Dedi Mulyadi Bisa Diganjal Penistaan Agama di Pilgub Jabar

Dedi Mulyadi Bisa Diganjal Penistaan Agama di Pilgub Jabar
Ketua Komnas HAM Nurcholis berfoto bersama Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta) dan Jonas Salean (Walikota Kupang) setelah memberikan penghargaan walikota pembela kebebasan agama dan berkeyakinan (KBB). Foto/istimewa.
20 Maret, 2017 dibaca normal 1:30 menit
Pakar politik Universitas Padjajaran menilai pencalonan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi terancam diserang dengan tuduhan penistaan agama bila maju ke Pilgub Jabar 2018. Karena itu, Dedi disarankan membangun koalisi partai pengusung yang kuat.
tirto.id - Pengamat politik Universitas Padjajaran, Muradi berpendapat rencana pencalonan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di Pilgub Jawa Barat memang menjanjikan peluang kemenangan.

Akan tetapi, dia mengingatkan, salah satu kepala daerah yang selama ini getol mendukung keberagaman dan bersikap tegas menolak semua bentuk aksi intoleransi, itu perlu belajar ke nasib yang kini menimpa Calon Gubernur DKI Jakarta petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Muradi menyarankan agar Dedi mewaspadai ancaman serangan politik dalam bentuk tuduhan bahwa ia terlibat kasus penistaan agama. Apalagi, menurut Muradi, sentimen agama mudah disulut di Jawa Barat.

"Isunya lama lagi. Golkar (Dedi adalah Ketua DPD Golkar Jawa Barat) mengusung penista agama. ini perlu strategi agak lebih serius," kata Muradi kepada Tirto, pada Senin (20/3/2017).

Muradi mengapresiasi kerja keras Dedi selama ini yang gemar mengampanyekan keselarasan agama dan budaya di Purwakarta, terutama Islam dan Sunda. Namun, prestasi itu bisa menjadi bahan empuk untuk menyudutkan kredibilitas Dedi dalam pencalonan dirinya di Pilgub Jabar.

Oleh sebab itu, Muradi mendorong Dedi segera mengambil langkah untuk membentuk koalisi kuat partai pendukungnya di Pilgub Jabar 2018.

Saat ini Dedi memang belum secara resmi menyatakan akan maju ke Pilgub Jabar 2018. Akan tetapi, Muradi menilai hal ini sebagai sikap kehati-hatian Dedi saja. "Dia sedang membangun strategi."

Menurut Muradi, Dedy sudah mempunyai modal besar untuk memenangkan Pilgub Jabar. Dia tak hanya memegang kepemimpinan Golkar Jawa Barat, tapi juga merupakan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), salah satu organisasi mahasiswa muslim besar di Indonesia, dan anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi).

Sejumlah survei juga menyimpulkan elektabilitas Dedi di Pilgub Jabar moncer. Dedi, menurut Muradi, juga hampir bisa dipastikan menguasai dua dari lima basis suara di Jawa Barat, yakni Pantura dan Cirebon Raya.

"Yang lemah buat Dedi di Bandung Raya dan Priangan Barat. Priangan Timur 50:50," kata Muradi.

Sampai saat ini, Dedi belum menyatakan sikap untuk maju dalam Pilgub Jabar. Dedi mengakui, sebagai bupati dan ketua partai, komunikasi politik merupakan menu kesehariannya, namun sampai sejauh ini belum ada pembahasan apapun mengenai rencana pencalonan dirinya di Pilgub Jabar 2018.

"Tiap hari saya selalu berkomunikasi dengan temen-temen saya di partai politik karena mereka teman-teman saya. Sebagai Bupati dan Ketua Partai saya selalu komunikasi, politik biasa. Saya belum pernah ngomong dengan tokoh siapapun terkait Pilkada Jabar," kata Dedi hari ini.

Hingga sekarang, baru Ridwan Kamil yang resmi mendeklarasikan diri maju dalam Pilkada Jabar. Tapi, ia baru didukung Partai Nasdem dan perlu dukungan partai lain yang mewakili 20 persen kursi DPRD Jabar.

Baca juga artikel terkait PILGUB JABAR 2018 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - thr/add)

Keyword