tirto.id - Sejak September 2026, pelajar sekolah menengah di Prancis berunjuk rasa menuntut perbaikan kondisi pendidikan. Mereka memprotes ruang kelas yang padat, kekurangan guru, dan bangunan sekolah yang rusak. Di tengah demonstrasi itu, frasa janggal "Bismillah, c’est les ténèbres" menyebar dan menjadi slogan protes.
Menurut Euronews, frasa itu berasal dari tangkapan layar percakapan Snapchat yang beredar pada awal Oktober. Seorang pengguna bernama "Mamadou" meminta bergabung ke grup obrolan yang digunakan pelajar untuk mengoordinasikan blokade sekolah. Pesannya mencampurkan ungkapan Arab dan bahasa gaul Prancis, lalu diakhiri dengan dua emoji bendera Aljazair.
Le Parisien menyebut nama akun yang sama sebagai "Amadou". Identitas asli pengirim belum diketahui. Bahasa dalam pesan itu dianggap janggal dan terkesan memaksakan ungkapan Arab serta bahasa gaul Prancis. Sejumlah pelajar menduga akun tersebut milik polisi yang berusaha menyusup ke grup, tetapi dugaan itu belum terverifikasi. Kepolisian Prancis maupun Kementerian Dalam Negeri belum memberikan keterangan mengenai tangkapan layar tersebut.
Slogan itu kemudian melintasi perbatasan Prancis. Pada 9 Oktober, kalimat tersebut muncul dalam demonstrasi di Brussel, Belgia, sebagai bentuk solidaritas terhadap pelajar Prancis. Sepekan kemudian, slogan serupa terlihat dalam demonstrasi mahasiswa di Bologna dan Milan, Italia. Gerakan mahasiswa Italia menggunakannya untuk mengejek otoritas yang selalu mencurigai adanya ekstremisme di balik protes anak muda.
Pelajar sebuah sekolah Prancis di Berlin juga terlihat membawa spanduk bertuliskan kalimat tersebut. Penyebarannya memperlihatkan bagaimana meme yang lahir dari percakapan digital diadopsi dalam aksi protes di negara lain.
Dari Pesan Janggal Menjadi Meme Protes
Frasa "Bismillah, c’est les ténèbres" cepat menyebar karena mudah ditiru dan diparodikan. Salah satu alasannya karena ragam bahasa gaul anak muda di Prancis, antara lain dipengaruhi verlan, sebuah permainan bahasa dengan membalik suku kata. Kata femme, misalnya, menjadi meuf, sedangkan fou menjadi ouf. Bahasa gaul mereka juga menyerap kata dari bahasa Arab, seperti wesh dan kiffer. Namun, penggunaannya beragam menurut lingkungan dan kelompok penutur.

Frasa tersebut beredar di media sosial, ditiru, dan digunakan dalam berbagai bentuk humor. Ketika pengguna internet mengulang kalimat yang sama, mereka tidak perlu menjelaskan kembali seluruh konteks percakapan Snapchat.
Dalam Memes in Digital Culture (2013:18), Limor Shifman menjelaskan bahwa meme dapat berkembang dari informasi budaya yang dibagikan antarpengguna menjadi fenomena sosial bersama. Ia juga melihat peniruan meme sebagai proses yang dapat membangun rasa keanggotaan dalam suatu komunitas.
Zizi Papacharissi memberi sudut pandang lain dalam buku Affective Publics: Sentiment, Technology, and Politics (2015:116). Ia menjelaskan bagaimana ekspresi perasaan di ruang digital dapat menghubungkan orang-orang dan membentuk publik berjaringan. Gagasan ini membantu menjelaskan bagaimana sebuah meme dapat menjadi ekspresi politik bersama, meskipun para penggunanya belum tentu memiliki pandangan yang seragam.
"Semuanya secara samar mencerminkan suasana zaman, atau kairos (momen yang tepat), dan dengan demikian, memiliki daya rekat sosial,” sambung Papacharissi.
Kajian Kathrin Fahlenbrach, "Net icons and memetic imagery of protest in online activism" (2025), juga membantu menjelaskan hubungan antara meme digital dan simbol protes di jalanan. Ia meneliti bagaimana gambar protes disalin, dipindahkan ke konteks baru, lalu digunakan kembali dalam aktivisme daring maupun aksi fisik. Meski kajiannya berfokus pada citra visual dalam gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat dan gerakan demokrasi Belarus, kerangka tersebut dapat membantu membaca perubahan fungsi frasa ini.
Makna politik meme juga bergantung pada siapa yang menggunakannya, dalam situasi apa, dan siapa yang menjadi sasaran lelucon.
Shibboleth, Penanda Orang Dalam dan Orang Luar
Bahasa dapat menjadi penanda untuk membedakan kawan dan lawan. Salah satu konsep yang menjelaskan praktik ini adalah shibboleth, istilah yang berasal dari kisah dalam Kitab Hakim-Hakim di Alkitab.
Dalam Hakim-Hakim 12:5–6, pasukan Gilead menguasai tempat penyeberangan Sungai Yordan setelah berperang melawan suku Efraim. Mereka menguji orang yang hendak menyeberang dengan meminta mereka mengucapkan kata shibboleth. Orang Efraim melafalkannya sebagai sibboleth. Perbedaan pengucapan itu digunakan untuk mengenali mereka, lalu para pelarian yang teridentifikasi dibunuh.
Kasus pelajar Prancis memiliki kemiripan dengan konsep shibboleth karena memperlihatkan bagaimana bahasa dipakai untuk menilai apakah seseorang dianggap bagian dari suatu kelompok. Namun, slogan ini tidak berfungsi seperti shibboleth klasik. Frasa tersebut lebih tepat dipahami sebagai meme yang lahir dari kecurigaan terhadap penyamaran, lalu menjadi penanda pengenalan bersama di kalangan sebagian peserta demonstrasi.

Di Ukraina, kata palianytsia, nama roti tradisional Ukraina, menjadi salah satu penanda identitas perang Rusia-Ukraina. Perbedaan pengucapannya dibicarakan sebagai cara membedakan penutur Ukraina dari orang luar. Dalam penelitian "Ukrainian Wartime Shibboleth Memes: Emergence and Reproduction" (2023), Oleksandra Chernikova menelaah bagaimana penanda bahasa semacam ini berkembang menjadi meme selama perang.
Lain lagi dengan kejadian di Filipina. Dalam artikel "Shimenet as Shibboleth: Linguistic Performance in Philippine Social Media" (2025), Dan Henry F. Gonzales mengkaji meme yang muncul setelah Wakil Presiden Sara Duterte salah melafalkan frasa bahasa Inggris "she may not" dalam pembahasan anggaran pada 2025. Ucapan yang terdengar seperti "shimenet" itu disalin dan disebarkan warganet sebagai meme politik.
Gonzales menganalisis bagaimana kesalahan pengucapan tersebut menjadi penanda dalam perdebatan daring tentang bahasa, identitas, dan kekuasaan. Berbeda dengan palianytsia, meme ini tidak terutama berfungsi sebagai tes untuk mengenali penyusup, tetapi sebagai bahan humor dan kritik politik.
Ketika Lelucon Menjadi Simbol Protes
Laporan Le Monde pada 17 Oktober 2026 mencatat bagaimana humor dan referensi budaya internet Generasi Z memperkuat kebersamaan pelajar dan mahasiswa yang berunjuk rasa. Meme, kostum karakter populer, dan slogan jenaka menjadi bagian dari cara mereka mengekspresikan sikap politik.
"Mereka menunjukkan kepada dunia bagaimana anak muda bisa bergerak dan memimpin melalui tindakan nyata ketika sistem terus mengabaikan mereka," sambungnya.
Paolo Gerbaudo dan Emiliano Treré membahas persoalan ini dalam artikel "In Search of the 'We' of Social Media Activism" (2015). Mereka menjelaskan bagaimana percakapan internal, humor, dan aktivitas digital dapat memperkuat rasa kebersamaan sekaligus mendukung keterlibatan dalam aksi. Slogan yang dikenal bersama menjadi referensi yang dapat dipahami dan digunakan oleh sesama peserta aksi.
Para pelajar juga memanfaatkan protes untuk menyampaikan kritik lewat humor. Namun, humor tidak otomatis mencegah tindakan represif atau menghilangkan risiko dalam demonstrasi.
Fenomena serupa terlihat di Indonesia melalui simbol Brave Pink, Hero Green, dan Resistance Blue. Ketiganya berkaitan dengan peristiwa berbeda, yakni aksi Ibu Ana menghadapi barikade polisi, kematian pengemudi ojek daring Affan Kurniawan pada Agustus 2025, dan kampanye "Peringatan Darurat" pada 2024. Simbol-simbol itu kemudian digunakan untuk menyuarakan solidaritas dan tuntutan keadilan.
Slogan dan simbol protes dapat lahir dari hal-hal yang awalnya tidak memiliki makna politik formal. Ketika diulang dan digunakan bersama, lelucon, warna pakaian, atau gambar dapat menjadi penanda solidaritas sekaligus sarana menyampaikan kritik terhadap kekuasaan. Maknanya tetap bergantung pada konteks dan kelompok yang menggunakannya.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id

































