tirto.id - Contoh desa swakarya menunjukkan bagaimana tingkat pembangunan dan kemandirian suatu desa bisa berbeda-beda. Desa sendiri merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah serta berwenang mengatur urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Pemerintah membagi desa menjadi beberapa kategori untuk mempermudah pengelolaan dan pembinaan.
Di Indonesia, terdapat banyak desa swadaya yang masih mengandalkan prakarsa dan sumber daya masyarakat setempat. Kategori desa ini termasuk dalam klasifikasi yang diatur Pasal 11 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 84 Tahun 2015. Pembagian ini juga membantu pemerintah menilai kebutuhan dan potensi tiap desa secara lebih tepat.
Selain swadaya dan swakarya, ada desa swasembada yang menunjukkan tingkat kemandirian tinggi. Pengelompokan jenis-jenis desa tersebut memudahkan penyusunan program pembangunan yang sesuai karakteristik masing-masing. Dengan memahami pengertian dan kategori desa, masyarakat dan pemerintah bisa lebih efektif dalam merencanakan pembangunan.
Contoh Desa Swadaya dan Ciri-Cirinya
Desa swadaya adalah desa yang sebagian besar masyarakatnya memenuhi kebutuhan dengan bergantung pada alam. Ciri-ciri desa swadaya di antaranya penduduknya masih jarang, penduduknya terikat adat istiadat, lembaga sosial di desa sederhana, tingkat pendidikan masyarakat desa rendah, hingga belum mampu menyelenggarakan urusan pemerintahan sendiri. Contoh Desa Swadaya di Indonesia sebagai berikut:
- Desa Kanekes di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Desa Kanekes didiami Suku Baduy.
- Desa Sugihwaras di Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.
- Kampung Bena di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
- Desa Jangkang Lama di Kecamatan Lahei Barat, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.
- Desa Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.
- Desa Teluk Malewai di Kecamatan Lahei Barat, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.
- Terletak di daerah terpencil atau jauh dari pusat kota.
- Penduduknya sedikit dan tersebar, tidak padat.
- Mata pencaharian mayoritas bersifat agraris atau tradisional.
- Masyarakat menjaga adat istiadat dan nilai-nilai tradisional dengan ketat.
- Tingkat pendidikan dan keterampilan penduduk relatif rendah.
- Fasilitas umum dan sarana infrastruktur minim atau terbatas.
- Lembaga sosial formal sederhana, biasanya berbasis keluarga atau komunitas kecil.
- Kehidupan sangat bergantung pada kondisi alam dan lingkungan sekitar.
- Interaksi dengan dunia luar terbatas, masyarakat cenderung tertutup.
- Solidaritas dan hubungan antarwarga sangat erat, terasa seperti keluarga besar.
Contoh Desa Swakarya dan Cirinya
Desa swakarya merupakan desa yang lebih maju dibanding desa swadaya. Ciri-ciri Desa Swakarya di antaranya adat istiadat telah mengalami perubahan, gotong royong lebih efektif, administrasi desa sudah berjalan, serta mampu menyelenggarakan urusan pemerintah sendiri. Contoh Desa Swakarya di Indonesia sebagai berikut:
- Desa Gunung Rajak di Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Desa Sukarara di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Desa Rensing di Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Desa Bungtiang di Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
- Desa Sukamaju di Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.
- Kebiasaan lama mulai longgar: Norma adat tidak lagi kaku, masyarakat lebih fleksibel menerima perubahan.
- Terbuka terhadap pengaruh luar: Ide, budaya, dan teknologi dari luar desa mulai masuk dan diterapkan.
- Mata pencaharian beragam: Selain pertanian, muncul usaha kecil, kerajinan, perdagangan, dan jasa.
- Perekonomian semakin produktif: Hasil produksi dapat dijual ke luar desa, meningkatkan kesejahteraan.
- Pemerintahan desa aktif: Struktur kelembagaan dan administrasi desa mulai berjalan rapi dan efisien.
- Sarana dan prasarana memadai: Jalan, transportasi, fasilitas pendidikan, dan layanan umum lebih baik.
- Masyarakat melek teknologi: Penggunaan alat modern dan komunikasi dengan dunia luar mulai meningkat.
- Kesadaran pendidikan tinggi: Anak-anak lebih banyak yang sekolah, dan masyarakat menghargai pendidikan.
Desa Swasembada dan Ciri-Cirinya
Desa Swasembada merupakan desa yang telah mampu mengembangkan seluruh potensinya secara optimal, dengan lokasi dekat dengan perkotaan. Ciri-ciri Desa Swasembada di antaranya semua keperluan hidup pokok dapat disediakan desa sendiri, pendidikan dan keterampilan penduduk sudah tinggi, serta sarana dan prasarana desa lengkap. Contoh Desa Swasembada di Indonesia sebagai berikut:
- Desa Wotsogo di Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
- Desa Hanura di Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran, Provinsi Bandar Lampung.
- Desa Tamansari di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.
- Desa Pujon Kidul di Kecamatan Pujon, Kota Malang, Jawa Barat.
- Desa Seigentung di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
- Kebutuhan pokok terpenuhi secara mandiri: Desa mampu menyediakan pangan, air, energi, dan kebutuhan dasar lain tanpa sangat bergantung dari luar.
- Perekonomian kuat dan beragam: Mata pencaharian penduduk tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi mencakup pertanian, industri kecil, perdagangan, dan jasa.
- Fasilitas dan prasarana memadai: Infrastruktur seperti jalan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan tersedia dengan baik.
- Pendidikan dan keterampilan penduduk tinggi: Warga memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang baik, serta mampu memanfaatkan teknologi.
- Penggunaan teknologi dan modernisasi: Alat dan teknologi modern digunakan dalam produksi, transportasi, komunikasi, dan pelayanan masyarakat.
- Administrasi dan kelembagaan berjalan baik: Pemerintahan desa dan lembaga sosial terorganisir, dengan administrasi yang efektif.
- Hubungan dengan daerah lain lancar: Desa tidak terisolasi, memudahkan pemasaran produk, mobilitas, dan interaksi sosial.
- Masyarakat berpola pikir modern dan dinamis: Warga berpikir rasional, kreatif, terbuka terhadap perubahan, dan tidak terlalu terikat adat istiadat tradisional dalam ekonomi.
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Fadli Nasrudin
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono
Masuk tirto.id






































