tirto.id - Teori Brahmana adalah salah satu teori tentang masuknya agama Hindu-Buddha ke Nusantara atau Indonesia. Lantas, apa bukti Teori Brahmana dan siapa tokoh yang memprakarsainya?
Pada dasarnya Teori Brahmana ada sebagai pendapat mengenai proses masuknya agama Hindu-Buddha, selain Teori Ksatria, Waisya, Sudra, dan Arus Balik. Mengutip tulisan Mariana dalam Sejarah Indonesia (2020), orang Indonesia bertindak pasif dan aktif dalam penyebaran agama ini.
Orang Indonesia dikatakan pasif lantaran peran penyebaran dilakukan oleh orang-orang India. Sementara aktif merujuk pada orang Indonesia yang kembali dari India, kemudian menyebarkan Hindu-Buddha di Indonesia.
Sehubungan dengan itu, penyebaran agama Hindu ke Indonesia menurut Teori Brahmana diajarkan kepada peserta didik. Berikut penjelasan mengenai isi dan bukti Teori Brahmana.
Apa Isi dari Teori Brahmana?
Penyebaran agama Hindu ke Indonesia menurut Teori Brahmana dibawa oleh para ahli agama. Dinukil dari laman Universitas Islam An-Nur Lampung, golongan brahmana sendiri merupakan pemuka agama dalam kepercayaan Hindu.
Isi Teori Brahmana menjelaskan bahwa orang yang berstatus brahmana menyebarkan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Mereka juga dikatakan cakap menguasai bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa.
Kedatangan para pemuka agama atau brahmana dari India ini bertujuan untuk memenuhi panggilan penguasa-penguasa Nusantara. Lantaran kepandaian para brahmana ini, beberapa di antaranya kerap dijadikan sebagai penasihat kerajaan.
Bukti Teori Brahmana
Berbicara mengenai bukti Teori Brahmana, kita dapat melihat bagaimana peninggalan sejarah agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Contohnya seperti candi, prasasti, artefak, patung, gapura, dan sisa-sisa bangunan tertentu.
Dikutip dari laman SMAN 13 Semarang, bukti yang memperkuat landasan Teori Brahmana adalah prasasti dari masa kerajaan Hindu-Buddha. Seperti yang disebutkan sebelumnya, hanya seorang brahmana yang saat itu bisa melakukan aktivitas baca serta tulis Sanskerta.
Bukan hanya itu, individu yang ingin masuk ke agama Hindu juga harus melakukannya melalui seorang brahmana. Masa kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dahulu kala tentu terpengaruh oleh situasi ini.
Biasanya, raja-raja di Nusantara mengangkat sosok brahmana sebagai penasihat kerajaan atau pemimpin agama di kerajaan. Hal itu terjadi lantaran brahmana memiliki keahlian dan pengetahuan agama maupun kitab suci.
Posisi penting brahmana sebagai penasihat maupun pemimpin agama melahirkan pengaruh besar dalam kerajaan tersebut. Misalnya di sektor keagamaan, pemerintahan, pengadilan, perundang-undangan, dan berbagai aturan lain.
Beberapa permasalahan disimpulkan dan diciptakan aturannya berdasarkan masukan kaum brahmana. Bukan hanya itu, bahkan tak jarang mampu mempengaruhi atau melampaui kebijakan raja.
Lantas, siapa tokoh yang memprakarsai Teori Brahmana? Untuk mengetahui tokoh Brahmana dan apa saja yang diungkapkan olehnya, Anda bisa membaca keterangan berikut ini.
Tokoh Teori Brahmana
Teori Brahmana diprakarsai oleh J.C. van Leur, salah satu peneliti asal Belanda yang tidak menyetujui Teori Ksatria. Perlu diketahui bahwa Teori Ksatria merujuk pada penyebaran agama Hindu-Buddha dengan cara menaklukkan.
Berbeda dengan itu, Van Leur menyatakan bahwa agama Hindu-Buddha tidak datang ke Indonesia melalui penaklukan. Menurut catatan serta sumber sejarah, tidak ada satupun riwayat penaklukan terhadap wilayah Nusantara.
Van Leur juga mempercayai bahwa Teori Waisya tidak sepenuhnya benar, lantaran pedagang asal India punya status serupa dengan pribumi. Penyebaran agama lewat cara tersebut diklaim tidak mudah.
Status sosial yang disandang kaum brahmana berbeda dengan masyarakat. Hal ini diyakini oleh Van Leur, yakni golongan brahmana atau pemuka agama yang berperan paling besar dalam penyebaran agama Hindu-Buddha di Nusantara.
Van Leur juga menerangkan bahwa para penguasa atau raja-raja di Nusantara sangat menghormati tokoh brahmana dan menerima mereka dengan baik. Bahkan, tidak jarang raja-raja tersebut mengundang para brahmana langsung dari India untuk datang ke kerajaan.
Kaum brahmana seolah memiliki legitimasi kuat untuk memberikan restu atau mengangkat para penguasa itu sebagai ksatria. Ajaran yang dibawa oleh kaum brahmana itu kemudian dianut pula oleh raja-raja tersebut, sehingga berdampak besar terhadap penyebaran agama Hindu dan Buddha.
Tokoh pendukung teori brahmana lainnya adalah F.D.K. Bosch, sebagaimana dikutip dari Silang Budaya Lokal dan Hindu Budha (2018). Dalam tulisan Nur Khosiah tersebut, brahmana berperan meningkatkan status sosial penguasa dan diberikan posisi tertentu di kerajaan.
Kelebihan dan Kekurangan Teori Brahmana
Kendati Van Leur dan F.D.K. Bosch menjabarkan secara jelas rincian Teori Brahmana, kelebihan dan kekurangan teori tidak luput menyertainya. Berikut penjelasan tentang kelebihan dan kekurangan Teori Brahmana.
Kelebihan Teori Brahmana
Dari berbagai pendapat tokoh, kelebihan Teori Brahmana salah satunya adalah adanya unsur-unsur kebudayaan yang mementingkan seorang brahmana. Misalnya dalam berkehidupan sehari-hari.Kehadiran huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta di Nusantara juga menjadi kelebihan Teori Brahmana. Kedua hal ini hanya dikuasai oleh seorang brahmana, sehingga keberadaannya tidak dapat terlepas dari pemuka agama tersebut.
Masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia berdasarkan Teori Brahmana juga bisa dilihat kelebihannya lewat berbagai benda peninggalan sejarah. Sejumlah prasasti tertulis menggunakan bahasa Sanskerta, misalnya Prasasti Yupa.

Kekurangan Teori Brahmana
Kendati berbagai kelebihan di atas bisa membuktikan kebenaran Teori Brahmana, tetap ada sejumlah hal yang meragukan. Keraguan ini menjadi sejumlah kelemahan Teori Brahmana.Sebagai kelemahan pertama, perlu dipertanyakan apakah brahmana yang menyebarkan agama Hindu-Buddha ke Indonesia itu hadir terlebih dahulu atau tidak. Sebut ketika disandingkan dengan teori lain seperti Ksatria (penakluk) dan Waisya (pedagang).
Bukan hanya itu, diketahui secara umum dalam tradisi Hindu-Buddha bahwa seorang brahmana pantang menyeberangi lautan. Situasi ini menggambarkan keraguan lantaran Indonesia dan India memiliki jarak yang harus ditempuh kapal.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id







































