tirto.id - Penembakan membabi buta dilaporkan terjadi di sebuah gereja di Yordania pada akhir pekan lalu. Sedikitnya 9 orang tewas akibat serangan orang tak dikenal itu, sementara 40 orang lainnya terluka. Pelaku kini diburu otoritas keamanan setempat.
MenukilAl Jazeera, Sabtu (24/10/2026), serangan pada gereja tersebut terjadi pada Jumat (23/10/2026). Para pelaku dilaporkan telah menargetkan umat gereja yang terletak di Desa Hamoud di Provinsi Karak, Yordania bagian selatan.
Serangan dilaporkan terjadi pada Jumat sore waktu setempat. Kala itu, umat gereja tengah berkumpul untuk melakukan upacara kematian.
Akan tetapi, secara tiba-tiba, muncul tiga orang tak dikenal menerobos gereja. Mereka mengenakan masker dan salah satu di antaranya membawa senjata semi-otomatis. Ketiganya lalu menembakkan senjata secara membabi buta ke arah umat selama beberapa menit.
Melansir The Guardian, salah satu pendeta gereja bernama Theodoros Soueiss, menggambarkan situasi yang kaos saat serangan terjadi. Ia menyebut rasa “panik melanda” semua orang di dalam gereja.
“Tembakan dilepaskan secara membabi buta, dan kita tidak pernah tahu ke mana peluru akan mengenai sasaran,” katanya.
Kepada stasiun televisi lokal, Al-Mamlaka, seorang saksi mata bernama Ihab Ammareen bahwa ia melihat orang-orang yang bersimbah darah jatuh ke lantai setelah serangan terjadi.
“Orang-orang menangis, meratap, dan menjerit—sulit untuk menggambarkannya,” ujarnya.
Otoritas Yordania sejauh ini belum mengungkap siapa para pelaku tersebut. Keberadaan ketiga pelaku itu juga masih belum ditemukan. Klaim tanggung jawab juga sejauh ini tak dikeluarkan kelompok mana pun.
Namun, belakangan rekaman video CCTV yang menampilkan muka pelaku tersebar secara online. Rekaman itu merekam tiga pelaku melakukan tembakan sejak dari halaman gereja.
Menukil Reuters, Menteri Dalam Negeri Yordania Mazin Al Farrayeh menyebut bahwa para pelaku adalah “ekstremis”. Dugaan serupa juga dilayangkan Perdana Menteri Yordania Jaffar Hassan.
"Ini adalah akibat dari ideologi teroris dan ekstremisme buta, dan kami tidak akan membiarkan masyarakat menempuh jalan ini," ujar Jafar Hassan dalam sebuah unggahan di X.
Raja Yordania, Abdullah II, menyebut bahwa para pelaku akan dijatuhi “hukuman paling berat”. Hal ini ia ungkapkan seiring perintahnya untuk meninjau ulang prosedur keamanan Yordania dalam merespons serangan teroris.
Laporan The Guardian menyebut bahwa serangan macam itu sebenarnya jarang terjadi di Yordania. Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat (AS) telah berulang kali menyatakan keberhasilan mereka menggagalkan upaya serangan militan Islam di wilayah sekutu mereka itu.
Dikecam Berbagai Pihak
Insiden penembakan massal tersebut kini telah dikecam berbagai pihak secara internasional. Beberapa negara, termasuk Azerbaijan, Irak, Polandia, Palestina, dan Qatar, telah mengeluarkan pernyataan yang mengutuk serangan tersebut serta menyatakan solidaritas mereka terhadap Yordania.
Institusi Islam-Sunni terkemuka Al-Azhar, turut mengutuk serangan itu melalui pernyataan imam besar mereka Ahmed al-Tayeb. Melalui keterangan publiknya, al-Tayeb menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban dan menyebut penembakan tersebut sebagai “serangan teroris yang keji”.
“Kejahatan ini bertentangan dengan ajaran agama-agama Abrahamik dan menunjukkan bahwa para pelakunya sama sekali tidak memiliki rasa welas asih, kemanusiaan, maupun moralitas,” tulisnya dalam sebuah unggahan di media sosial.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yordania juga merilis pernyataan di X, menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan mereka yang selamat dari serangan tersebut.
“Atas nama rakyat Amerika, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada para korban dan mereka yang selamat dari serangan teror hari ini di sebuah gereja di Karak, Yordania,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































