tirto.id - Purbaya Yudhi Sadewa mengeluarkan sejumlah pernyataan kontroversial sejak diantik sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) pada Senin (8/9/2025). Pernyataan itu berkaitan dengan tuntutan masyarakat hingga terkait jawabannya soal pihak-pihak yang meragukan kapasitas eks Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.
Purbaya Yudhi dilantik sebagai Menkeu oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Ia menggantikan posisi Sri Mulyani, yang sebelumnya menjabat sebagai Menkeu 2005-2010, serta 2016-2025.
Belum genap sepekan menjabat, Purbaya Yudhi beberapa kali melontarkan pernyataan kontroversial, terutama saat menjawab pertanyaan dari para pewarta yang meliput. Beberapa pernyataannya langsung memantik perbincangan khalayak, terutama di media sosial.
Purbaya menyadari pernyataan-pernyataannya sejak dilantik sebagai Meneku, telah menimbulkan kontroversi. Ia meminta maaf apabila ucapannya memantik perdebatan khalayak.
“Saya masih pejabat baru di sini. Menterinya juga menteri kagetan. Jadi, kalau ngomong katanya, kalau kata Ibu Sri Mulyani kayak koboi. Waktu di LPS sih enggak ada yang monitor, jadi saya tenang,” kata Purbaya saat konferensi pers usai Serah Terima Jabatan Menteri Keuangan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (9/9/2025).
“Ternyata di (Kementerian) Keuangan beda, Ibu. Salah ngomong langsung dipelintir sana-sini. Jadi, kemarin kalau ada kesalahan, saya mohon maaf,” tambah dia.
Kumpulan Pernyataan Kontroversial Menkeu Purbaya Yudhi
Meski sudah meminta maaf, sejumlah ucapan kontroversial telah menjadi perbincangan warganet. Apa saja pernyataan kontroversial Purbaya Yudhi yang dilontarkan sejak dirinya menjabat sebagai Menkeu?
1. Tuntutan 17+8 “Suara Sebagian Kecil Rakyat”
Tak lama setelah dilantik jadi Menkeu, Purbaya Yudhi langsung dimintai tanggapannya terkait 17+8 Tuntutan Rakyat. Tuntutan ini muncul dari kalangan masyarakat, setelah terjadinya gelombang demo di sejumlah daerah sejak 25 Agustus 2025, yang juga mengakibatkan 10 korban jiwa berjatuhan.Sebanyak 17 tuntutan di antaranya, mempunyai tenggat waktu hanya hingga 5 September 2025. Namun pemerintah maupun pihak terkait lainnya, belum mampu menyanggupi 17 tuntutan itu hingga batas tenggat waktu ditetapkan, sebagaimana dilansir dari Bijakmemantau.
Alih-alih meminta maaf atas nama pemerintah, Purbaya justru menanggapi tuntutan itu dengan nada seolah ‘mengentengkan’ mandat rakyat tersebut. Ia mengatakan, bahwa tuntutan itu hanya disuarakan sebagian kecil rakyat.
“Basically begini, itu kan suara sebagian kecil rakyat kita, kenapa mungkin sebagian ngerasa keganggu, hidupnya masih kurang ya,” katanya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (8/9/2025).
2. “Mereka Akan Sibuk Cari Kerja dan Makan Enak Dibandingkan Mendemo”
Masih terkait tuntutan, Yudhi menilai bahwa masyarakat tak akan melakukan unjuk rasa apabila pihaknya menciptakan sejumlah capaian. Katanya, pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen dalam 2-3 tahun ke depan.“Once, saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 persen, 7 persen itu akan hilang dengan otomatis," tutur Purbaya, Senin.
"Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo," tambah Purbaya.
3. "Anda Enggak Pernah Tahu Saya di Mana ya?"
Tak sedikit pihak yang meragukan kemampuan Purbaya Yudhi dalam kebijakan-kebijakan fiskal ke depan. Sejak dilantik sebagai Menkeu pada Senin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan langsung terkoreksi 1,28 persen dalam dan ditutup di level 7.766 pada Senin sore, merespons reshuffle kabinet.Namun, Purbaya justru mempertanyakan kembali keraguan sejumlah kalangan terhadap kapasitasnya untuk kebijakan fiskal. Ia menilai, keraguan itu muncul karena pihak lain tak mengetahui pengalamannya.
“Anda dari mana? Anda enggak pernah tahu saya di mana ya?" jawab Purbaya saat ditanya wartawan, pada Senin.
4. “Saya Udah Kenal Pasar Cukup Lama”
Sembari menjawab keraguan sejumlah pihak, Purbaya juga memaparkan pengalamannya dalam kebijakan fiskal. Purbaya menyatakan, pihaknya sudah mengenal pasar sejak lama, sebelum menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner LPS (2020-2025).“15 tahun lebih. Teman Pak Anggito dulu, dimarah-marahin Pak Anggito karena dia majikan dulu, saya di pasar. Tapi saya udah kenal pasar cukup lama,” tegasnya, Senin.
Ia memaparkan, pernah membantu pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Kantor Staf Presiden (KSP). Termasuk saat membalikkan perekonomian pasca COVID-19.
Selain itu, saat pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tepatnya pada 2008, dia juga menjadi salah satu orang dari lembaga think tank yang fokus pada kebijakan fiskal pemerintah.
“Saya nggak perlu waktu untuk belajar fiskal lagi. Kita akan membuat fiskal mempunyai daya dorong yang optimal buat perekonomian. Saya buat fiskalnya sehat,” tegas dia.
5. "Suka-suka Saya" ihwal Rencana Bentuk Badan Penerimaan
Terkait program kerjanya sebagai Menkeu, Purbaya Yudhi mengatakan dirinya belum mendapat arahan dari Prabowo terkait Badan Penerimaan Negara (BPN). Namun Purbaya mengindikasikan, kebijakan itu bisa dilakukan sesukanya."Belum ada (arahan). Kayaknya si suka-suka saya katanya, saya tanya ‘Pak, gimana Pak? Boleh nggak saya obrak-obrik?’ Gitu kira-kira,” kata Purbaya, Senin.
6. "Saya Enggak Tahu karena Saya Baru"
Masih terkait intruksi Prabowo, Purbaya mengaku belum bisa memahami sepenuhnya maksud dari RI 1. Terutama terkait jawaban Prabowo ihwal pertanyaan yang Purbaya lontarkan.“Saya enggak tahu karena saya baru, itu kode boleh apa nggak?” tutur dia.
7. Sebut Dirinya “Menteri Kagetan”
Setelah mengeluarkan sejumlah pernyataan kontroversial, Purbaya lantas meminta maaf kepada publik. Ia mengatakan, beberapa ucapannya jadi perbincangan, lantaran dirinya merupakan ‘menteri kagetan’.“Saya masih pejabat baru di sini. Menterinya juga menteri kagetan. Jadi, kalau ngomong katanya, kalau kata Ibu Sri Mulyani kayak koboi,” ucap Purbaya.
Purbaya mengatakan, dirinya akan berhati-hati ketika harus menyampaikan pernyataan. Hal itu kembali ditegaskan Purbaya, saat menghadiri rapat kerja (raker) dengan Komisi XI DPR pada Rabu (10/9/2025).
“Saya baru merasakan dampaknya, rupanya beda. Jadi, sekarang saya akan stick pada pidato yang sudah disiapkan oleh staf saya di sini, Pak. Jadi, nggak ada session bebas lagi,” katanya kepada pimpinan Komisi XI DPR RI sembari tertawa, di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





























