tirto.id - Luiz Inacio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan kandidat dari Partai Liberal, Flavio Bolsonaro, dalam pemungutan suara putaran kedua pada Minggu (25/10/2026). ini rekam jejak sang presiden yang terpilih dalam periode keempatnya.
Lula da Silva memperoleh 51,79 persen suara, sedangkan Flavio mendapatkan 48,21 persen. Kemenangan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi Lula, yang berhasil kembali unggul meskipun tertinggal pada putaran pertama pemilihan yang digelar pada awal Oktober 2026.
Sebelum kembali terpilih, Lula telah menjabat sebagai presiden selama dua periode berturut-turut pada 2003–2011 dan kembali menduduki jabatan tersebut pada 2023.
Dengan hasil pemilihan terbaru ini, Lula dan Geraldo Alckmin akan memulai masa jabatan sebagai Presiden dan Wakil Presiden Brasil untuk periode 2027–2031 pada 5 Januari 2027.
Profil Luiz Inacio Lula da Silva
Luiz Inacio Lula da Silva lahir pada 27 Oktober 1945 di Garanhuns, wilayah pedesaan di negara bagian Pernambuco, Brasil. ia merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara yang lahir dari pasangan aristides Inacio da Silva dan Euridice Ferreira de Mello, yang dikenal dengan panggilan Dona Lindu.
Lula tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Pada Desember 1952, ibunya bersama delapan anaknya pindah ke Sao Paulo untuk menghindari kekeringan dan kelaparan. Perjalanan tersebut berlangsung selama 13 hari menggunakan truk yang dimodifikasi untuk mengangkut penumpang.
Setibanya di Sao Paulo, keluarga Lula sempat tinggal di kawasan pinggiran Guaruja sebelum pindah ke ibu kota negara bagian tersebut pada 1956. Mereka tinggal di sebuah kamar di belakang bar di kawasan ipiranga.
Sejak kecil, Lula telah bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Pada usia 12 tahun, ia bekerja di toko pewarna kain, kemudian menjadi penyemir sepatu dan pegawai kantor. Saat berusia 14 tahun, ia bekerja di perusahaan pergudangan armazéns Gerais Columbia dan kemudian di pabrik sekrup Fabrica de Parafusos Marte.
Lula juga mengikuti pelatihan pengoperasian mesin bubut melalui Servico Nacional de aprendizagem industrial (Senai). Setelah menjalani pelatihan selama tiga tahun, ia memperoleh keterampilan sebagai pekerja logam atau metalurgi. Pengalaman bekerja di sektor industri inilah yang kemudian membawanya berhubungan dengan gerakan serikat pekerja dan menjadi titik awal perjalanan politiknya.
Ketika bekerja di perusahaan metalurgi industrias Villares di Sao Bernardo do Campo, wilayah industri di negara bagian Sao Paulo, Lula mulai mengenal gerakan serikat pekerja melalui saudaranya, Jose Ferreira da Silva, yang dikenal sebagai Frei Chico.
Pada 1969, ia terpilih sebagai anggota pengganti dalam kepengurusan Serikat Pekerja Logam Sao Bernardo do Campo dan Diadema. Tiga tahun kemudian, ia menjabat sebagai sekretaris pertama serikat tersebut.
Pada 1975, Lula terpilih sebagai presiden serikat dengan dukungan 92 persen suara, mewakili sekitar 100.000 pekerja. ia kembali terpilih pada 1978 dan semakin dikenal karena memperjuangkan hak-hak buruh di tengah pemerintahan militer Brasil. Pada Maret 1979, di bawah kepemimpinannya, sekitar 170.000 pekerja metalurgi melakukan aksi mogok yang melumpuhkan aktivitas industri di wilayah aBC, Sao Paulo.
Aksi tersebut berlangsung ketika pemerintahan militer masih membatasi kebebasan berorganisasi dan melarang pemogokan pekerja. Tindakan represif aparat serta minimnya perwakilan politik yang memperjuangkan kepentingan buruh mendorong Lula mempertimbangkan pembentukan partai politik yang dapat membawa aspirasi kelompok pekerja ke parlemen.
Pada 10 Februari 1980, Lula bersama sejumlah aktivis serikat pekerja, intelektual, politikus, pemimpin masyarakat pedesaan, tokoh agama, dan perwakilan gerakan sosial mendirikan Partai Pekerja atau Partido dos Trabalhadores (PT).
Pada tahun yang sama, ia kembali terlibat dalam aksi mogok buruh yang berujung pada intervensi pemerintah terhadap serikat pekerja dan penangkapannya berdasarkan undang-undang keamanan nasional. Lula menjalani penahanan politik pertamanya selama 31 hari.
Setelah itu, ia semakin aktif dalam politik nasional. Pada 1983 dengan turut mendirikan Central Unica dos Trabalhadores (CUT), organisasi pekerja Brasil.
Setahun kemudian, ia menjadi salah satu tokoh utama gerakan Diretas Ja, yang menuntut pemilihan presiden secara demokratis. Pada 1986, ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Federal dengan jumlah suara tertinggi dalam pemilihan legislatif Brasil saat itu.
Tiga Kali Gagal Sebelum Terpilih Jadi Presiden
Partido dos Trabalhadores (PT) mengusung Lula sebagai calon presiden pada 1989, ketika Brasil kembali menyelenggarakan pemilihan presiden langsung setelah hampir tiga dekade. Namun, Lula kalah pada putaran kedua. Ia kembali mencalonkan diri pada 1994 dan 1998, tetapi kedua pemilihan tersebut juga berakhir dengan kekalahan dari Fernando Henrique Cardoso.Kesempatan Lula akhirnya datang pada pemilihan presiden 2002. Pada usia 57 tahun, ia memenangkan pemilihan dengan hampir 53 juta suara. Kemenangan tersebut menjadikannya presiden Brasil pertama yang berasal dari latar belakang kelas pekerja. ia dilantik pada 1 Januari 2003 dengan Jose Alencar sebagai wakil presiden.
Lula kembali memenangkan pemilihan presiden pada 2006 dan memulai periode keduanya pada 1 Januari 2007. Salah satu program yang menonjol pada masa pemerintahannya adalah Bolsa Familia, yakni program bantuan tunai bagi keluarga berpenghasilan rendah. Program ini menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk membantu mengurangi kemiskinan dan memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
Pada dua periode pertama Lula, pemerintah Brasil juga mendorong peningkatan upah minimum, penciptaan lapangan kerja, dan perluasan program sosial. Kebijakan tersebut berjalan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Dalam periode itu, Brasil juga memperoleh peringkat layak investasi dari lembaga pemeringkat Standard & Poor’s pada 2008, yang kemudian diikuti Fitch dan Moody’s.
Ketika krisis keuangan global melanda pada 2008, pemerintah Lula mengambil sejumlah langkah untuk menopang perekonomian, termasuk menurunkan suku bunga dan pajak, mendorong konsumsi, memperluas akses kredit, serta meningkatkan investasi pada program sosial dan infrastruktur.
Menjelang akhir masa jabatan keduanya, Lula menikmati tingkat kepuasan publik yang tinggi. ia menyerahkan jabatan presiden kepada penerusnya, Dilma Rousseff, pada 1 Januari 2011 dengan tingkat persetujuan yang disebut mencapai 87 persen.
Kontroversi Lula da Silva: Kasus Korupsi, Penjara, dan Pembatalan Vonis
Pada 2014, otoritas Brasil memulai penyelidikan antikorupsi besar yang dikenal sebagai Operasi Lava Jato atau Operasi Car Wash. Penyelidikan tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi yang melibatkan sejumlah pihak, termasuk perusahaan besar dan lingkungan politik Brasil. Lula kemudian menjadi salah satu tokoh yang diselidiki dan menghadapi proses hukum dalam perkara korupsi.Pada Juli 2017, Lula dijatuhi hukuman pada tingkat pengadilan pertama. Vonis tersebut kemudian dikuatkan pada tingkat banding pada Januari 2018, sehingga ia kehilangan kelayakan untuk mengikuti pemilihan presiden.
Pada 7 april 2018, Lula menyerahkan diri kepada kepolisian federal setelah menghadiri pertemuan besar bersama para pendukungnya di Sao Bernardo do Campo. Ia menjalani hukuman penjara selama 580 hari di Curitiba sebelum dibebaskan pada 8 November 2019.
Perkembangan penting terjadi pada Maret 2021, ketika Mahkamah agung Federal Brasil membatalkan seluruh vonis korupsi terhadap Lula.
Pembatalan tersebut didasarkan pada persoalan kewenangan pengadilan yang menangani perkara-perkaranya di Curitiba serta keputusan yang menyatakan hakim Sergio Moro tidak bersikap imparsial dalam proses hukum tersebut. Dengan dibatalkannya vonis-vonis itu, hak politik Lula pulih sehingga ia dapat kembali mengikuti pemilihan presiden.
Setelah hak politiknya pulih, Lula kembali maju dalam pemilihan presiden 2022. ia menghadapi Jair Bolsonaro, presiden petahana yang berasal dari kubu politik kanan. Dalam pemilihan yang berlangsung ketat, Lula berhasil mengalahkan Bolsonaro dan menjadi presiden Brasil pertama yang terpilih untuk tiga periode melalui pemungutan suara rakyat.
Kemenangan Periode Keempat pada 2026
Dalam pemilihan presiden 2026, Lula kembali menghadapi persaingan ketat. ia berhadapan dengan Flavio Bolsonaro, putra mantan presiden Jair Bolsonaro dan kandidat dari Partai Liberal. Pada putaran pertama yang berlangsung pada awal Oktober, Lula berada di posisi kedua sehingga peluangnya untuk mempertahankan kekuasaan sempat dipertanyakan.“Kita akan mengubah cara negara ini dikelola… Pemilihan ini merupakan kekalahan bagi paham penyangkalan (denialisme)… Saya ingin berterima kasih kepada Tuhan dan kepada Anda semua, rakyat Brasil… demokrasi-lah yang mewujudkan semua ini,” ujarnya dikutip The Guardian, Senin (26/10/2026).
Namun, hasil putaran kedua berbalik. Berdasarkan penghitungan seluruh suara, Lula memperoleh 51,79 persen, sedangkan Flavio Bolsonaro meraih 48,21 persen. Dengan demikian, Lula menang dengan selisih 3,58 poin persentase.
Kemenangan itu terjadi setelah tingkat abstain atau pemilih yang tidak menggunakan hak suara turun dari 21,08 persen pada putaran pertama menjadi 19,21 persen pada putaran kedua, menurut laporan yang disediakan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































