Menuju konten utama

Demo Eropa Kian Memanas, Kemlu Pantau Keselamatan WNI di Prancis

Pemerintah memperkirakan sekitar 550.000 orang ikut dalam aksi pada Sabtu (17/10/2026). Aksi itu berujung pembakaran dan penjarahan.

Demo Eropa Kian Memanas, Kemlu Pantau Keselamatan WNI di Prancis
Armanatta Kristiawan Nasir berdiri saat dipanggil Presiden Prabowo Subianto dalam pengumuman jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (20/10/2024).ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/app/Spt.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Luar Negeri, Armanatta Natsir, menyatakan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) terus memantau keselamatan warga negara Indonesia (WNI) di tengah demonstrasi Eropa yang kian memanas, khususnya di Prancis.

Hal itu disampaikan Armanatta usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

"Tentu terus kami pantau situasi di Eropa, khususnya di Prancis dan beberapa negara lainnya," kata Armanatta saat ditanya soal keamanan WNI di Prancis.

Demonstrasi di Prancis bermula pada 18 September 2026 dari aksi blokade pelajar SMA di Créteil, pinggiran Paris. Gerakan itu kemudian melibatkan mahasiswa, serikat pekerja, dan kelompok rompi kuning.

Pemerintah memperkirakan sekitar 550.000 orang ikut dalam aksi pada Sabtu (17/10/2026). Aksi itu berujung pembakaran dan penjarahan.

Per Minggu (18/10/2026), Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hampir 2.400 orang ditangkap dan hampir 1.000 polisi serta gendarme terluka. Istana Elysee menyebut Presiden Emmanuel Macron mengecam kegagalan antisipasi dan intelijen aparat pada Senin (19/10/2026).

Unjuk rasa serupa juga terjadi di Italia, Belgia, dan Portugal dengan pemicu tingginya biaya hidup.

Di Italia, aparat menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Aksi mahasiswa juga berlangsung di Albania dan Yunani. Selandia Baru pada Senin (19/10/2026) memperbarui panduan keselamatan perjalanan dengan menyoroti demo di Albania, Prancis, Italia, Portugal, dan Spanyol.

Soal isi rapat dengan Presiden, Armanatta menyebut pertemuan itu hanya membahas laporan rutin kunjungan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres ke Indonesia.

"Hanya rutin melaporkan perkembangan hasil kunjungan Sekjen PBB tadi. Itu saja," ujarnya.

Armanatta membantah ada kompromi terkait kehadiran Guterres di Indonesia.

"Bukan kompromi. Beliau hadir ke sini untuk menunjukkan apresiasi kepada Bapak Presiden dan Indonesia yang selama ini mendukung beliau sebagai Sekjen PBB dalam situasi sulit di tingkat global, serta mendorong reformasi sistem multilateral," kata Armanatta.

Ia menambahkan Guterres sangat mengapresiasi Prabowo yang menyempatkan diri mengundangnya ke Hambalang. Saat ditanya soal arahan Presiden, Armanatta menjawab singkat.

"Tadi kami hanya melapor," ujarnya.

Baca juga artikel terkait DEMO atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama