Drama Pengadangan Neno Warisman dan Ancaman Intel di Pekanbaru

Oleh: M. Ahsan Ridhoi - 29 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Neno menceritakan detik-detik pengadangan dan pemulangan dirinya. Ia berdalih diancam intel tapi tak menjelaskan dari mana ia tahu aparat itu seorang intel.
tirto.id - Neno Warisman bersama sejumlah penggawa gerakan #2019GantiPresiden mengadu kepada Pimpinan DPR, pimpinan Komisi I, dan sejumlah anggota Komisi III. Ia tak terima dengan pengadangan dan pemulangan yang dilakukan Badan Intelijen Negara saat hendak menghadiri deklarasi #2019GantiPresiden di Pekabaru, Riau, akhir pekan lalu.

Seusai mengadu, Neno membeberkan kronologi pengadangan dan pemulangan dirinya kepada wartawan. Neno menuding banyak keganjilan dari mulai dia mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, hingga pemulangan paksa.

Tepat sesaat setelah mendarat sekitar pukul 15.30, Neno mengklaim didatangi empat perwira TNI berpangkat melati tiga. Perwira itu, klaim Neno, memintanya untuk kembali ke Jakarta dan membatalkan deklarasi #2019GantiPresiden. Neno tak menghiraukan dan lantas naik ke dalam mobil salah seorang relawan yang menjemputnya.

Saat itu, menurut cerita Neno, dirinya didampingi aktivis Ganti Presiden Syamsul Balda, Wasekjen Gerakan Ganti Presiden Akmal, dan sepasang suami istri yang menjemputnya, Lukman dan Diana Tabrani.

“Ketika masuk mobil, baru jalan kira-kira 20 meter, sudah ada banyak orang. Ramai sekali. Bersaf-saf begitulah. Tapi kemudian wasekjen menepis orang-orang itu supaya kemudian mobil kami bisa jalan,” kata Neno usat pertemuan di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa kemarin (28/8/2018).



Upaya yang dilakukan Akmal sia-sia. Mobil yang ditumpangi Neno tetap tak bisa bergerak meninggalkan bandara dan mentok di depan pagar yang telah dijaga polisi. Neno mengklaim, sejumlah polisi wanita yang ada di depan pagar kemudian mengarahkan kamera dan memotret dirinya. Tak berselang lama, menurut Neno, pimpinan kepolisian, BIN, tentara, sampai bandara, bergiliran menghampirinya yang berada di dalam mobil.

“Mereka mengatakan ‘ini tidak aman, ini tidak aman. Dan ibu harus kembali ke sana. Harus kembali.’ Jawaban saya sama, saya bilang ‘ibu bapak saya harus keluar, saya sabar menunggu bapak-bapak menyelesaikan massa yang mungkin sedang menunjukkan sesuatu’,” ucap Neno.

Sejam berselang, Neno mengatakan, mobil yang ditumpanginya mulai dilempari botol air mineral. Setelah itu, seorang yang disebut Neno sebagai intel, menghampiri dirinya. Saat menyebut tentang intel ini. Neno tak menjelaskan dari mana dia tahu lelaki tersebut intel atau bukan. Lelaki tersebut kemudian menghampiri dirinya dari kaca sebelah kiri mobil, dan kemudian mengancamnya.

“Dia bilang, ‘ibu punya keluarga kan? Saya juga punya keluarga. Ibu punya anak-anak?’ Gitu. Terus saya tanya ke dia. ‘Bapak mengancam?’ ‘Iya,’ ‘tapi ini ibu harus kembali. Ini tidak aman.’ ‘Pak, ini biasa saja. Ini anak-anak. Nanti sebentar juga mereka akan bubar,” klaim Neno menuturkan cerita percakapannya dengan seorang lelaki yang dia sebut sebagai intel.

Bersamaan dengan percakapan itu, menurut Neno, terdapat seorang pemuda mabuk yang naik ke atas pagar dan beberapa orang membakar ban. Saat mengatakan soal ini, Neno pun tak menjelaskan bagaimana dia tahu pemuda tersebut mabuk atau tidak karena dirinya berada di dalam mobil.

Ia kemudian mengatakan “yang saya pikirkan, ini tentu ingin membuat seolah-olah ada rusuh, padahal kami benar-benar mencintai perdamaian. Tidak menginginkan apa pun yang buruk.”

Sekitar pukul 17.00, Neno menyebut, polisi mulai memasang garis polisi, mensterilkan massa, dan hanya menyisakan rombongannya di dalam mobil. Sejam berselang, Neno mengatakan, Wasekjen Ganti Presiden Akmal sempat dipukuli beberapa orang setelah mengantar Diana Tabrani ke kamar mandi.

“Saya lihat Mas Akmal melintas di depan saya menyeberang, lalu ada segerombolan orang membawa Bang Akmal dan memukuli Bang Akmal, lalu saya ambil video,” jelas Neno.



Berselang beberapa saat, kata Neno, seorang utusan Laskar Melayu Bersatu menghampirinya dan menyatakan bakal membawanya keluar dari kawasan bandara. Namun, utusan itu tak pernah kembali setelah ikut dalam negosiasi aparat dengan massa penolak Neno.

Sekitar pukul 19.00, negosiasi yang dilakukan aparat dengan massa masih berlangsung. Neno menyebut, Lukman yang menjemputnya di bandara kemudian turun dari mobil lantaran penasaran dengan apa yang sedang dinegosiasikan. Tak berselang lama, Lukman masuk ke dalam mobil sambil berkata: “Enggak tahan saya dengar negosiasinya. Kalau jam 9 malam enggak keluar juga, kita mau ditimpukin batu. Terus nanti dikuliti saja.”

Pukul 21.00, kata Neno, pelemparan batu benar-benar terjadi dan mengakibatkan kaca mobil milik Lukman, retak. Sejumlah aparat, kata Neno, kemudian menghampiri mobil yang mereka tumpangi dan memaksa mereka untuk turun. Syamsul Balda, Diana, dan Lukman akhirnya turun dari mobil. Hanya dirinya, klaim Neno, yang masih berkeras tinggal di dalam mobil.

“Saya ingin tetap berada di sini. Tapi melihat situasinya, saya bilang ke ibu polwan, ‘jangan perlakukan saya dengan memaksa. Saya mau turun dengan kemauan sendiri. Saya minta mana Budi, utusan dari lembaga Riau. Datuk Budi mana? Yang katanya mau negosiasi.’ Terus hujan batu lagi. Akhirnya yang punya mobil datang lagi, memelas. Kemudian Pak Syamsul sudah isyarat itu mengatakan sudah. Saya tanya, mau ke mana saya dibawa? Karena saya mau ke hotel, saya tidak mau ke bandara,” kata Neno.

Seseorang, kata Neno, mengatakan kepadanya akan membawa ke hotel. Ia pun turun dan pindah mobil sekitar pukul 22.43. Namun, mobil ternyata membawanya ke bandara.

“Lalu saya buat video. Lalu saya bilang, ‘oh ada yang jaga senjata.’ Terakhir saya bilang ke polwan itu, ‘saya enggak butuh roti, saya butuh keadilan.’ Kemudian saya salat. Saya bilang, ‘saya enggak mau pulang sebelum mendoakan bapak-bapak di bandara.’ Saya doakan juga pemerintah hari ini agar punya hati nurani. Kemudian saya doakan Pak Kabinda. Saya bilang sempat ke Pak Kabinda, ‘kebenaran di dunia ini kita tidak tahu’,” kata Neno memungkasi cerita.

Infografik CI Persekusi Karena keyakinan


Cerita nyaris sama juga disampaikan Johnny Sang Alang dan Ellyda. Keduanya mengklaim berada di lokasi saat terjadi pengadangan terhadap Neno. Keduanya mengklaim sempat mengikuti negosiasi dengan aparat keamanan dan mengalami intimidasi selama negosiasi berjalan.

Alang mengklaim sempat diancam dibunuh oleh petugas BIN yang ikut negosiasi. "Mereka bahkan melihatkan senjata ke saya buat mengancam," kata Alang.

Sementara, Ellyda mengaku mendengar Danrem yang turut dalam negosiasi mengatakan petugas tidak mungkin membiarkan rombongan Neno keluar bandara lantaran ancamannya pemecatan dari instansi.

Juru Bicara BIN Wawan Hari Purwanto melalui keterangan tertulisnya pada Senin (27/8/2018) telah mengakui keterlibatan pihaknya dalam pengadangan dan pemulangan Neno. Ia mengklaim tindakan itu dilakukan karena BIN yang diwakili Kabinda (Kepala BIN daerah) di Pekanbaru harus mengambil langkah preventif untuk menghindari hal yang tak diinginkan.

Saat kembali dihubungi pada Selasa kemarin, Wawan menjelaskan keberadaan BIN dalam kasus Neno sebenarnya untuk memastikan keselamatan Neno.

“Jadi lebih cenderung untuk memastikan bahwa [Neno] ini aman. Mbak Neno tidak dalam kondisi terluka atau apa, karena kan ada pelemparan yang kena hanya mobilnya. Mbak Neno harus dalam kondisi aman, tidak boleh tidak. Itu harus dipastikan karena itu tugas kabinda,” kata Wawan kepada Tirto.

Ia pun mengatakan, keberadaan aparat intelijen di daerah menurutnya tidak tampak ke publik. Aparat BIN daerah yang boleh muncul hanya Kabinda.

“Kabinda kan pejabat publik, berbeda dengan agen. Agen tertutup, dia tidak akan muncul, tapi kalau yang namanya kabinda itu dia masuk forum-forum pemda. Jadi misal ada pertemuan gubernur, unsur terkait dari pemda, itu pasti ada,” kata Wawan.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi
(tirto.id - Hukum)

Reporter: M. Ahsan Ridhoi
Penulis: M. Ahsan Ridhoi
Editor: Mufti Sholih
DarkLight