Black Brothers, Duta Rock dari Tanah Papua

Oleh: Nuran Wibisono - 16 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Kisah band ini berkelindan dengan perjuangan kemerdekaan Papua.
tirto.id - Dalam album Those Shocking Shaking Days:Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970–1978 I (2011), "Saman Doye" dari band Black Brothers adalah lagu yang menonjol. Ia tak memakai lirik bahasa Indonesia atau Inggris, melainkan bahasa Papua.

Namun, semburan funk di lagu itu sama kencangnya dengan, katakanlah, "Shake Me" dari AKA, atau "Don't Talk About Freedom" dari The Gang of Harry Roesli. Betotan bass yang kenes, suara sax yang tebal, desahan di awal lagu, mengeluarkan aroma funk nan tegas.

Pengamat musik Taufiq Rahman terpukau oleh "Saman Doye." Ia terkesan karena tak menyangka di Papua tahun 1970-an ada band yang memainkan funk-rock sama baiknya dengan band funk yang berjaya di era 1960-1970-an, War.

"Mendengar intro poliritmis 'Saman Doye', saya seperti kembali ke Detroit era akhir dekade 1960-an dan berpikir kalau Black Brothers sebenarnya bisa menjadi superstar funk di Chicago atau L.A."

Keheranan Taufiq beralasan. Mungkin hal itu juga menimpa banyak pendengar musik lain. Di era 1970-an, keriuhan musik rock kebanyakan berpusat di Jawa. Pada era itu muncul God Bless, AKA, The Rollies, hingga Giant Step. Namun, Black Brothers menjulang dari Papua.

Sejak akhir 1960-an, tanah Papua kedatangan militer Indonesia dalam jumlah besar. Ada banyak pertempuran terjadi antara militer Indonesia dengan warga Papua. Di sisi lain, militer Indonesia juga membuat band untuk mengisi waktu senggang.

Baca Juga: Semua Membela Papua

Dominggus A Mampioper dari Tabloid Jubi mencatat ada banyak band yang dibentuk oleh instansi. Angkatan Laut, misalkan, membentuk grup Varunas. Kodam Cenderawasih punya grup Tjenderawasih, sedangkan Acub Zaenak yang pernah menjabat Gubernur Papua 1973-1975, membentuk kelompok Band Pemda.

"Musik berkembang pesat di Papua. Ada beberapa nama dan grup band lokal yang bermain di klub malam, atau bar. Bahkan ada festival band yang memunculkan musisi Papua," ujar antropolog Ibiroma Wamla.

Pada periode bersamaan, pemuda Henky Merantoni merantau dari Manado ke Biak. Ia pemusik yang punya jam terbang cukup tinggi. Pernah bermain di kapal Tampomas II, juga kapal Finish. Gitaris andal ini juga dikenal sebagai pencipta lagu ulung. Saat pindah ke Biak, lalu ke Jayapura, tak butuh waktu lama untuk bergabung dengan Iriantos.

Di Iriantos, Hengky berperan sebagai gitaris utama. Personel lainnya adalah Sandhy Betay (vokal), Marthy Messet (vokal utama), Agustinus Romaropen (gitar), Benny Betay (bass), Yohi Patipeiluhu (keyboard), Amry Kahar dan David Rumagesan (saksofon), dan Stevy Mambor (drum).

Dengan peran manajer lihai bernama Andy Ayamiseba, Iriantos pindah ke Jakarta untuk mengejar karier musik pada 1976. Berkat tangan dinginnya, beberapa pekan setelah tiba di Jakarta, mereka sudah mendapat kontrak bermain di sebuah restoran. Peran Andy juga makin penting saat mengubah nama band ini, dari Iriantos menjadi Black Brothers.

Setelah menambang jam terbang cukup banyak, Black Brothers dilirik oleh label rekaman Irama Tara. Di bawah label yang didirikan oleh Nyo Beng Seng itu, Black Brothers merekam album pertama mereka, Irian Jaya I. Di album ini juga ada lagu "Kisah Seorang Pramuria" yang diciptakan Hengky.

Menurut Ibiroma, album itu sempat mendapat kritik karena menampilkan lagu "Kisah Seorang Pramuria" yang sudah populer lebih dulu oleh The Mercys. Black Brothers dianggap mendompleng nama besar Mercys. Padahal lagu itu adalah ciptaan Hengky yang dibuat pada 1972. Saat itu Hengky masih bermain dalam grup Galaxy's 69 di Sorong.

Hengky juga seperti punya ketertarikan dengan tema pramuria. Setidaknya ia membuat beberapa lagu dengan judul mengandung kata pramuria. Selain lagu tersohor itu, ada juga "Cinta dan Pramuria", "Untukmu Pramuria", "Doa Pramuria", Balada Pramuria", dan "Pramuria Tapi Biarawati."

Di album perdana Black Brothers, ada beberapa lagu hits. Salah satunya adalah interpretasi ulang lagu daerah Papua, "Apuse". Awalnya lagu ini bertempo lambat. Hingga di menit 1:20, saat gitar solo Hengky masuk, tempo berubah jadi ngebut. Funk dengan tenaga penuh! Diakhiri dengan sirkus sinkopasi antara gitar dan drum.

Salah satu momen penting dalam karier Black Brothers datang pada 28 Desember 1976. Atas inisiatif kelompok mahasiswa Papua di Jakarta, Black Brothers manggung bersama SAS, grup band pecahan AKA yang terdiri dari Soenata Tanjung, Arthur Kaunang, dan Syech Abidin. Dua band funk rock ini manggung di Istora Senayan.

Baca Juga: Kisah Rock Star Zaman Dulu

Sepanjang karier, mereka membuat 8 album studio dan 3 album kompilasi lagu terbaik. Semua album dirilis oleh Irama Tara. Album kedua mereka, Derita Tiada Akhir (1977) melejitkan lagu "Hari Kiamat". Sebagai kelompok band, mereka dikenal berani memasukkan tema yang tak lazim. Selain itu, mereka juga memainkan lagu keroncong, semisal "Keroncong Kenangan" atau "Keroncong Gunung Cyclop".

"Mereka juga pernah menulis lagu tentang perang Vietnam, kelaparan di Ethiopia, perang Pasifik, juga tentang nuklir," ujar Ibiroma.

Pada 1980-an, mereka pindah ke Belanda. Ada simpang siur tentang alasan kepergian mereka. Ada yang mengatakan mereka pergi untuk mencari suaka politik. Ada pula yang mengatakan mereka pergi untuk mengejar karier musik. Menurut Ibiroma yang beberapa kali menulis tentang Black Brothers, kepergian mereka lebih untuk mengejar karier.

"Kalau tekanan politik tidak mungkin. Mereka dapat izin manggung kok pada saat itu," ujarnya.

Pengamat musik Denny Sakrie, dalam wawancara bersama Metro TV, pernah mengatakan kepergian itu amat disayangkan. Kepergian itu, membuat penggemar mereka di Indonesia kehilangan jejak Black Brothers. Tak tahu apa yang mereka buat di Belanda. "Sangat disayangkan, band yang punya prospek masa depan yang bagus, akhirnya menjadi hilang ditelan bumi. Karena visi politik yang lebih kuat," kata Denny.

Baca Juga: Mengapa Papua Ingin Merdeka

Infografik Duta rock dari tanah papua


Selepas hijrah dari Indonesia, aspirasi politik Black Brothers memang lebih gencar disuarakan. Selepas tinggal di Belanda, mereka sempat berpindah ke Vanuatu dan Papua Nugini. Situs Discogs menyebut Black Brothers mempengaruhi banyak band-band muda di Papua Nugini. Begitu juga di tanah kelahiran mereka, Papua. Selepas Black Brothers, muncul band-band seperti Black Papas, Black Sweet, Black Power, juga Black Family.

Di luar Papua, mungkin tak banyak orang yang ingat Black Brothers. Lagu "Kisah Seorang Pramuria" pun lebih lekat dengan nama The Mercys. Namun di Papua, Black Brothers tetap dielukan. Menurut Ibiroma, Black Brothers adalah idola yang tidak tergantikan di Papua. Mereka menjadi duta besar rock untuk Papua. Meski ada banyak band baru bermunculan di Papua, belum ada lagi band rock yang sebesar dan seberhasil Black Brothers.

"Di sini, rap dan hip-hop punya akar musik. Tapi Black Brothers tetap nomor satu."

Baca juga artikel terkait PAPUA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Maulida Sri Handayani