Periksa Fakta

Benarkah Cina Minta Dua Pulau untuk Bayar Utang Indonesia?

Oleh: Irma Garnesia - 24 Oktober 2019
Dibaca Normal 2 menit
Presiden Jokowi bersalaman dengan Xi Jinping saat menghadiri kerja sama bilateral pada Mei 2017 di Beijing.
tirto.id - Pada 21 Oktober lalu, akun Facebook Mastur Alghifari membagikan artikel berjudul “Tiongkok Minta Dua Pulau untuk Bayar Utang RI? Ngawur, tuh” di grup Facebook Suara Rakyat Indonesia (arsip). Postingan itu mendapat 143 komentar dan dibagikan 249 kali oleh warganet per 23 Oktober 2019.

Informasi itu tak hanya sekali beredar di Facebook. Sebelumnya, warganet bernama Syafi’i Mohamad membagikan artikel yang sama di ‘Grup Prabowo Pilihan Pasti 2019. Save Nkri Save Pancasila’ (arsip). Dalam keterangan unggahannya pada 21 Oktober, Syafi’i menulis, “Cebong tahu rasa, kalo indonesia jadi indochina kalo kagak bica bayar hutang-nya #jokodok_bin_togog.” Artikel ini mendulang banyak komentar dan dibagikan berkali-kali di Facebook.


Asal Usul Informasi

Artikel yang disebar itu berasal dari situs Demokrasi.co.id (arsip) yang dirilis pada 14 Agustus 2018. Informasi yang sama ditemukan pada situs Repelita.com (arsip).

Sebenarnya, artikel yang ditulis oleh Demokrasi.co.id dan Repelita.com bertujuan untuk mengklarifikasi disinformasi yang beredar di Facebook mengenai foto Presiden Joko Widodo dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Pada pertengahan Agustus 2018, memang banyak informasi menyesatkan beredar di internet mengenai “Cina Minta Pulau Sumatera dan Jawa Dijual Untuk Bayar Utang RI”.

Demokrasi.co.id mengutip warganet bernama "Dewa Amor" yang membagikan tautan artikel disertai foto jabat tangan antara Jokowi dan Xi Jinping dengan tulisan, ’’gimana tanggapan kalian kalau ini?’’ Akun itu membagikan artikel dari nkri-news-trending.blogspot.com (saat ini, blog tersebut telah dihapus dan tidak dapat diakses lagi).

Demokrasi.co.id menjernihkan kabar menyesatkan itu:

Jika Anda melakukan pencarian di search engine, dijamin tak ada satu pun media mainstream yang menuliskan kabar itu. Jejak yang ada hanya foto Jokowi dan Jinping. Foto tersebut ternyata kejadian Maret 2015. Saat itu Jokowi bertemu Xi Jinping di Balai Agung Rakyat di Beijing.

Foto tersebut dijepret fotografer Reuters. Kala itu, Jokowi datang ke Tiongkok dalam rangka peringatan ulang tahun ke-65 hubungan kedua negara. Selain itu, Jokowi menandatangani beberapa kesepakatan kerja sama di berbagai bidang.

Sebenarnya, hampir seluruh media mengklarifikasi disinformasi mengenai foto Jokowi dan Xi Jinping, termasuk yang dilakukan Demokrasi dan Repelita.

Namun, pada Oktober 2019, atau menjelang pelantikan Presiden Jokowi, disinformasi itu kembali ramai di Facebook, bahkan menyertakan artikel dari Demokrasi yang juga dipelintir dengan sentimen politik tertentu, sebagaimana yang dilakukan akun Syafi’i Mohamad itu.

Menariknya, akun Syafi’i Mohamad memprovokasi warganet menggunakan tautan artikel dari Demokrasi, yang tujuan awalnya mengklarifikasi disinformasi soal foto Jokowi dan Xi Jinping. Sangat disayangkan orang mudah percaya pada informasi yang ingin diyakininya, meski unggahan yang mereka bagikan berusaha menjelaskan hal sebaliknya.


Fakta

Tirto mengecek foto Jokowi berjabat tangan dengan Xi Jinping itu melalui situs Getty Images. Getty merupakan agen penyedia foto yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika Serikat.

Dari hasil penelusuran di Getty, ada foto jabat tangan Jokowi dan Xi Jinping pada 14 Mei 2017 di Great Hall of People, Beijing. Foto itu diambil oleh fotografer Agence France-Presse (AFP) Kenzaburo Fukuhara, bukan oleh Reuters.

Fukuhura mengambil foto itu saat acara pembukaan KTT Jalur Sutera dan Sabuk Maritim Baru untuk Kerja Sama Internasional (Belt and Road Forum) di Beijing.

Sehingga, klaim dari Demokrasi.co.id bahwa foto jabat tangan kedua presiden itu dilakukan pada Maret 2015 dan bersumber dari Reuters tidaklah tepat. Sayangnya, informasi yang berusaha menjernihkan dan mengklarifikasi hoaks yang beredar itu kurang tepat karena sumber fotonya keliru.


Mega Proyek & Inisiatif Satu Sabuk, Satu Jalan


Kunjungan Presiden Jokowi pada 14-15 Mei 2017 memang bertujuan untuk menghadiri pembukaan acara Belt and Road Forum for International Cooperation di China National Convention Center, Beijing, waktu setempat. Forum ini dihadiri oleh 29 kepala negara.

Proyek Belt and Road Initiative, yang semula bernama One Belt One Road, digagas oleh pemerintah Tiongkok untuk menyambungkan jalur perdagangan antarnegara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim.

Presiden Xi Jinping mengumumkan Proyek ‘visi globalisasi ala Cina’ itu pada 2013 dan mengajak negara lain terlibat. Jalur Sutra Cina akan mencakup kawasan Eropa, Asia dan Afrika.

Selain menghadiri Belt and Road Forum, Presiden Jokowi bertemu Presiden Xi Jinping di Gedung Great Hall of the People, Beijing. Dalam pertemuan itu, Jokowi menawarkan tiga mega proyek kepada pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC).

Mega proyek pertama yang ditawarkan Jokowi adalah proyek koridor ekonomi terintegrasi, konektivitas, industri, dan pariwisata di Sumatera Utara. Proyek ini mencakup pembangunan fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung dan akses jalan dari Kota Medan hingga Sibolga.

Mega proyek kedua adalah investasi di Sulawesi Utara untuk meningkatkan kualitas infrastruktur di Bitung-Manado-Gorontalo dengan pembangunan akses jalan, jalur kereta api, dan pelabuhan serta bandara.

Sementara mega proyek ketiga ialah peluang kerja sama investasi proyek infrastruktur energi dan pengembangan pembangkit listrik di Provinsi Kalimantan Utara.

Topik utama pertemuan bilateral antara Jokowi dan Xi Jinping saat itu memang membahas peningkatan kerja sama ekonomi dan peresmian meneken tiga dokumen kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok.


Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, Tirto menyimpulkan bahwa Demokrasi.co.id sudah tepat mengklarifikasi informasi yang menyesatkan publik. Informasi "Tiongkok minta dua pulau untuk bayar utang Indonesia' memang ngawur.

Namun, Demokrasi.co.id tidak akurat menulis sumber foto Jokowi berjabat tangan dengan Xi Jinping dari Reuters dan terjadi pada Maret 2015.

Foto kedua kepala negara bersalaman itu dijepret oleh fotografer Kenzaburo Fukuhara dari AFP dan terjadi pada 14 Mei 2017.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Fahri Salam
DarkLight