Dikti: Kasus Dwi Hartanto Contoh Masalah Integritas Akademis

Oleh: Addi M Idhom - 9 Oktober 2017
Dibaca Normal 1 menit
Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) menilai skandal informasi prestasi akademis Dwi Hartanto, yang ternyata abal-abal, merupakan contoh masih buruknya integritas di lingkungan akademis Indonesia.
tirto.id - Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ikut angkat bicara mengenai terkuaknya kasus kebohongan Dwi Hartanto soal prestasi akademisnya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek, Dikti, Ali Ghufron Mukti menilai kebohongan Dwi kepada publik merupakan salah satu contoh masalah integritas akademis di Indonesia.

Belum lama ini, Mahasiswa doktoral di Technische Universiteit Delft Belanda itu meminta maaf karena sudah melebih-lebihkan informasi terkait pribadi, kompetensi dan prestasi akademisnya. Pernyataan Dwi itu muncul setelah informasi tentang prestasi akademisnya yang mentereng terlanjur menyebar ke media dan lalu memancing banyak kritikan.

"Kami ingatkan Dwi Hartanto, dalam bertindak harus diingat konsekuensi dan tanggung jawab atas tindakan itu. Kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi Dwi," kata Ghufron di Jakarta pada Senin (9/10/2017) seperti dikutip Antara.

Baca juga: Dwi Hartanto Meminta Maaf Soal Klaim Prestasi di Belanda

Ghufron berpendapat skandal Dwi Hartanto ini menunjukkan masih buruknya integritas di lingkungan akademis Indoensia sehingga perlu segera dicari solusinya.

"Ini tantangan, permasalahan akademis kita ini di dalamnya termasuk integritas. Beberapa bulan belakangan ini pun bisa didapati contoh atau praktik di perguruan tinggi yang tidak sama sekali mengindahkan integritas," kata dia.

Menurut dia, kasus Dwi Hartanto akan menjadi bahan evaluasi kementeriannya. Hal ini karena Dwi adalah salah satu peserta Visiting World Class Professor. Program ini digagas oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek, Dikti.

Ghufron berjanji Dikti akan mengevaluasi program yang sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi tersebut.

"Kami terus melakukan evaluasi yang berkelanjutan, tidak hanya pada program ini, tetapi kepada seluruh program dan kebijakan," kata dia.

Ghufron berharap Dwi segera memperbaiki diri dan integritasnya, serta kembali mengembangkan potensi miliknya. Menurut dia, sebagai akademikus, Dwi masih memiliki potensi untuk berkembang.

"Janganlah kemudian menghakimi, tetapi arahkan dan berikan kesempatan, jalan karir Dwi masih panjang mari ditegur, ingatkan dan bantu ke arah yang baik," kata dia.

Dwi pernah mengaku menjadi kandidat doktor bidang space technology & rocket development. Faktanya, dia menempuh studi doktor di bidang interactive intelligence dari Department Intelligent of Systems, TU Delft, Belanda.

Dia juga pernah mengklaim bersama timnya merancang bangun Satellite Launch Veihicle. Tapi, surat bermaterai dan permohonan maaf dari Dwi tertanggal Sabtu (7/10/2017), menjelaskan posisinya tidak lebih dari bagian proyek amatir mahasiswa di kampusnya.

"Proyek ini bukan proyek dari Kementerian Pertahanan Belanda, bukan proyek Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda (NLR), bukan pula proyek Airbus Defence ataupun Dutch Space," kata Dwi dalam suratnya itu.

Baca juga: Skandal Dwi Hartanto dan Pantangan Etis Para Peneliti

Berbagai informasi tidak benar soal prestasi, yang selama ini diklaim oleh Dwi, sempat membuatnya menerima penghargaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Belakangan, KBRI Den Haag mencabut penghargaan itu.

Pencabutan itu dilakukan setelah alumni dan PPI Delft menginvestigasi berbagai klaim prestasi Dwi. Hasil investigasi itu mementahkan semua klaim pencapaiannya, mulai dari fakta soal pertemuannya dengan BJ Habibie, latar belakang pendidikan hingga prestasi akademisnya di bidang antariksa.

Baca juga artikel terkait DWI HARTANTO atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Pendidikan)

Sumber: antara
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom
a