tirto.id - Seorang siswa SD berinisial RS (11) di Desa Sungai Lanang, Rawas Ulu, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, mengalami sakit kepala hebat usai jadi korban perundungan (bully) oleh sejumlah remaja SMP yang merupakan teman mainnya. Peristiwa pengeroyokan yang terekam video tersebut kini viral di media sosial dan tengah dipantau ketat oleh pihak kepolisian setempat.
Peristiwa perundungan terjadi di Desa Sungai Lanang, Rawas Ulu, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Selasa (2/6/2026). Video perundungan itu beredar dan viral di media sosial beberapa hari terakhir.
Dalam video, nampak korban mengalami kekerasan oleh beberapa teman-temannya yang sudah duduk di bangku SMP. Korban tak bisa melawan sedikit pun karena dikeroyok ramai-ramai.
Salah seorang pelaku memiting leher korban dan pelaku lain memukuli dan menendang korban berkali-kali. Mayoritas pukulan dan tendangan pelaku mengenai bagian kepala korban.
Tak lama kemudian datang seseorang yang bermaksud melerai. Namun korban dipukuli lagi oleh satu pelaku lain.
Ironisnya, aksi itu direkam seseorang yang suaranya terdengar lebih dewasa. Bahkan perekam melarang teman-temannya yang menyaksikan perundungan terjadi untuk menghentikan pengeroyokan atau menyelamatkan korban.
Perundungan baru berhenti ketika korban menangis. Sementara perekam video hanya membujuk agar korban berhenti menangis.
Kapolsek Rawas Ulu, Iptu Hari Soeharto, mengonfirmasi terjadinya peristiwa perundungan. Dia menyebut perundungan terjadi di sekitar lingkungan sekolah, namun bukan pada saat jam belajar.
"Benar, kejadiannya beberapa hari kemarin, korban mengalami perundungan oleh beberapa teman main," ungkap Kapolsek Rawas Ulu Iptu Hari Soeharto, Jumat (12/6/2026).
Sejauh ini, kata Hari, keluarga belum membuat laporan resmi ke kepolisian karena masih fokus dalam perawatan korban. Sebab usai kejadian korban mengeluhkan sakit kepala berat dan telinga berdengung.
"Infonya kemarin dibawa ke rumah sakit untuk CT scan, tapi kita belum tahu seperti apa hasilnya," kata Hari.
Hari menyebut pihaknya sudah mendatangi kediaman korban dan komunikasi dengan keluarga untuk mengungkap kronologi kejadian dan penyebabnya. Pemerintah desa setempat juga pernah memfasilitasi masing-masing pihak untuk mediasi tetapi gagal karena ditolak keluarga.
"Keluarga belum mau mediasi karena fokus penanganan korban," kata Hari.
Jika mediasi gagal dan dilanjutkan ke pelaporan ke polisi, Hari berkomitmen akan memprosesnya secara transparan dan sesuai hukum yang berlaku. Pihaknya mengimbau masing-masing pihak dapat menahan diri agar tidak terjadi konflik susulan.
"Anak berhadapan dengan hukum [para pelaku] masih di kediaman masing-masing, polisi dan aparat desa mengawasi mereka sampai kasus ini tuntas, baik secara kekeluargaan atau proses hukum," pungkas Hari.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id































