Menuju konten utama

Cuaca Buruk Berpotensi Ganggu Penerbangan-Pelayaran Libur Nataru

BMKG mendeteksi adanya potensi peningkatan ketinggian gelombang laut di sejumlah wilayah selama libur Nataru.

Cuaca Buruk Berpotensi Ganggu Penerbangan-Pelayaran Libur Nataru
Sebuah pesawat melintas di atas pesawat yang akan terbang di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Kamis (10/10/2024). Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mendata jumlah penerbangan internasional yang berangkat dari Bali pada bulan Agustus 2024 tercatat sebanyak 3.187 penerbangan, jumlah tersebut turun 0,22 persen dibandingkan dengan bulan Juli 2024 yakni 3.194 penerbangan. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi cuaca buruk yang berkemungkinan bisa mengganggu jalur penerbangan hingga pelayaran selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan hal tersebut penting untuk diwaspadai karena ada pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) serta gelombang tinggi di sejumlah jalur penerbangan dan pelayaran pada Desember 2025.

“Pada periode Nataru, yaitu pada bulan Desember, rute penerbangan yang perlu diwaspadai yaitu di sekitar Laut Natuna Selatan, Selat Karimata, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Papua bagian utara,” ujar Faisal di dalam Ruang Rapat Komisi V DPR RI, Jakarta, Senin (8/12/2025).

Sementara itu, pada Januari 2026, ada potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus pada rute penerbangan di sekitar Samudra Hindia di sebelah barat Sumatra hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Arafura, dan Papua.

Faisal juga mengatakan BMKG mendeteksi adanya potensi peningkatan ketinggian gelombang laut di sejumlah wilayah selama libur Nataru. Pada Desember 2025, katanya, ketinggian gelombang bisa mencapai 1,25-2,5 meter di berbagai wilayah.

“Kemudian, terkait dengan pelayaran, di sini kami telah mengobservasi dan menganalisis pada bulan Desember gelombang sedang, yaitu pada tinggian 1,25 hingga 2,5 meter diprediksi terjadi di perairan barat dan selatan Sumatra, Selat Sunda, perairan selatan Jawa, Nusa Tenggara, hingga Nusa Tenggara Timur, kemudian perairan utara Kepulauan Anambas, Natuna, serta Samudra Pasifik Utara dan Halmahera hingga Papua,” jelas Faisal.

Sedangkan, lanjut dia, untuk gelombang tinggi dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter itu tidak terjadi di wilayah-wilayah Indonesia.

Lalu, Faisal menyebut gelombang laut pada Januari 2026 patut diwaspadai. Beberapa wilayah yang berpotensi terdampak adalah perairan barat Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara Timur, utara Anambas, Natuna, Laut Natuna Utara, Laut Halmahera, Kepulauan Sangihe Talaud, serta utara Papua Barat hingga Samudra Pasifik Utara dari Halmahera Papua.

“Untuk gelombang tinggi, ini yang perlu diwaspadai, pada ketinggian gelombang 2,5 hingga 4 meter, yaitu di Laut Natuna Utara,” pungkas dia.

Baca juga artikel terkait BMKG atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi