Daftar Strategi Korea Selatan Redam Pandemi Corona versi Dubes

Oleh: Addi M Idhom - 6 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Korea Selatan memiliki 4 strategi utama dalam meredam pandemi virus corona (Covid-19), salah satunya adalah transparansi data yang menguatkan kepercayaan publik ke pemerintah.
tirto.id - Korea Selatan menjadi salah satu negara yang dinilai berhasil meredam laju peningkatan kasus penularan virus corona (Covid-19).

Saat ini, Korea tidak lagi menempati daftar teratas negara dengan jumlah kasus terbanyak di dunia sebagaimana pada Februari hingga awal Maret lalu.

Data CSSE Johns Hopskin University menunjukkan, hingga 6 April 2020, total jumlah kasus positif corona di Korea Selatan tercatat sebanyak 10.284 pasien.

Angka kematian pasien Covid-19 di negara ini cukup rendah, yakni 186 jiwa. Sementara pasien yang berhasil sembuh di Korea Selatan telah mencapai 6.598 orang.

Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Tedros Adhanom Ghebreyesus sempat menyebut nama 4 negara yang ia nilai memiliki pengalaman yang patut disorot dalam penanganan pandemi Corona. Salah satunya adalah Korea.

"Sungguh menginspirasi mendengar [penjelasan] dari China, Jepang, Korea Selatan dan Singapura tentang pengalaman mereka dan pelajaran yang telah mereka pelajari," ujar Tedros pada 2 April lalu.

Bagaimana cara Korea Selatan menangani pandemi Covid-19?

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-Beom memaparkan sejumlah strategi yang diterapkan negaranya dalam menekan laju peningkatan jumlah kasus maupun menangani pasien Covid-19.

"Kami mengikuti rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia sejak awal. Kami tidak menerapkan lockdown," kata Chang-Beom dalam konferensi pers via video pada Senin (6/4/2020) sebagaimana dilansir Antara.

"Namun kami melakukan upaya maksimal untuk membendung penyebaran wabah," tambah dia.

Chang-Beom menjelaskan terdapat empat strategi utama yang diandalkan oleh pemerintah Korsel dalam menangani pandemi corona. Berikut daftar strategi Korea Selatan tersebut.

1. Melakukan tes secara agresif

Menurut Chang-Beom, tes yang agresif menjadi salah satu langkah penting dalam menanggulangi pandemi COVID-19.

"Kami dapat melakukan 20 tibu tes per hari dan hingga kini, kami sudah melakukan 466.000 tes," kata dia.

Chang-Beom menambahkan, guna mempercepat tes, negaranya menerapkan metode yang aman, cepat, dan nyaman, yakni melalui tes drive-through.

Dengan metode ini, masyarakat tak perlu turun dari kendaraan masing-masing untuk dapat dites. Proses tes dapat dilakukan kurang dari 10 menit dengan cara yang aman bagi para pekerja medis.

2. Pelacakan kontak

Strategi kedua, kata Chang-Beom, adalah pelacakan kontak (tracing) atau mencari siapa saja yang telah menjalin kontak dekat dengan pasien positif.

"Kami menggunakan berbagai metode untuk melacak dan mengobati mereka yang melakukan kontak dengan pasien yang positif," ujar dia.

Menurut dia, upaya tracing dilakukan menyeluruh dengan menelusuri jejak rekam transaksi kartu kredit, rekaman kamera CCTV, rekam jejak aplikasi telepon genggam, hingga rekam jejak GPS mobil dari mereka yang dikonfirmasi positif terjangkit virus corona.

Informasi terkait lokasi tertentu kemudian diberikan kepada publik sehingga mereka yang mungkin bertemu dengan pasien positif COVID-19 dapat melakukan tes.

3. Perawatan pasien secara intensif

Chang-Beom mengatakan perawatan pasien positif COVID-19 menjadi langkah ketiga dalam upaya pemerintah Korea Selatan menangani dampak pandemi.

"Kami melihat deteksi awal dan perawatan intensif pada fase awal sebagai kunci," ujar dia.

Pasien juga dibagi dalam empat kategori, yakni ringan, sedang, berat, dan sangat berat, sesuai dengan gejala yang ditunjukkan.

Mereka dengan gejala ringan dirawat di fasilitas yang disebut dengan Leading Treatment Centers, sementara pasien dengan gejala sedang, berat dan sangat berat segera dibawa ke salah satu dari 67 rumah sakit khusus COVID-19 yang disiapkan pemerintah Korea Selatan.

4. Meningkatkan partisipasi warga sipil dan transparansi

Strategi keempat, kata Chang-Beom, adalah meningkatkan kesadaran dan partisipasi sipil melalui transparansi informasi.

"Dalam kasus kami, transparansi dan kepercayaan publik yang tinggi [pada pemerintah] jadi aspek penting dalam praktik pembatasan sosial di seluruh bagian negara," ujar dia.

Dia menjelaskan bahwa transparansi pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap kepercayaan masyarakat.

Selain itu, warga Korea Selatan, lanjutnya, terbilang cukup rasional dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi kebutuhan sehari-hari, dan banyak yang melakukan karantina mandiri.

"Langkah pencegahan seperti social distancing dapat memperlambat penyebaran virus dengan efektif [di Korea Selatan]," tambah Chang-Beom.

Dia meyakini saat ini Korea Selatan telah melewati fase terburuk dari penyebaran virus corona di negara tersebut.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight