tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkap bahwa pengelompokan desil masyarakat didasarkan pada tingkat kesejahteraan yang diukur melalui berbagai indikator.
Setidaknya, ada sekitar 39 indikator yang menentukan masuknya individu ke dalam ukuran desil.
"Desil itu adalah pembagian seluruh masyarakat Indonesia menjadi 10 kelompok dan ini di-ranking dari tingkat kesejahteraannya paling rendah kepada yang paling tinggi," ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (13/2/2026).
Menurut Amalia, pengelompokan desil itu akan mengacu kepada variabel kuesioner milik BPS. Penentuan pengelompokan desil akan mengacu pada seperti kondisi rumah, kepemilikan aset, hingga fasilitas-fasilitas yang digunakan oleh masyarakat itu sendiri.
"Misalnya kondisi rumah, terus kepemilikan aset, kemudian ada konsumsi listrik. Banyak sekali variabel yang kami gunakan begitu. Termasuk kondisi rumah baik atap, lantai, dinding," katanya.
Amalia juga membantah soal data-data kriteria desil yang tersebar di sosial media dengan mengacu kepada pengelompokan angka gaji. Menurutnya, BPS tak pernah megeluarkan itu sebagai acuan sebab banyak faktor yang memengaruhi setiap masyarakat masuk kelompok desil.
"Jadi kalau nanti ada medsos yang bilang ini gaji sekian, itu bukan angka dari BPS," katanya.
Sementara itu, Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menambahkan bahwa terkadang pengelompokan desil memang disebutkan secara sederhana agar bisa dimengerti. Namun, hal itu tetap tak bisa hanya berdasar pada faktor penghasilan atau gaji.
“Jadi bukan angka, jadi yang ada itu indikator ya. Ada 39 variabel atau bagaimana yang kemudian diukur sementara kadang-kadang kita memberikan penjelasan yang sederhana saja, itu sebagai gambaran saja," katanya.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































