Debat Pilgub Jabar: Saling Menahan Diri di Lintasan Terakhir

Oleh: Irfan Teguh - 23 Juni 2018
Dibaca Normal 6 menit
Ketegangan yang sempat muncul pada debat kedua diantisipasi oleh KPU Jabar dengan meniadakan segmen saling bertanya antar-paslon.
tirto.id - Berbeda dengan debat pertama dan debat kedua yang relatif lebih semarak karena diwarnai suguhan kesenian serta saling-lontar pertanyaan antar-paslon, debat Pilgub Jabar ketiga justru berjalan lebih datar dan sepi. Keriuhan hanya berasal dari yel-yel para pendukung keempat paslon.

KPU Jabar sebagai wasit dari rangkaian pesta demokrasi ini merancang jalannya acara dengan pendekatan yang meminimalkan ketegangan antar-paslon. Selain menghilangkan segmen penampilan kesenian yang otomatis mengurangi kemeriahan acara, KPU Jabar juga meniadakan segmen saling bertanya antar-kontestan yang pada debat kedua memicu situasi saling-serang.

Debat kali ini mengusung tema “Pembangunan Manusia yang Berkualitas untuk Kemajuan Jabar” dan dibagi ke dalam 6 segmen terdiri dari pemaparan program kerja dari para paslon, pertanyaan dari panelis kepada empat paslon, serta dipungkasi pernyataan terakhir dari masing-masing paslon. Kontestan juga diharuskan untuk menyerukan pilkada damai serta menyampaikan satu kata baik tentang ketiga paslon lainnya.

Setelah menyampaikan program kerjanya masing-masing yang disesuaikan dengan tema debat, para paslon mengambil nomor undian pertanyaan. Hasilnya, paslon nomor 4 (Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi) mendapat giliran pertama dengan tema Kesehatan dan Pendidikan, disusul paslon nomor 3 (Ahmad Syaikhu-Sudrajat) dengan tema Perempuan, Anak-anak, Pemuda, dan Disabilitas. Paslon nomor 2 (TB Hasanuddin-Anton Charliyan) mendapat tema Agama dan Ideologi, sedangkan paslon nomor 1 (Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum) dengan tema Budaya dan Pariwisata.

Setiap jawaban pertanyaan dari paslon, sesuai temanya masing-masing, seperti biasa ditanggapi oleh ketiga paslon lainnya. Pada sesi ini, debat agak hangat karena gagasan atau jawaban dari paslon dikritik oleh paslon yang menanggapinya.


Orang Sehat atau Rumah Sakit?


Pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, yang mendapat tema Kesehatan dan Pendidikan, memaparkan salah satu prioritas dalam bidang ini adalah memperbanyak rumah sakit rujukan tingkat provinsi di sejumlah titik di Jawa Barat. Program itu dimaksudkan agar warga Jawa Barat yang sakit tidak selalu dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin yang berada di Kota Bandung.

“Kita tidak mungkin bertumpu pada Rumah Sakit Hasan Sadikin saja, tetapi rumah sakit dibangun di empat wilayah sehingga akses masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit menjadi lebih dekat. Kemudian, perjalanan dari Garut terlalu jauh menuju Hasan Sadikin. Di setiap daerah harus dibangun rumah sakit rujukan sehingga seluruh pelayanan bisa berjalan dengan paripurna dan prima,” ujar Dedi Mulyadi yang pada debat kali ini tampil lebih dominan dibanding Deddy Mizwar.

Mereka juga menekankan perlunya memperhatikan kesejahteraan para dokter yang bertugas di setiap wilayah Jawa Barat. Bagi mereka, penggajian dokter semestinya dilakukan terbalik, bukan dokter yang di wilayahnya banyak pasien yang seharusnya mendapat gaji besar, tetapi justru dokter yang di wilayahnya sedikit terdapat pasien.

“Mendorong pertumbuhan dan percepatan pelayanan publik kesehatan. Dokter bukan hanya hadir di kota-kota, tetapi hadir di setiap desa, kemudian dokter berkunjung kepada masyarakat dalam setiap waktu dengan logika terbalik. Gaji dokter bukan hanya didasarkan pada jumlah pasien," lanjut Dedi. "Tetapi dibalik, semakin menurun jumlah pasien pada sebuah wilayah di mana dokter bertugas, maka gajinya meningkat karena dokter hidup dan berkembang kesejahteraannya sering dengan sejalan dengan tingkat kesehatan masyarakat,” tambah Dedi Mulyadi.

Menanggapi tema ini, pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan dan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu tak jauh berbeda dengan paparan pasangan 2 DM, yakni menambah jumlah rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya serta bertumpu pada pemberdayaan tenaga kesehatan.

“Kami membuat konsep membuat rumah sakit rujukan provinsi itu 4: di wilayah utara 1, barat 1, selatan 1, dan timur 1,” ujar TB Hasanuddin. Ujarannya sama persis dengan yang disampaikan oleh Dedi Mulyadi tentang penambahan rumah sakit rujukan selain Rumah Sakit Hasan Sadikin.

Sementara itu, Sudrajat dan pasangannya menekankan perlunya pendampingan dari para tenaga kesehatan untuk mendukung program kesehatan di masyarakat. Jika pasangan Deddy-Dedi mengandalkan dokter, mereka mengandalkan tenaga kesehatan yang mereka sebut sebagai “kader”.

“Untuk itulah pendamping lokal desa dan berbagai kader-kader posyandu, pendamping kader posyandu, ini yang akan kita berdayakan betul untuk memberikan promosi PHBS (Pola Hidup Bersih Sehat),” ujar Ahmad Syaikhu.

Berbeda dengan dua tanggapan paslon lainnya, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum justru tidak terpaku pada banyaknya rumah sakit dan tempat pelayanan kesehatan lainnya seperti puskesmas sebagai solusi kesehatan. Menurut mereka, warga yang sehat justru lebih penting.

Ridwan dan Uu tak menyebutkan bagaimana caranya agar warga sehat, tapi jika melihat program-program kerja Ridwan Kamil selama menjadi Walikota Bandung yang selalu menekankan indeks kebahagiaan warga lewat pembangunan taman dan ruang berkreasi, tampaknya program kerja itulah yang dimaksud.

“Kita memahami bahwa yang terpenting adalah hidup sehat bukan jumlah rumah sakit yang banyak, tapi rumah sakit boleh sedikit tapi warganya sehat, kira-kira begitu,” ujarnya.

Ridwan juga menyampaikan bahwa menggratiskan pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi mereka akan ditujukan bagi yang membutuhkan, tidak berlaku untuk semua warga. Sebab, menurutnya, adil dalam Islam adalah menempatkan sesuatu dengan takarannya.

“Sehingga pasangan Rindu (Ridwan-Uu) ini punya komitmen menggratiskan kesehatan, pendidikan, kepada mereka golongan ekonomi lemah," tambahnya.

Untuk masalah pendidikan, paparan semua paslon hampir sama, yakni membebaskan biaya pendidikan bagi warga Jawa Barat, tanpa memaparkan bagaimana terobosan yang akan dilakukan oleh mereka dalam mengelola pendidikan warga.

Namun, jawaban sedikit berbeda diungkapkan oleh pasangan Dedy-Dedi. Berdasarkan pengalaman selama menjadi Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi menyebutkan bahwa salah satu cara untuk mengelola pendidikan sejak usia dini yaitu mendorong anak-anak sekolah untuk membawa bekal makan dari rumahnya masing-masing.

Menurutnya, makanan yang dibuat oleh ibu dan dibawa oleh anak ke sekolah serta mereka konsumsi, akan membangun hubungan kasih sayang antara keduanya. Selain itu, tambahnya, praktik ini juga akan membangun kesalehan sosial karena anak-anak yang mampu dan tidak mampu akan bertukar makanan yang mereka bawa.

“Yang kedua ada kesalehan sosial di kelasnya, meraka akan satu bangku atau satu meja dengan saudaranya yang tidak memiliki kemampuan di bidang ekonomi, sehingga yang makan ikan asin bisa memakan daging, dan yang makan daging bisa makan ikan asin, ujarnya.


Perempuan, Anak-anak, Pemuda, dan Disabilitas


Segmen ketiga diisi oleh pertanyaan kepada pasangan Ahmad Syaikhu-Sudrajat dengan tema Perempuan, Anak-anak, Pemuda, dan Disabilitas. Sudrajat mengatakan bahwa mereka akan memperjuangkan komposisi jumlah perempuan di kursi legislatif sehingga keputusan-keputusan pemerintah untuk melindungi perempuan akan lebih diwarnai oleh sudut pandang perempuan.

Ia juga menyampaikan bahwa mereka akan meningkatkan pelayan terpadu untuk perlindungan ibu dan anak. Namun, masalah pemuda dan disabilitas tidak ia bahas.

“Pertama, kita tidak ingin terus-menerus bahwa perempuan ini jadi target untuk diberangkatan sebagai TKI. Kita ingin berdayakan mereka, dan pasangan Asyik (Ahmad Syaikhu-Sudrajat) ingin memberdayakannya dengan program Asyikpreneur,” ujar Akhmad Syaikhu yang lagi-lagi hanya membahas soal perempuan dan mengabaikan topik lainnya yang telah ditentukan dalam pertanyaan.

Jawaban pasangan ini langsung ditanggapi oleh pasangan Deddy-Dedi yang diwakili oleh Dedi Mulyadi, dengan menyentil masalah poligami. Menurut Dedi, meski dibolehkan oleh agama Islam, komitmen para pejabat untuk tidak berpoligami adalah langkah nyata untuk melindungi perasaan batin perempuan. Tanggapan ini langsung disambut riuh oleh para penonton.

Selain itu, hampir sama dengan pasangan Ahmad Syaikhu-Sudrajat, pasangan Deddy-Dedi juga menekankan tentang pentingnya kemandirian perempuan di bidang ekonomi. Hal senada juga disampaikan oleh pasangan Rindu dan pasangan Hasanah.

Untuk masalah anak-anak, pemuda, dan penyandang disabilitas, pasangan Rindu lagi-lagi mengadopsi program-program Ridwan kamil di Kota Bandung yang selama ini katanya telah dijalankan, salah satunya penyediaan ruang kreatif untuk para pemuda.

Sementara itu, dalam masalah disabilitas, pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan menyebut bahwa mereka akan menerapkan secara ketat undang-undang Nomor 8 tahun 2016.

“Pegawai negeri sipil 2 persen itu harus penyandang disabilitas. Dan kemudian mereka harus dilatih dan bekerja,” ujar TB Hasanuddin.


Agama, Ideologi, Budaya, dan Pariwisata


Dalam dua segmen berikutnya, rata-rata setiap paslon sepakat tentang agama dan ideologi: negara tidak boleh dibenturkan dengan agama. Bahkan, sejumlah paslon menyebutkan bahwa Pancasila terinspirasi dan diilhami oleh para kiai dan ulama.

Sementara itu, dalam masalah kebudayaan yang selama ini kerap diidentikkan dengan kesenian, setiap paslon mengaitkannya dengan peradaban. Ridwan-Uu, misalnya, mengatakan kebudayaan adalah tentang bagaimana kita diingat oleh orang lain.

“Kebudayaan adalah nilai hidup. Dia menjadi identitas siapa kita. Ingat Jepang, ingat orang-orang yang rajin. Ingat Amerika, ingat orang-orang inovatif. Ingat Indonesia, ingat Jawa Barat, itu yang harus kita definisikan. Jadi, kebudayaan bukan hanya urusan kesenian, itu ekspresi dari kebudayaan. Kebudayaan adalah nilai hidup, ujung-ujungnya adalah peradaban di masa depan, ujar Ridwan Kamil.

Pasangan Deddy-Dedi yang kali ini menampilkan Deddy Mizwar, melontarkan isu pariwisata di Jawa Barat. Menurutnya, berbicara tentang pariwisata terlalu jauh tanpa melihat kondisi saat ini di Jawa Barat.

Ia menambahkan bahwa sampai saat ini Jawa Barat belum menjadi tujuan utama pariwisata di Indonesia, karena ada beberapa hal yang belum terpenuhi seperti masalah akses dan ketersambungan tempat pariwisata dengan tempat lain.

Terlepas dari adanya persoalan tersebut, Deddy Mizwar menambahkan bahwa kerterkaitan antara pariwisata dan budaya sangat erat karena budaya adalah ruh dari pariwisata.

“Dan ruh dari kepariwisataan adalah budaya. Gunung di mana-mana ada, laut di mana-mana ada, pantai di mana-mana ada, sungai di mana-mana ada, hutan di manapun ada di belahan bumi ini. Yang membedakan pantai, laut, sungai, hutan dan gunung adalah kebudayaannya. Karena itulah budaya yang menjadi ruh kepariwisataan, dan kita memiliki itu di Jawa Barat,” ujarnya.


Infografik Elektabilitas Cagub di Pulau Jawa


Saling Berbalas Pantun


Debat ketiga Pilgub Jabar tak lagi dipungkas oleh aksi yang menimbulkan kegaduhan seperti pada debat sebelumnya, saat pasangan Ahmad Syaikhu-Sudrajat membentangkan kaos bertuliskan “2018 ASYIK MENANG, 2019 GANTI PRESIDEN”. Kali ini, penghujung acara ditutup oleh pernyataan terakhir para paslon yang saling berbalas pantun.

Setelah menyerukan pilkada damai dan sebagian menyebut kata baik bagi pasangan yang lainnya, serta meyakinkan warga Jawa Barat untuk memilih mereka sebagai yang terbaik, pantun pun mengalir.

“Ikan tongkol ikan sepat/Jangan dongkol kalau yang menang nomor empat,” ujar Deddy Mizwar.

Dedi Mulyadi, setelah menyebutkan bahwa pesta demokrasi jangan sampai dicederai dan silaturahmi putus, ia juga berpantun, “Pat pat gulipat lebaran makan ketupat/kita pilih nomor empat agar hidup bermartabat,” katanya.

Pasangan Ahmad Syaikhu-Sudrajat tak mau ketinggalan. Akhmad Syaikhu bahkan memborong tiga pantun sekaligus dengan memakai dua bahasa: Sunda dan Jawa Cirebonan.

“Lamun rék nyaba ka Tasik ulah poho bekel bolu/lamun Jabar hayang asyik ulah poho nomer tilu."

”Iwak wader iwak betik/aja keder pilih asyik. Iwak wader mangan bolu/aja keder pilih nomer telu.”

Sementara itu, pasangan Ridwan-Uu, selain berpantun mereka juga berusaha menyerang pasangan lainnya dengan mengatakan mereka harus dipilih karena mereka pasangan paling muda: masih mampu berlari cepat, masih kuat begadang, dan membawa nilai baru kepemimpinan yang selalu inovatif dan merangkul.

Setelah itu barulah ia berpantun, “Lucinta Luna di-DM Pak Uu/Kalau sudah cinta tentulah pilih nomor satu.”

Tak hanya satu pantun, sebab dipengujung pernyataan terakhirnya ia juga berpantun lagi, “Ayu Tingting keselek putu/yang penting tetep pilih nomor satu.”

Pasangan yang tidak berpantun hanya satu, yaitu pasangan Hasanuddin-Anton. Dua pensiunan TNI dan POLRI ini hanya menyampaikan bahwa mereka paling punya kelebihan di antara pasangan lainnya terutama komitmen dan keberanian untuk menyelesaikan seluruh persoalan di Jawa Barat.

Pernyataan terakhir mereka dipungkas oleh pembacaan doa panjang oleh Anton Charliyan. Saking panjangnya, waktu yang diberikan panitia pun tak cukup.

Kini, yang tersisa adalah sedikit waktu hingga pilkada serentak pada 27 Juni 2018 diselenggarakan. Warga Jawa Barat harus memikirkan siapa yang dipercaya untuk menjadi gubernur dan wakilnya selama lima tahun ke depan.

Baca juga artikel terkait DEBAT PILGUB JABAR 2018 atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Politik)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Maulida Sri Handayani