Cina yang Membangun, Rusia yang Untung

Cina yang Membangun, Rusia yang Untung
Perdana Menteri India Narendra Modi bersama Presiden Cina Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan di Hangzhou, Cina. REUTERS/Wang Zhao.
Reporter: Yantina Debora
15 November, 2017 dibaca normal 2:30 menit
Rusia memanfaatkan infrastruktur Cina untuk memperoleh keuntungan di sektor energi.
tirto.id - Pada 2005, sebuah tim dari perusahaan konsultan bernama Booz Allen Hamilton mengeluarkan laporan berjudul Energy Futures in Asia. Dalam laporan itu terdapat istilah "String of Pearls" ("Untaian Mutiara") yang digunakan untuk menggambarkan sebuah strategi yang dilancarkan Cina di sepanjang Sea Line of Communication (SLOC) dari Laut Cina Selatan hingga Samudra Hindia.

Jalur dalam String of Pearls masuk dalam bagian strategi One Belt One Road alias Jalur Sutra abad 21 Cina yang mencakup jalur maritim mulai dari Laut Cina Selatan, melewati Selat Malaka, Samudra Hindia hingga Afrika dan Eropa dan jalur darat melalui Asia Barat hingga Eropa.

Jika Jalur Sutra merupakan strategi besar Cina untuk perdagangan, investasi, dan lainnya maka "String of Pearls" ditujukan untuk kepentingan energi Cina. Berbagai infrastruktur yang dibangun Cina di sepanjang Jalur Sutra tak lepas dari kepentingan untuk energi, salah satunya dengan membangun pelabuhan guna memudahkan proses transportasi, pengiriman logistik dan angkutan laut.

Baca juga: Ambisi Cina dengan Proyek Jalur Sutra Abad 21 

Pelabuhan-pelabuhan yang dimaksud misalnya Pelabuhan Hambantota dan Kolombo di Sri Lanka yang menelan biaya sebesar $3 miliar. Proyek pelabuhan di Sri Lanka menjadi salah satu yang terbesar dari proyek pelabuhan Cina di luar negeri. Proyek pelabuhan terbesar lainnya yaitu yang dibangun di Pulau Maday Myanmar. Cina mengucurkan dana sebesar $2,5 miliar untuk proyek ini. 

Pelabuhan di kawasan Asia Selatan lain di antaranya Pelabuhan Gwadar di Pakistan, Pelabuhan Kontainer di Vhittagong Bangladesh, dan Pelabuhan di Kra Kanal Thailand yang sedang digagas untuk membangun Terusan Kra yang nantinya akan menghubungkan Teluk Thailand dengan Laut Andaman.

Pembangunan tersebut pada dasarnya bertujuan mengamankan pasokan energi Cina yang berasal dari Timur Tengah. Menurut Badan Administrasi Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat, Cina menjadi negara kedua dengan konsumsi minyak terbesar di dunia setelah AS. Pada Desember tahun lalu konsumsi minyak Cina tercatat mencapai 8,6 juta barel per hari.

Jalur pelayaran merupakan transportasi utama minyak Beijing yang diimpor dari Timur Tengah. Selain itu, Cina juga bekerja sama dengan Myanmar membangun jalur pipa minyak dari Myanmar ke Cina sepanjang 771 km.

Pipa minyak itu akan membawa 22 juta ton minyak setiap tahunnya ke Cina. Kehadiran pipa minyak ini bertujuan untuk mempersingkat transportasi minyak ke Cina. Kapal-kapal pun tak perlu melewati Selat Malaka dan Singapura untuk membawa minyak ke Cina.

Baca juga: Di Balik Kunjungan Raja Salman ke Rusia

Cengkeraman kuat di wilayah Samudra Hindia ternyata tak hanya menguntungkan Cina. Rusia yang juga berusaha memperluas pengaruhnya di Timur Tengah hingga Asia Selatan turut merasakan manfaat dari strategi Cina di wilayah tersebut.

Cina yang Membangun, Rusia yang Untung

Berbeda dengan Cina yang menancapkan pengaruh di Asia Selatan dengan sejumlah kucuran dana untuk pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan dan lainnya. Rusia yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang lemah tak banyak mengandalkan kasnya untuk menancapkan pengaruh di Asia Selatan atau sepanjang Samudra Hindia.

Rusia lebih mengincar peran potensial dari kerja sama Cina misalnya dengan Pakistan. Rusia lebih banyak memanfaatkan celah yang tak dimanfaatkan oleh Cina di wilayah yang memiliki hubungan bilateral yang baik dengan India.

Misalnya, dalam laporan The Economist, Pakistan memperoleh hibah dan pinjaman lunak Cina untuk proyek infrastruktur sebesar $62 miliar. Dari dana $62 miliar tersebut, pemerintah Pakistan akan mengalokasikannya untuk mengatasi krisis listrik yang menyebabkan pemadaman listrik sekitar 10-12 jam sehari pada 2013. Proyek seperti inilah yang diincar oleh Rusia.

Baca juga: Pertemuan Jalur Sutra dan Poros maritim

Rusia juga tak perlu membangun infrastruktur baru di Pakistan sebagai sarana penunjang transportasi. Kremlin mendapat persetujuan dari Pakistan untuk dapat memanfaatkan pelabuhan Gwadar yang menjadi salah satu proyek pelabuhan Cina. Pelabuhan itu dapat dimanfaatkan Rusia dalam proses perdagangan dengan negara di Asia Selatan hingga Timur Tengah.

Selain itu pada 2015, Rusia yang memiliki sumber daya energi yang melimpah ini berhasil mencapai kesepakatan dengan Pakistan soal pembangunan pipa gas alam Rusia yang menghubungkan Karachi dan Lahore senilai $2 miliar.

“Proyek ini akan membawa kerja sama pada tingkat yang lebih tinggi antara Rusia dan Pakistan,” Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

Tak hanya di Pakistan, Rusia juga mengakrabi India yang tak begitu akur dengan Cina akibat perluasan pengaruh negeri tirai bambu di wilayah Asia Selatan. Sedangkan di sisi lain, Rusia memperkuat hubungan kerja sama dengan Iran yang menjadi pintu masuk Rusia ke Samudra Hindia.

Hubungan yang baik antara Rusia, India dan Iran membuat Rusia dipercayakan untuk menjadi bagian dalam proyek pembangunan pipa gas antara Iran dan India. Pipa sepanjang 1.200 km itu akan membawa gas dari Iran menuju India.
Sedangkan dalam kerja sama bilateral dengan India, Moskow berhasil mengakuisisi pelabuhan dan kilang Vadinar Essar Oil di Gujarat.

Menurut Nicholas Trickett dari The Diplomat, Rusia akan mampu memainkan peran penting dalam perdagangan energi ke Timur Tengah karena menguasai pelabuhan Vadinar di India, Gwadar dan Karachi di Pakistan, dan Chabahar di Iran tanpa harus bersusah payah membangun pelabuhan miliaran dolar AS seperti yang dilakukan Cina.

Baca juga artikel terkait JALUR SUTRA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - yan/win)

Keyword