Menuju konten utama

Daftar 11 Taman Nasional yang Mengalami Kebakaran pada 2026

Sebanyak 11 taman nasional di Indonesia terdampak kebakaran sepanjang 2026. Simak daftar lokasi, luas area terbakar, dan dampaknya.

Daftar 11 Taman Nasional yang Mengalami Kebakaran pada 2026
Petugas Pendamping Taman Hutan Raya (Tahura) Orang Kayo Hitam (OKH) Dinas Kehutanan Provinsi Jambi berjalan di tengah kepulan asap saat melakukan pengecekan titik api di Tahura OKH, Desa Gedong Karya, Muaro Jambi, Jambi, Jumat (16/10/2026). Pengecekan tersebut bertujuan memetakan rencana pemadaman setelah menerima laporan temuan titik api baru di kawasan yang masih memiliki vegetasi rapat dan terhubung dengan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS) tersebut. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 mengancam sejumlah taman nasional di Indonesia, mulai dari kawasan konservasi di Sumatra dan Jawa hingga Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Api membakar berbagai tipe ekosistem, termasuk sabana, padang rumput, hutan, dan lahan gambut.

Sepanjang 2026, kebakaran terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kerinci Seblat, Gunung Ciremai, Tambora, Manusela, Bukit Baka Bukit Raya, Gunung Gede Pangrango, dan lainnya.

Berikut sejumlah taman nasional yang terbakar sepanjang 2026:

1. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur

Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi salah satu peristiwa karhutla paling tragis sepanjang 2026 karena mengakibatkan enam orang meninggal dunia.

Para korban merupakan petugas dan mitra yang terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran di sekitar kawasan konservasi, tepatnya di wilayah Mentigen dan Cemorolawang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Berdasarkan keterangan Kementerian Kehutanan, kebakaran bermula pada Selasa, 13 Oktober 2026. Petugas TNBTS menerima informasi dari Kepala Desa Ngadas mengenai kebakaran ladang warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan taman nasional di wilayah Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo.

Petugas kemudian mendatangi lokasi dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk melakukan pemadaman. Sejumlah warga dan perangkat desa turut membantu. Karena lokasi kebakaran jauh dari sumber air dan sulit dijangkau menggunakan mesin penyemprot, pemadaman dilakukan secara manual dengan alat gebyok. Api kemudian merambat masuk ke kawasan taman nasional yang memiliki medan terjal dan sulit dijangkau.

Api berhasil dipadamkan pada Rabu, 14 Oktober 2026, sekitar pukul 11.45 WIB. Petugas melakukan pemantauan hingga malam hari dan memastikan tidak ada lagi api maupun asap yang terlihat.

Namun, pada Kamis, 15 Oktober 2026, sekitar pukul 09.20 WIB, petugas di Posko Karhutla Cemoro Lawang kembali melihat asap tebal dari lokasi kebakaran sebelumnya. Petugas segera menuju lokasi untuk melakukan pemadaman. Karena api membesar, dukungan tambahan dikerahkan, termasuk personel dari PT Mitra Indo Permai dan Masyarakat Peduli Api.

Karhutla Gunung Bromo

Petugas padamkan api di karhutla Gunung Bromo pada September 2026. ANTARA/Ananto Pradana

2. Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi dan sekitarnya

Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) pada Agustus 2026 mengalami kebakaran hutan dan lahan. Lonjakan titik panas paling tinggi terjadi pada Agustus, ketika 3.156 titik terdeteksi dalam satu bulan.

Mengantisipasi risiko kebakaran, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat menutup sementara aktivitas pengunjung mulai 1 September 2026.

Penutupan mencakup jalur pendakian Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, serta Gunung Masurai di Kabupaten Merangin. Pemesanan pendakian, baik secara daring maupun langsung, turut dihentikan sementara.

3. Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat

Kebakaran juga melanda Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Oktober 2026. Proses pemadaman melalui udara menggunakan helikopter yang melakukan water bombing atau pengeboman air untuk menjangkau titik-titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

Berdasarkan hasil pemantauan udara, luas kawasan yang terbakar tercatat sekitar 30 hektare. Setelah dua hari penanganan intensif, kebakaran dilaporkan relatif berhasil dipadamkan, dengan sekitar 20 persen area yang sebelumnya terdampak masih memerlukan penanganan pada saat pemantauan dilakukan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan helikopter bantuan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, TNI Angkatan Udara, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kebakaran hutan Gunung Ciremai

Warga melihat kepulan asap dari lokasi kebakaran hutan di kawasan Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro/kye

4. Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat

Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tambora (TN Tambora), Nusa Tenggara Barat, pada awal September 2026 berdampak pada sekitar 834 hektare areal. Balai TN Tambora mencatat tiga kejadian karhutla yang ditangani petugas pada 1-4 September 2026, masing-masing di Resor Kawinda Toi, Jalur Semen dan Kadondo, serta Jalur Pintu Walet Timur Oi Hodo.

Kejadian pertama terpantau pada 1-3 September di kawasan Resor Kawinda Toi, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kore. Kebakaran mencakup jalur pendakian Kawinda Toi antara Pos 5 dan Pos 6 serta kawasan Doro Onta. Luas areal yang terdampak diperkirakan mencapai 400–500 hektare.

Sebanyak tujuh petugas melakukan pemeriksaan lapangan dan pengecekan menyeluruh terhadap kawasan terdampak. Dalam proses tersebut, petugas masih menemukan bara pada batang pohon cemara di Grid 733 dan segera melakukan pemadaman. Penyebab kebakaran masih didalami, dengan dugaan awal berkaitan dengan aktivitas perburuan liar rusa timor.

Pada 3 September, kebakaran kembali ditangani di Jalur Semen dan Kadondo dengan luas terdampak sekitar 2,32 hektare. Sebanyak 14 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman, membersihkan sisa bahan yang masih berpotensi menyala atau mopping up, mengukur area terdampak, dan membuat sekat bakar sederhana agar api tidak kembali menjalar.

Sehari kemudian, pada 4 September, petugas menangani kebakaran di Jalur Pintu Walet Timur Oi Hodo, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Pekat. Luas areal terdampak di lokasi ini diperkirakan mencapai 332,50 hektare.

Sebanyak 16 personel yang terdiri atas petugas taman nasional, mitra, dan mahasiswa dikerahkan untuk memeriksa lokasi, memadamkan api, membuat sekat bakar, mengurangi bahan bakar kering, serta memantau kawasan hingga api dipastikan padam.

Dugaan awal menyebut kebakaran di Jalur Semen dan Kadondo serta Jalur Pintu Walet Timur Oi Hodo berkaitan dengan rambatan api dari kegiatan pembersihan lahan masyarakat. Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan.

5. Taman Nasional Manusela, Maluku

Kebakaran yang terjadi di Pulau Seram, Maluku, menjadi perhatian karena berlangsung selama berbulan-bulan dan kemudian merambat ke kawasan Taman Nasional Manusela (TNM).

Kebakaran tersebut juga berkaitan dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Maluku, termasuk Kota Ambon, hingga mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan.

Kebakaran disebut telah berlangsung sejak 29 Juli 2026. Warga kemudian menggelar aksi protes pada 10 Oktober dengan memblokade Jalan Trans Seram di kilometer 14 wilayah petuanan Negeri Horale. Mereka mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengambil tindakan karena upaya pemadaman yang dilakukan warga secara mandiri dinilai belum cukup efektif.

Warga menyampaikan bahwa kebakaran tidak hanya mengancam hutan, tetapi juga merusak perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Tanaman yang telah tumbuh selama puluhan tahun dilaporkan ikut terbakar, sehingga kerugian yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan selama kebakaran berlangsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi pendapatan petani dalam jangka panjang.

Kepala Balai Taman Nasional Manusela, Deny Rahadi, menyebut sekitar 26 hektare kawasan konservasi di Pasahari, Kecamatan Seram Utara, telah terbakar.

Pihak balai menduga terdapat unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut, tetapi penyebabnya masih diselidiki. Untuk mencegah api meluas, petugas telah membuat sekat bakar sepanjang 5,8 kilometer dengan lebar tiga meter. Meski demikian, upaya tersebut tidak sepenuhnya menghentikan penjalaran api.

6. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya

Dari unggahan Instagram @btn_bukitbakabukitraya, penanganan kebakaran hutan dan lahan di sekitar kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya kembali dilanjutkan pada 25 Oktober 2026.

Kebakaran ditangani di Kelurahan Kasongan Lama, Kecamatan Katingan Hilir, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Tim BKO SPTN Wilayah II Kasongan bekerja sama dengan Manggala Agni, KPHP Katingan Hulu Unit XVII, dan Polres Katingan untuk melakukan pemadaman serta pendinginan. Lokasi penanganan berada di belakang Pondok Pesantren Nurul Abshor dan Kantor KPHP Katingan Hulu.

Tim gabungan memadamkan bara yang masih menyala dan membuat sekat basah untuk mencegah api merambat ke area yang belum terbakar. Peralatan yang digunakan meliputi tujuh rol selang, tiga tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter, serta pasokan air dari sumur bor.

Meskipun upaya pemadaman terus dilakukan, sejumlah titik masih mengeluarkan asap sehingga penanganan harus dilanjutkan pada hari berikutnya.

7. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kebakaran terjadi di Alun-Alun Barat Surya Kencana, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), pada Kamis, 6 Agustus 2026. Balai Besar TNGGP menerima laporan awal dari masyarakat pengelola basecamp pada pukul 15.15 WIB. Setelah menerima laporan, petugas Kementerian Kehutanan bersama Masyarakat Mitra Polhut dan relawan segera menuju lokasi untuk melakukan pemadaman.

Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, menyebut luas area terdampak sekitar satu hektare. Api terutama membakar hamparan rumput kering dan sebagian kecil vegetasi berkayu di sekitar jalur dari sabana edelweiss menuju hutan, dengan radius terdampak sekitar lima meter dari area tersebut.

Api berhasil dipadamkan sepenuhnya. Namun, petugas tetap melakukan pemantauan dan penyisiran secara bergiliran selama tiga hari untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa atau titik api susulan.

Untuk menjaga keselamatan pendaki dan mendukung pemulihan kawasan, pengelola menutup sementara seluruh jalur pendakian TNGGP mulai 7 hingga 11 Agustus 2026.

Kebijakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Nomor SE.18 Tahun 2026. Calon pendaki yang telah melakukan pemesanan untuk periode penutupan difasilitasi mendapatkan pengembalian dana.

8. Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Dari unggahan Instagram @btn_rawaaopawatumohai, kebakaran hutan terjadi di Blok Hutan Lanowulu, SPTN Wilayah II, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, pada Kamis, 10 September 2026.

Informasi kebakaran diterima pada pukul 07.24 WITA dari Tim Patroli Manggala Agni taman nasional tersebut. Tim pemadam kemudian dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pengendalian api.

Penanganan kebakaran melibatkan tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Manggala Agni Daops Sulawesi Wilayah III, petugas Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Polsek Tinanggea, dan Koramil Tinanggea. Upaya pemadaman berlangsung hingga pukul 21.45 WITA.

Petugas menghadapi sejumlah kendala di lapangan, antara lain angin kencang, kobaran api yang besar, vegetasi yang sangat kering, serta akses menuju lokasi yang sulit. Kondisi tersebut menyulitkan proses pemadaman dan pengendalian api.

Kebakaran juga berdampak terhadap satwa liar. Dalam penanganan di lapangan, petugas menemukan beberapa ekor ular yang menjadi korban kebakaran. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa karhutla tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam satwa dan habitatnya di dalam kawasan konservasi.

9. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti

Mengutip postingan Instagram @btn_matalawa, kebakaran hutan juga terjadi di kawasan Tanah Daru, Sumba Tengah, yang ditangani petugas Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Proses pemadaman dimulai pada sore hari, 28 Agustus 2026, dan berlangsung hingga dini hari pada 29 Agustus 2026.

Petugas melakukan pemadaman sampai kondisi dinyatakan aman. Penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya pengelola TN Matalawa untuk melindungi kawasan konservasi dari ancaman kebakaran hutan dan lahan.

10. Sekitaran Taman Nasional Way Kambas

Warga melaporkan kebakaran hutan dan lahan di sekitar Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur pada Minggu (25/10/2026).

Lokasi kebakaran berada di wilayah bagian utara TNWK dekat perbatasan dengan perusahaan di Kabupaten Lampung Tengah (sekitar 14 kilometer dari Kandang Gajah), bukan di area Pusat Konservasi Gajah (PKG).

Penanganan kebakaran dilakukan oleh petugas Taman Nasional Way Kambas bersama unsur TNI dan Polri.

11. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

Melalui unggahan di Instagram @btn_bantimurungbulusaraung dijelaskan, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kampung Madumbu, Desa Panaikang, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan pada 22 Oktober 2026.

Kebakaran tersebut terjadi di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan dilaporkan melanda zona rimba serta zona inti.

Proses pemadaman menghadapi tantangan berupa topografi karst yang curam dan sulit dijangkau. Lokasi kebakaran juga dilaporkan berjarak sekitar 250 meter dari permukiman warga.

Untuk mengendalikan api, tim menggunakan sejumlah peralatan, antara lain mobil slip-on, kendaraan pemadam kebakaran, jet shooter, pompa air, tandon portabel, alat komunikasi HT, serta drone untuk membantu pemantauan dari udara.

Penanganan masih berlangsung hingga 23 Oktober 2026. Pengelola memperkirakan total luas area terdampak telah mencapai 32,16 hektare, meningkat dari perkiraan awal 5,81 hektare sehari sebelumnya.

Tim gabungan terus berupaya mengendalikan kebakaran di tengah medan yang sulit. Pengelola juga menyampaikan apresiasi kepada personel yang bertugas di lapangan serta mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama proses pemadaman.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra