Menuju konten utama

Penyebab Demo di Prancis, Pemicu Kerusuhan, dan Situasi Terkini

Kerusuhan di Prancis berawal dari demo untuk memprotes akumulasi masalah pendidikan dan krisis biaya hidup. Simak penyebab dan kronologi peristiwa ini.

Penyebab Demo di Prancis, Pemicu Kerusuhan, dan Situasi Terkini
Para pekerja sektor publik termasuk pegawai kereta api, guru, tenaga kesehatan, dan petugas pemadam kebakaran—berunjuk rasa di berbagai wilayah Prancis untuk menuntut upah serta kondisi kerja yang lebih baik, beberapa hari sebelum pengumuman anggaran negara berikutnya. pada 29 September 2026. reuters/ Telmo Pinto/NurPhoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Demo besar di Prancis yang awalnya dipicu persoalan pendidikan berkembang menjadi gelombang protes nasional terkait mahalnya biaya hidup dan buruknya layanan publik.

Aksi yang berlangsung sejak 17 Oktober 2026 itu berujung pada kerusuhan, penjarahan toko, hingga pembakaran gedung balai kota di Limoges. Bagaimana situasi terkininya?

Pemerintah Prancis menyebut lebih dari 3.000 toko dijarah atau mengalami kerusakan setelah aksi demo besar mulai pecah. Ribuan orang ditangkap sebagai buntut dari bentrokan antara kelompok demonstran dan polisi yang terjadi di sejumlah kota.

Kerusuhan tersebut menambah tekanan terhadap pemerintahan yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron, di tengah persoalan keuangan negara dan perdebatan mengenai pemangkasan anggaran.

Meski situasi di jalanan mulai berangsur kondusif pada Senin (19/10/2026), pemerintah masih menghadapi tuntutan untuk memperbaiki layanan publik, mengatasi kenaikan biaya hidup, dan memberikan bantuan kepada pelaku usaha yang terdampak.

Apa Penyebab Demo di Prancis?

Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab demo besar di Prancis:

1. Kekurangan guru dan buruknya fasilitas sekolah

Akar demonstrasi juga berkaitan dengan persoalan pendidikan. Gerakan protes bermula pada September 2026, ketika para pelajar sekolah menengah menggelar aksi di kawasan pinggiran utara Paris. Mereka mempersoalkan kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, serta kondisi fasilitas sekolah yang dinilai tidak memadai.

Aksi yang awalnya berfokus pada persoalan sekolah kemudian berkembang menjadi gerakan yang menyuarakan masalah sosial dan ekonomi yang lebih luas. Mahalnya biaya hidup, kekhawatiran terhadap pemangkasan anggaran, serta kualitas pelayanan publik ikut memperbesar dukungan terhadap demonstrasi.

Pemerintah Prancis telah berjanji mengerahkan sekitar 3.000 guru berkualifikasi yang belum mulai bertugas untuk mengisi kekurangan tenaga pengajar. Namun, pemerintah belum menjanjikan peningkatan anggaran sekolah secara substansial.

Keterbatasan tersebut membuat persoalan pendidikan tetap menjadi salah satu sumber ketidakpuasan, terutama di kalangan anak muda yang merasa akses terhadap pendidikan berkualitas semakin sulit.

Demo di Prancis

Para pekerja sektor publik termasuk pegawai kereta api, guru, tenaga kesehatan, dan petugas pemadam kebakaran—berunjuk rasa di berbagai wilayah Prancis untuk menuntut upah serta kondisi kerja yang lebih baik, beberapa hari sebelum pengumuman anggaran negara berikutnya. pada 29 September 2026. reuters/ Telmo Pinto/NurPhoto

2. Kenaikan biaya hidup dan harga kebutuhan sehari-hari

Salah satu penyebab utama demonstrasi di Prancis adalah meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Harga makanan, energi, transportasi, dan berbagai kebutuhan sehari-hari terus meningkat, sementara kenaikan pendapatan tidak selalu mampu mengimbangi biaya hidup.

Persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Prancis. Data Eurostat yang dikutip Al Jazeera menunjukkan harga barang dan jasa di Prancis meningkat sekitar 59 persen sejak 2000. Kenaikan harga juga terjadi di sejumlah negara Eropa lainnya, termasuk Italia, Spanyol, dan Portugal.

Tekanan ekonomi semakin terasa setelah lonjakan inflasi pada 2022, ketika harga energi meningkat tajam menyusul invasi Rusia ke Ukraina. Kondisi tersebut membuat banyak rumah tangga masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun laju inflasi kemudian melambat.

Pemerintah Prancis sendiri memiliki ruang fiskal terbatas untuk memberikan bantuan dalam skala besar karena kondisi keuangan negara yang tertekan.

Sebelumnya, menurut Reuters, Senin(19/10/2026), pemerintah telah meningkatkan belanja darurat untuk membantu sejumlah sektor, seperti petani, nelayan, dan perusahaan angkutan, menghadapi kenaikan biaya bahan bakar. Namun, kebijakan tersebut belum menyelesaikan keresahan masyarakat secara menyeluruh.

3. Penolakan terhadap pemangkasan anggaran dan buruknya layanan publik

Persoalan lain yang memicu demonstrasi adalah rencana efisiensi anggaran pemerintah di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan publik.

Pemerintah berupaya mengendalikan pengeluaran negara, tetapi langkah tersebut menghadapi penolakan karena dikhawatirkan berdampak pada pendidikan dan layanan dasar lainnya.

Pemerintahan yang dipimpin Macron menghadapi parlemen yang terpecah dan kesulitan mendapatkan dukungan untuk meloloskan anggaran 2027. Pemerintah harus mencari kompromi dengan partai-partai oposisi agar rencana penghematan dapat berjalan.

Situasi Terkini Demo di Prancis

Hingga laporan perkembangan pada 19 Oktober 2026, situasi di jalanan mulai berangsur kondusif, tetapi pemerintah masih mewaspadai kemungkinan munculnya aksi lanjutan. Penyelidikan terhadap pelaku kerusuhan terus berjalan, sementara aparat memperkuat pengamanan di daerah yang dinilai berisiko.

Gelombang protes juga belum sepenuhnya mereda. Sebagian kelompok demonstran telah menyerukan aksi lanjutan pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Serikat pekerja turut menyerukan mogok kerja pada 5 November untuk menentang pemangkasan anggaran dan mendesak kenaikan upah.

Sebelumnya, situasi di Prancis sempat memburuk pada Sabtu, 17 Oktober 2026, ketika demonstrasi di berbagai wilayah Prancis berkembang menjadi bentrokan dan aksi perusakan. Di sejumlah kota, kelompok yang terlibat dalam kerusuhan terlibat bentrokan dengan polisi, membakar kendaraan, merusak fasilitas umum, dan menjarah toko.

Salah satu insiden paling serius terjadi di Limoges. Gedung balai kota bersejarah yang dibangun pada abad ke-19 terbakar setelah sekelompok orang menyerang bagian gedung dan memicu kebakaran. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan besar pada bangunan yang menjadi pusat pemerintahan kota.

Di kota lain, termasuk Paris, Marseille, Lyon, dan Bordeaux, kerusuhan juga dilaporkan terjadi dalam berbagai bentuk. Sejumlah bangunan publik diserang, toko dirusak, dan barang-barang dijarah.

Pada Senin, pemerintah mulai memusatkan perhatian pada pemulihan kondisi keamanan dan penanganan dampak kerusuhan. Menteri Kehakiman Prancis Gerald Darmanin menyebut sebanyak 2.513 orang telah ditahan terkait kerusuhan dan penjarahan pada akhir pekan.

Pemerintah menyiapkan jam malam terbatas di sejumlah wilayah dan berencana menambah jumlah personel kepolisian, khususnya jika demonstrasi kembali meningkat pada akhir pekan berikutnya. Aparat juga melanjutkan penyelidikan untuk mengidentifikasi pelaku perusakan melalui rekaman yang beredar di internet.

Selain penegakan hukum, pemerintah menyiapkan bantuan bagi pelaku usaha yang terdampak. Salah satu langkahnya adalah skema pembiayaan yang memungkinkan perusahaan mempertahankan pekerja melalui mekanisme cuti atau penghentian kerja sementara yang didanai negara.

Baca juga artikel terkait DEMO atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra