Menuju konten utama

Dinkes Sleman Lakukan Penyelidikan Epidemiologi pada Program MBG

Penyelidikan imbas keracunan MBG di SMPN 3 Berbah yang menimbulkan 137 korban, terdiri dari 135 siswa dan 2 guru.

Dinkes Sleman Lakukan Penyelidikan Epidemiologi pada Program MBG
Sebanyak 135 siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Tirto.id/Abdul Haris

tirto.id - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, mengungkap pihaknya telah melakukan penyelidikan epidemiologi terkait kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 3 Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebab insiden itu menimbulkan 137 korban, terdiri dari 135 siswa dan dua guru.

"Tim kami melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap penyebab kemungkinan keracunan makanan tersebut," kata Cahya saat dikonfirmasi oleh kontributor Tirto melalui sambungan telepon, pada Kamis (28/8/2025).

Cahya menjelaskan saat tiba di lokasi, tim langsung melakukan intervensi lingkungan dan mengambil sampel makanan untuk mencegah perluasan kasus.

"Setelah itu kemudian kita juga melakukan rekomendasi, terhadap pelaku itu tadi misalnya oh ternyata airnya nih yang mengandung [bakteri] E. coli yang harus di intervensi," bebernya.

Dia juga mengaku telah berkoordinasi dengan Satgas MBG dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga korwil terkait dengan keracunan makanan.

Cahaya menjelaskan saat MBG akan dikirimkan, pihak dapur telah melakukan pengecekan guna memastikan kondisi makanan dalam keadaan aman sebelum diantar ke sekolah.

“Saat tiba di sekolah, seharusnya memang ada guru yang melakukan testing dengan menggunakan panca indera. Namanya buka dicicipi, tapi tes organoleptik yang menggunakan panca indera dengan dilihat, dicium, dan dirasakan," terangnya.

Sementara itu, Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Gunanto, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengambil sampel MBG yang dikonsumsi oleh siswa SMPN 3 Berbah.

“Sampel tersebut diperoleh dari makanan yang memang disiapkan dari penyedia,” jelas Gunanto.

Sample lainnya yang turut diambil sampel air dari SPPG Jogotirto selaku penyedia. Sampel tersebut dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta.

Berdasarkan hasil wawancara lalu, kata Gunanto, ada jeda waktu cukup panjang dari makanan diterima hingga akhirnya dikonsumsi.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengaduan Masyarakat Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba, mendesak agar Badan Gizi Nasional (BGN) mencabut izin operasional SPPG sebagai pihak penyedia jasa yang terbukti lalai dalam proyek MBG.

“Dengan kembali terjadinya kasus keracunan massal di Kabupaten Sleman ini ditenggarai pihak SPPG sebagai penyedia jasa diduga lalai dalam hal penyediaan MBG yang kali ini menimpa ratusan guru dan siswa SMP Negeri 3 Berbah,” ujar Kamba.

Menurut Kamba, manfaat terpenting dari MBG bukan hanya mengejar target penerima manfaat dari proyek MBG tetapi keselamatan dari siswa dan guru itu yang lebih utama.

“Nggak ada lagi toleransi soal itu karena menyangkut nyawa manusia dalam hal ini guru dan anak-anak,” lanjutnya.

Ia meminta kepala daerah kabupaten/kota) di Provinsi DIY untuk melakukan intervensi terhadap SPPG yang terbukti lalai dalam proyek MBG.

“Jangan sampai nanti ada korban jiwa karena konsumsi menu MBG, baru ada tindakan dan saling lempar tanggung jawab,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KASUS KERACUNAN atau tulisan lainnya dari Abdul Haris

tirto.id - Flash News
Kontributor: Abdul Haris
Penulis: Abdul Haris
Editor: Siti Fatimah