Menuju konten utama

Dirut BEI Mundur, Purbaya: Saatnya Serok!

Purbaya nilai mundurnya Iman Rachman akan jadi sinyal positif bagi pelaku pasar modal.

Dirut BEI Mundur, Purbaya: Saatnya Serok!
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan wartawan saat media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (31/12/2025). Menteri Keuangan menyatakan optimis ekonomi nasional bisa tumbuh enam persen yang didukung dari Bank Indonesia dalam mendorong perekonomian nasional pada 2026. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

tirto.id - Mundurnya Iman Rachman dari jabatan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) disambut positif oleh pasar. Sebab, langkah ini dinilai sebagai upaya pertanggungjawaban Iman terhadap kondisi bursa belakangan yang anjlok pasca dirilisnya laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Karena itu, ia pun menyarankan para investor saham untuk sebanyak-banyaknya membeli saham.

“Ini positif kalau orang yang ngerti. Buy, serok-serok,” kata dia sembari berkelakar kepada awak media di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (30/1/2026).

Selain mundurnya Iman Rachman dari pucuk pimpinan bursa, upaya perbaikan pasar modal melalui kebijakan demutualisasi serta peningkatan batas free float saham menjadi 15 persen dinilai akan memberikan sinyal positif ke pasar keuangan global ke depannya. Dengan demikian, seiring pasar modal Indonesia yang semakin berkembang, jumlah investor yang masuk juga akan semakin banyak, baik ke pasar modal maupun ke sektor riil.

“Jadi, yang ragu-ragu mestinya akan lebih yakin bahwa arah ke depan adalah lebih baik. Jadi, mereka (investor) akan investasi di pasar modal maupun di sektor riil, di FDI (Foreign Direct Investment/Penanaman Modal Asing),” lanjut Purbaya.

Sebelumnya, mantan anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (DK LPS) itu meyakini anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir hanya bersifat sementara, lantaran fondasi ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat. Meski begitu, ia menyarankan investor yang khawatir terhadap kondisi ini untuk beralih ke saham-saham blue chip—saham perusahaan berfundamental kuat dengan kinerja apik.

“Yang besar-besar kan masih ada, yang saham-saham yang blue chip itu kan naiknya belum terlalu tinggi. Kalau ada yang takut, lari aja ke situ,” kata dia kepada awak media di selasar Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2026).

Meski begitu, menurutnya, anjloknya pasar saham terjadi karena pasar cukup terkejut (shock) dengan kemungkinan bahwa pasar saham Indonesia dianggap sebagai pasar frontier. Sebagai informasi, pasar frontier merupakan tingkatan pasar modal di sebuah negara yang lebih maju dibandingkan negara termiskin (underdeveloped), namun masih belum cukup berkembang, likuid, atau terbuka untuk dikategorikan sebagai emerging market (pasar berkembang). Dalam klasifikasi MSCI (Morgan Stanley Capital International), pasar frontier berada satu tingkat di bawah emerging market dan di atas negara-negara yang sangat terbelakang.

Namun, jika kondisi tersebut didorong oleh praktik saham-saham gorengan di pasar modal domestik, ia mengaku telah lebih dulu memperingatkan Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk memperkuat pasar modal Indonesia sekaligus mempertebal kapitalisasi pasar, pembersihan lantai bursa dari praktik saham gorengan dinilai menjadi sebuah keniscayaan.

“Ini jelas shock sementara karena fundamental kita gak masalah. Kalau yang jatuh bursa saham-saham gorengan kan saya udah ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan,” lanjut Purbaya.

Baca juga artikel terkait MENTERI KEUANGAN PURBAYA YUDHI atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana