tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja mengungkapkan ancaman terbarunya kepada Iran. Trump menyebut Teheran perlu bergegas jika tak mau semuanya dihancurkan hingga “tidak akan ada yang tersisa”. Di sisi lain, perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 ini telah menimbulkan tekanan domestik bagi pemerintahan Trump di AS.
Ancaman terbaru Trump itu ia ungkap melalui unggahan media sosial miliknya pada Minggu (17/5). Ia memperingatkan Teheran tak lagi punya banyak waktu untuk menyetujui proposal penghentian perang yang dikirim Washington.
“Bagi Iran, Waktu Terus Berjalan, dan mereka sebaiknya segera bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT PENTING!”, tulis Trump.
Menukil CNN, ancaman itu dilayangkan Trump sehari setelah ia menggelar rapat dengan anggota tim keamanan nasionalnya pada Sabtu (16/5). Rapat ini disebut membahas langkah lanjutan AS dalam perang di Asia Barat.
Rapat itu dilaporkan dihadiri Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, dan utusan khusus Steve Witkoff. Mereka disebut berkumpul di klub golf Trump di Virginia. Rapat serupa dilaporkan bakal kembali digelar pada awal pekan ini.
Ancaman yang kemudian dikeluarkan Trump kini tampak jadi sinyal bahwa ia mulai lebih serius mempertimbangkan untuk kembali bertempur dengan Iran, guna memaksa mereka menyetujui syarat penghentian perang dari AS.
Trump juga dilaporkan telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu, meski detail pembicaraan belum bisa dipastikan. Seturut Al Jazeera, lusinan pesawat pengangkut amunisi AS disebut telah mendarat di Israel pada Senin (18/5).
Di sisi lain, Iran merespons ancaman terbaru Trump dengan menyebut proposal perdamaian AS belum berisi tawaran “konsesi nyata”. Kantor berita Mehr yang didanai Pemerintah Iran merilis pernyataan Teheran itu, merilisproposal yang dikirim Iran hanya cara AS “mendapatkan konsesi yang gagal diperoleh selama perang”.
Laporan yang dirilis Mehr itu juga mengutip juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shakarchi, yang menyebut bahwa ancaman Trump adalah langkah yang kontraproduktif bagi keberlangsungan negosiasi diplomatik.
Shakarchi menyebut ancaman yang terus diulangi Trump “tidak akan menghasilkan apa pun selain menerima pukulan yang lebih menghancurkan dan parah”.
AS Bisa Terjadi Revolusi Politik jika Tetap Kirim Pasukan ke Iran
Ketika Trump tampak hendak kembali memulai serangan ke Iran, publik AS dilaporkan makin resah dengan keputusan presiden itu. Eks anggota kongres AS memperingatkan hal ini dapat memicu terjadinya “revolusi politik”.
Peringatan itu diungkap Marjorie Taylor Greene, mantan anggota kongres AS yang pernah dikenal sebagai sekutu dekat Trump. Greene mengkritik dengan keras adanya potensi AS kembali bertempur dengan Iran.
“Kami mengatakan, tidak akan ada lagi perang di luar negeri dan kami sungguh-sungguh [dengan pernyataan ini]. Koalisi akan bersatu dan tak terbendung. Saya akan memastikan itu,” katanya di akun X miliknya pada Senin.
Greene memulai kritiknya dengan kalimat “KITA. SUDAH. SELESAI”, yang dimaksudkan sebagai ancaman jika Trump betulan memilih kembali mengirim pasukan ke Iran di saat peperangan tak lagi populer bagi publik AS.
Greene sebelumnya merupakan salah satu pentolan dalam gerakan “Make America Great Again (MAGA)”. Gerakan itu telah berhasil menjadi kendaraan Trump untuk naik ke tampuk kekuasaan dengan membingkainya sebagai pemimpin yang, salah satunya, mengedepankan kepentingan domestik ketimbang luar negeri AS.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































