Lihat bapak nggak, De?' kata nyokap gini. 'Ah ada, orang sendalnya ada di situ,' saya gituin."

Pertanyaan itu menjadi salah satu momen dialog Yoga (29) dengan wartawan Tirto di kediaman duka, Sabtu (29/8/2026). Yoga merupakan anak bungsu dari Bambang Setiawan (60), warga Bendungan Hilir. Bambang meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan orang tidak dikenal di daerah Pejompongan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Kericuhan sempat pecah di sekitar area tersebut usai aksi demontrasi RUU Perampasan Aset di Gedung DPR, Jakarta.

Yoga pun menceritakan ulang momen duka sebelum ayahnya meninggal dunia. Seusai menemani tetangganya ke RS Pelni, Bambang memilih pulang berjalan kaki menuju kediamannya sekira pukul 21.00 WIB. Tidak berselang lama, almarhum kembali keluar dari rumah untuk mematikan listrik di toko. Saat itu, sejumlah kelompok tak dikenal tengah menyisir kawasan Pejompongan. Pertanyaan ibunya merupakan dialog ketika keluarga mulai bertanya-tanya posisi Bambang.

Sejak itu, keberadaan Bambang yang sehari-hari berjualan cermin di Jalan Pejompongan Raya tidak diketahui hingga Jumat (28/8/2026) dini hari. Yoga lantas mencari-cari almarhum. Ia menyisir sejumlah tempat ayahnya kerap bercengkrama dengan teman-temannya.

"Yang mungkin menurut gua kenal sama bokap gua tanyain. 'Nggak lihat, nggak lihat,' kata temen bokap. Ya udah saya balik sini. Nyokap saya suruh tidur," ujarnya kepada Tirto di kediamannya, Sabtu (29/8/2026).

Ia juga memberi kabar tersebut kepada kakaknya, Wisnu. Setibanya di kediaman, Wisnu memperlihatkan sebuah rekaman video. Rekaman ini menunjukkan seseorang tengah dikeroyok dengan beringas oleh sekelompok orang tak dikenal.

Berulangkali Yoga memastikan rekaman itu, berharap kalau sosok yang berada dalam video bukanlah ayahnya. Sayang, sosok tersebut adalah mendiang Bambang yang hilang sejak Kamis malam.

"Gua perhatiin lagi mukanya. 'Wah. Bokap nih, udah fix bokap nih.' Gua pause lah. Pause arah muka Bokap yang jelas. Akhirnya gua kabarin ke abang gua, 'Mas, iya ini benar bokap,'" jelasnya.

Sosok Murah Hati yang Dipercaya Warga Pejompongan

Yoga menggambarkan sosok Bambang merupakan seorang kepala keluarga seperti pada umumnya. Murah hati dan mudah bergaul dengan sesama warga Pejompongan. Bahkan, sebelum dikabarkan hilang, almarhum diminta menemani seorang tetangga untuk berobat.

"Buat teladan dari gua, kalau dari bokap itu, dianya tuh leluasa gitu. Dia bisa bergaul sama anak kecil, apa bapak-bapak, ibu-ibu, nggak seumuran dia lah gitu," sambungnya.

Wisnu pun membenarkan pernyataan Yoga. Bambang adalah sosok yang mudah bergaul dengan masyarakat. Ayah Wisnu itu pun selalu berpesan pada anak-anaknya, almarhum percaya, selalu berbuat baik bagi semua orang.

"Jadi merangkulah orangnya. Meskipun ya enggak sempurna sebagai orang tua, tapi dia selalu mengusahakan itu semua," sebutnya.

Wisnu menuturkan, saat ini pihak keluarga masih dalam berduka sehingga menyerahkan proses pencarian pelaku ke aparat penegak hukum. Keluarga memilih untuk istirahat sejenak.

Namun, Wisnu mengaku, pihak keluarga juga akan dilibatkan dalam proses laporan oleh kepolisian. Polisi pun meminta keluarga untuk fokus istirahat.

"Berharapnya kita dapat perkembangan yang baik. Terus dapat informasi atas kejadian yang kemarin," ucapnya.

Keluarga enggan menyimpulkan kelompok mana sebagai pelaku, terlebih bukti-bukti video yang tersebar seharusnya dapat memudahkan pencarian pelaku pengeroyokan mendiang.

"Kejadian yang kayak sekarang itu. Sudah cukup, ada korban, dan jangan sampai lagi ada yang senasib dengan almarhum," harapnya.

Warga Pejompongan jadi Korban Pengeroyokan

Sosok Bambang Setiawan, korban meninggal akibat dikeroyok orang tak dikenal di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026). Nizar/tirto.id.

Seorang Siswa Diseret dan Dianiaya Pascademo DPR

Nasib tidak menyenangkan juga dialami Faturrohman (18). Siswa kelas 12, yang dikenal sebagai qari ini, menjadi korban salah tangkap dan penganiayaan fisik usai kericuhan di dekat rumahnya pada Kamis (27/8/2026) malam.

Perwakilan keluarga Faturrohman, Fahmi, mengatakan, kejadian bermula sekitar pukul 23.00 WIB. Korban saat itu hendak menyusul ibunya ke masjid, sesuai perintah orangtuanya untuk mengamankan diri dari keramaian massa.

Namun, ketika berada di dalam gang permukiman dekat rumah, Fatur, sapaan Faturrohman, tertimpa sepeda motor dan langsung ditangkap dua orang berbadan besar. Ia langsung ditarik paksa dan diseret keluar gang menuju Jalan Raya Pejompongan.

Dalam posisi diseret dari gang permukiman ke jalan raya utama, Fatur dianiaya bertubi-tubi. Ia dipukul, ditendang, diinjak, dan ditusuk menggunakan benda tajam oleh sekelompok orang tak dikenal di jalan raya.

"Dari semalaman ini ibunya menangis karena enggak pulang-pulang, di masjid enggak ada. Dari pukul 23.00 WIB sampai subuh ibunya menangis karena enggak pulang-pulang gitu kan," ucapnya di Pejompongan, Sabtu.

"Tiba-tiba dari warga ada ngirimin video ya. Iya wajahnya [Fatur]. Saya juga yakin karena itu kan ada suara teriakan mengeluh kesakitan dari Fatur, itu suara Fatur," lanjutnya.

Ibu korban berhasil menemui Fatur di Polda Metro Jaya, Jumat (28/8/2026) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Sebelumnya, ibu korban mencari anaknya semalaman karena tidak kunjung pulang.

Fahmi bilang, dampak penganiayaan tersebut juga langsung merugikan masa depan pendidikan Fatur. Akibat luka fisik yang parah dan trauma berat, korban dipastikan terhalang mengikuti tryout Tes Kemampuan Akademik.

Pihak sekolah dan keluarga mendesak pihak kepolisian, baik Polda Metro Jaya maupun Mabes Polri, untuk bertanggung jawab atas nasib pendidikan muridnya yang terhambat.

"Ini kan anak bangsa, aset anak bangsa. Fatur ini terhambat pendidikannya. Kami belum bicara hukum dulu, tapi bagaimana tanggung jawab terhadap pendidikannya?" tegas Fahmi.

Warga Pejompongan jadi Korban Pengeroyokan

Anak almarhum Bambang, Yoga (29) saat ditemui wartawan di kediamannya, Pejompongan, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8/2026). Nizar/tirto.id.

Kronologi Versi Polisi Soal Kematian Almarhum Bambang

Sebelumnya, Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang pria yang ditemukan pingsan di lokasi kerusuhan pascaaksi penyampaian pendapat di kawasan Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026). Pria tersebut diketahui merupakan Bambang.

Berdasarkan keterangan polisi, Bambang dilaporkan meninggal dunia saat menjalani penanganan medis di Rumah Sakit Mintohardjo.

Kerusuhan itu meletus di wilayah Pejompongan hingga Bendungan Hilir usai rangkaian penyampaian aspirasi di sekitar gedung DPR/MPR RI berakhir. Kepolisian menyatakan, sebagian kelompok massa tidak dikenal mendatangi lokasi dan melakukan perusakan fasilitas umum serta menyerang petugas.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyatakan, kepolisian mendapat laporan terkait meninggalnya seorang pria di lokasi kerusuhan.

"Kami mengetahui bahwa di lokasi itu masih terjadi kerusuhan sehingga Polri pun untuk melakukan evakuasi harus melihat, menghitung, evakuasi tersebut aman bagi petugas yang melakukan evakuasi," ujar Budi dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Budi menambahkan, korban sempat dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Rumah sakit terdekat adalah Rumah Sakit Mintohardjo. Dibawa ke rumah sakit, tapi pada saat penanganan di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia," tambah Budi.

Usai dinyatakan meninggal dunia, jenazah korban dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati pada malam hari sekitar pukul 23.30 WIB untuk proses identifikasi dan visum.

Penyidik juga telah bertemu langsung dengan anak kandung almarhum, namun pihak keluarga menolak permohonan kepolisian untuk melakukan tindakan autopsi.

"Tadi pagi, kami juga bertemu dengan pihak keluarga almarhum, anak kandung. Yang bersangkutan tidak bersedia untuk dilakukan autopsi," katanya.

"Kami tetap melakukan mengajukan permohonan untuk dilakukan autopsi untuk diketahui penyebab kematian. Ini juga ditolak oleh pihak keluarga dan sudah mengeluarkan surat pernyataan," jelas Budi.

Sementara itu, terkait kasus penganiayaan yang dialami Faturohman, pihak Polda Metro Jaya belum memberikan keterangan. Tirto berupaya menghubungi Kombes Budi Hermanto, tetapi belum direspons.

Konferensi pers terkait penanganan aksi 27 Agustus

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin (kedua kiri) didampingi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto (kedua kanan), Direktur Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pidana Perdagangan Orang (PPA dan PPO) Polda Metro Jaya Kombes Pol Rita Wulandari Wibowo (kiri), dan Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya AKBP Onkoseno Grandiarso Sukahar (kanan) menyampaikan keterangan pers terkait perkembangan penanganan situasi pascaaksi 27 Agustus, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Polda Metro Jaya mengamankan sebanyak 322 orang yang diduga terlibat dalam kericuhan dan perusakan fasilitas umum pascakegiatan penyampaian pendapat di depan Gedung DPR/MPR pada Kamis (27/8), dengan rincian sebanyak 162 orang merupakan kelompok dewasa sementara 160 orang sisanya tergolong anak dan remaja. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/wsj.

Baca juga artikel terkait DEMO DPR atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Andrian Pratama Taher