20 April 1912

Dracula adalah Misteri Terbesar Bram Stoker

Oleh: Aulia Adam - 20 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Leher berkerah.
Pangeran haus darah
membuka kisah.
tirto.id - “Tak ada foto Bram Stoker yang tersenyum,” tulis David J. Skal dalam Something in the Blood: The Untold Story of Bram Stoker, the Man Who Wrote Dracula (2016).

Seumur hidupnya, foto potret Stoker selalu tampak serius, dan seringnya seperti terkejut. Sejak kecil, menurut Skal, Stoker memang tak pernah terlihat akrab dengan kamera. Satu-satunya foto masa kecil Stoker yang selamat menunjukkan seorang bocah delapan tahun berpakaian terbalik dengan tatapan tak nyaman ke arah kamera.

Ketidaknyamanan dengan kamera itu, entah sengaja atau tidak, juga tertuang dalam novel legendaris Stoker: Dracula.

Tokoh utamanya, Count Dracula, juga diceritakan punya masalah dengan kamera. Bayangannya tak pernah ditangkap kamera dengan sempurna. Hanya menciptakan foto kabur. Para pelukis juga selalu meleset membaca garis tulang tengkorak sang Dracula, sehingga tak pernah ada lukisan potret yang menyerupai wajahnya. Hal itu terjadi karena alasan mistis: karakter fiksi rekaan Stoker ini adalah vampir—makhluk penghisap darah.

Untuk waktu yang lama, sifat vampir yang tak akrab dengan kamera kemudian jadi wawasan kolektif yang dipelihara ramai-ramai. Orang-orang akan mengasosiasikan vampir dengan Dracula, seolah-olah Bram Stoker adalah pencipta pertamanya.

Tak cuma mitos tentang vampir yang tak bisa dibaca kamera, karakteristik lain Dracula sebagai vampir juga diadopsi banyak sekali kisah-kisah vampir berikutnya. Misal, ketakutan pada bawang putih, vampir yang bisa berubah jadi kelelawar, atau tidur dalam peti.

Bisa dibilang, novel gotik Stoker yang dirilis 1897 ini adalah salah satu karya sastra paling berpengaruh pada budaya populer, khususnya pada narasi vampir.

Sampai sekarang, Dracula sudah tampil di lebih dari 200 film. Tiga yang paling dikenal adalah adaptasinya dengan judul sama pada 1931, 1958, dan 1992. Aktor Bela Lugosi, Christopher Lee, dan Gary Oldman adalah tiga aktor yang dicatat budaya populer berhasil memerankan sang Count dari Transylvania itu.

Mengenal Bram Stoker

Stoker lahir di Clontarf sebuah pinggiran kota di utara Dublin, Irlandia, pada 8 November 1847. Ia anak ketiga dari tujuh bersaudara sebuah keluarga Kristen yang taat. Karier menulis Stoker dimulai pada 1867, ketika ia menjadi kritikus teater untuk Dublin Evening Mall.

Salah satu karyanya yang paling meledak adalah resensi tentang penampilan Sir Henry Irving, aktor Inggris era Victoria, saat memainkan Hamlet di Theater Royal, Dublin.

Tak dinyana, resensi itu rupanya membuka pertemuan Stoker dan Irving—orang yang sering disebut-sebut sebagai inspirasi terciptanya Count Dracula. Dalam The Everything Vampire Book (2008), deskripsi fisik Dracula disebut sama persis seperti Irving. Bahkan konon, karakter jahat Dracula juga terinspirasi dari Sir Henry Irving yang bertemperamen buruk.

Stoker dan Irving memang jadi akrab setelah resensi itu. Sang kritikus akhirnya juga direkrut jadi manajer sang aktor dan diminta mengelola Lyceum Theater, teater milik Irving di London. Kepindahan Stoker ke London membuat ia mudah masuk kelas atas bangsawan Inggris. Nama Stoker kian melambung sebagai penulis.

Ia berteman dengan penulis-penulis kenamaan masa itu: James Abbott Whistler, Sir Conan Arthur Doyle, Walt Whitman, dan Ármin Vámbéry. Ia juga bisa keliling dunia, ikut dalam tur Irving, dan sempat bertemu Presiden Amerika Serikat William McKinley dan Theodore Roosevelt.

Skal menulis, Stoker memang dikenal sebagai pribadi yang ramah dan baik semasa hidupnya. Ia juga “punya humor bagus ala orang Irlandia”. Meski begitu, Stoker juga dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup. Ia memang menulis jurnal. Tapi, isinya tak benar-benar menceritakan keseluruhan fakta hidup Stoker.

Di balik hidup glamor sebagai penulis terkenal sekaligus manajer sebuah teater ternama, ada rahasia besar yang dipendam Stoker.

Menurut para sarjana peneliti Dracula, Stoker adalah sosok misterius yang kehidupannya menarik dikulik, sebab menyimpan misteri. Misalnya kisah pernikahannya dengan Florence Balcombe, seorang anak kolonel, yang kata Skal tak terlalu bahagia di atas ranjang.

Mereka memang punya seorang putra tunggal bernama Irving Noel Thornley Stoker. Tapi, menurut Skal, pernikahan Stoker dan Balcombe nyaris tanpa seks. Penyebabnya adalah orientasi seksual Stoker.



Kedekatan Stoker dan Irving akhirnya mengundang spekulasi: keduanya terlalu dekat untuk disebut sekadar kawan. Tapi, tak pernah ada bukti kuat tentang spekulasi tersebut. Tak ada juga bukti jelas yang mensahihkan Irving sebagai sosok yang menginspirasi terciptanya Count Dracula. Namun, sisi lain Stoker sebagai seorang homoseksual terepresi sudah ditangkap banyak sarjana.

Sering kali, “hasrat Stoker dipenjarakan dalam teks-teks rahasia,” ungkap Kaya Genç dalam Coming Out of the Coffin. “Kisah hidup pribadinya sukar terbaca, tertutup layar tebal.” Tapi menurut Kaya, Stoker adalah ahli kode yang hebat. Ia memang tidak blak-blakan menuliskan kisahnya sendiri, melainkan lewat banyak teka-teki dan fiksi.

Kaya mencontohkan pengalamannya membaca jurnal Stoker. “Dengan membacanya, Anda mungkin tidak mendapatkan sedikit pun petunjuk tentang hubungan Stoker dengan pria-pria,” ungkap Kaya. Menurutnya, kealpaan itu justru sebuah kode yang nyalang dari Stoker—fakta bahwa ada yang tersirat dalam jurnal dan fiksi-fiksi Stoker. Kondisi sosial-politik masa itu memang harus membuatnya demikian.

Ratu Victoria dan pemerintahannya membenci homoseksual. Ia menambahkan Klausul 11 dalam Criminal Law Amandement Act 1885 yang melarang praktik oral seks antar-pria. Sementara praktik anal seks sudah lebih dulu ilegal. Sebagai orang terpandang, Stoker jadi punya tekanan lebih untuk menjaga citranya.

“Kenapa Bram Stoker, seorang juru tulis di Kastil Dublin yang kemudian jadi manajer teater sukses di London sangat berobsesi menuliskan detail hidupnya, jika dia benar-benar sangat tertutup?” kata Kaya. Menurutnya, selalu ada pesan-pesan yang coba Stoker sampaikan.

Ia mencontohkan karakter Jonathan Harker dan Reinfield di Dracula. Dua-duanya karakter yang menulis catatan harian, dengan sifat yang bertolak belakang: satunya pria sehat, lainnya orang sinting yang jahat. Menurut Kaya, tabiat Stoker yang senang mendokumentasikan hari-harinya dalam jurnal terekam dalam dua karakter tersebut.

Count Dracula sendiri, menurut Talia Schaffer dalam “A Wilde Desire Took Me: The Homoerotic History of Dracula”, adalah proyeksi dari kisah hidup Stoker sebagai homoseksual yang direpresi.

Dracula mengeksplor ketakutan dan kegelisahan Stoker sebagai seorang homoseksual yang masih tinggal di kloset selama persidangan Wilde,” ungkap Schaffer.

Wilde yang dimaksudnya adalah Oscar Wilde, penulis kenamaan asal Irlandia yang tenar di era Victoria. Karya paling dikenal dari Wilde adalah novelnya The Picture of Dorian Gray, kisah tentang seorang pria luar biasa tampan yang menukar jiwanya demi hidup abadi. Novel itu juga punya unsur homoerotika.

Infografik Mozaik Bram stoker

Kedekatan dengan Oscar Wilde

Tak banyak yang tahu, Stoker mulai menulis Dracula sebulan setelah Oscar Wilde dinyatakan bersalah atas tuduhan praktik sodomi. Menurut Schaffer, pengaruh Wilde pada Stoker telah diabaikan banyak Stokerian—sebutan untuk para peneliti Stoker. Sebagian karena banyak informasi biografi Stoker telah lenyap.

Meski nama Wilde dihapus pelan-pelan dari semua teks Stoker yang terbit dan tidak terpublikasi, “Tak ada hal yang bisa dijauhkan dari kebenaran,” tulis Schaffer. “Dua lelaki itu punya sejarah yang intim dan bervariasi—yang berlangsung paling tidak selama dua puluh tahun.”

Penghapusan Wilde yang dilakukan Stoker bukan sama sekali tak terbaca. Menurut Schaffer, kisah cinta segitiga Harker, Mina, dan Dracula adalah refleksi dari kisah cinta segitiga Wilde, Balcombe, dan Stoker. Sebelum menikah dengan Stoker, Balcombe memang pernah punya hubungan dengan Wilde.

Hubungan Stoker dan Wilde yang intens tetap jadi tanda tanya banyak orang, karena keduanya tetap berteman meski Balcombe lebih memilih Stoker. Tapi, kondisi sosial-politik yang mencekam buat pria gay memaksa Stoker menjauhkan diri dari Wilde yang lebih ekspresif dan pemberontak.

“Jika kehidupan Wilde adalah pengakuan yang panjang, berseni dan jujur tentang hasrat pria untuk pria lain,” ungkap Kaya, “maka kerahasiaan dan keengganan Stoker berhasil melakukan hal yang sebaliknya. Dia menyembunyikan hasratnya dengan bentuk-bentuk sastra yang rumit.”

Sifat misterius itulah yang membuat nama Stoker terus diperbincangkan hingga ia meninggal pada 20 April 1912, tepat hari ini 106 tahun lalu, dan tetap dibicarakan sampai kini. Seperti Dracula, tokoh fiksi yang direkanya, Stoker juga dikenang sebagai misteri yang takkan pernah terjawab sempurna.

Baca juga artikel terkait NOVEL TERLARIS atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
a