tirto.id - Dalam berbagai tradisi dan ajaran agama, kebohongan sering dianggap sebagai pelanggaran moral yang serius. Senada dengan anggapan ini, filsuf abad ke-18 Immanuel Kant juga menyebut kebohongan sebagai "kejahatan bawaan radikal dalam sifat manusia" yang harus dihindari, bahkan ketika menyangkut masalah hidup dan mati.
Tidak hanya satu ayat kitab suci di atas saja, sejarah dan filosofi pun dengan tegas melarang penyampaian kesaksian palsu, dan dalam Islam serta Buddhisme, kebohongan juga dikecam sebagai tindakan yang salah.
Pada kenyataannya, orang sering berbohong untuk melindungi diri mereka sendiri dan menghindari gangguan dari orang lain yang mengancam zona aman dan nyaman mereka.
Berbohong mungkin sering dianggap sebagai tindakan yang remeh atau bahkan cerdik dalam beberapa konteks, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa kebohongan memiliki dampak yang jauh lebih mendalam dan serius daripada sekadar kebiasaan sehari-hari. Studi-studi pun menunjukkan bahwa kebohongan bukan hanya sekadar kemampuan sosial, tetapi juga memiliki implikasi kesehatan yang signifikan.
Berbohong sebagai Keahlian Sosial
Pada dasarnya, berbohong adalah keterampilan yang dipelajari dan dipraktikkan. Dalam interaksi sosial, banyak orang yang menggunakan kebohongan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menghindari konflik, melindungi perasaan orang lain, atau memanipulasi situasi agar lebih menguntungkan bagi mereka. Kebohongan dapat bervariasi dari yang kecil dan tidak signifikan, seperti memberi alasan palsu untuk keterlambatan, hingga kebohongan besar yang melibatkan penghindaran tanggung jawab atau penipuan.
Sebuah studi oleh psikolog Robert S. Feldman dari Universitas Massachusetts menemukan bahwa kebohongan sering terjadi dalam percakapan sehari-hari. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Basic and Applied Social Psychology, ditemukan bahwa 60% orang berbohong setidaknya sekali dalam percakapan selama 10 menit dan rata-rata mengatakan dua hingga tiga kebohongan.
Peserta studi, yang tidak tahu bahwa percakapan mereka direkam, terkejut saat menonton rekaman dan menyadari bahwa mereka berbohong lebih banyak daripada yang mereka kira.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kebohongan sering terjadi dalam upaya untuk tampak menyenangkan atau kompeten, dan mengungkapkan bagaimana kebohongan bisa menjadi bagian dari norma sosial yang rumit. Meskipun kebohongan kecil sering dianggap sebagai bagian dari sopan santun, dampaknya pada kepercayaan diri dan hubungan interpersonal bisa signifikan.
Para ahli psikologi sosial mengidentifikasi bahwa kebohongan bisa menjadi keahlian yang dipelajari seiring waktu, dan orang-orang yang sering berbohong cenderung menjadi lebih mahir dalam menyembunyikan kebenaran dan mengendalikan narasi. Namun, keterampilan ini bukan tanpa risiko. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa berbohong dapat memengaruhi kesehatan secara signifikan.
Kebohongan Bisa "Membunuh"mu, Ini Dampak Negatif yang Perlu Kamu Waspadai
Kasus Mr. Pinocchio: Pingsan & Kejang saat Berbohong
Berbohong, meskipun sering dianggap sebagai kemampuan canggih dari pikiran manusia, membawa dampak negatif yang signifikan. Salah satu contoh ekstrem adalah kasus seorang pria berusia 51 tahun, yang disebut "Mr. Pinocchio," yang mengalami pingsan dan kejang setiap kali ia mencoba berbohong. Kondisi ini disebabkan oleh tumor di otaknya yang merangsang amigdala, bagian otak yang mengatur emosi dan dapat memicu kejang saat berbohong. Tumor tersebut mengganggu kariernya sebagai pejabat tinggi di Komunitas Ekonomi Eropa karena rekan-rekannya dapat langsung mengetahui ketika ia berbohong.Ketika seseorang berbohong, terutama dalam situasi yang menuntut tingkat ketegangan tinggi, tubuh mereka berisiko mengalami kejang otot atau spasme. Ini terjadi karena sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab untuk respons "fight or flight" (bertempur atau melarikan diri), menjadi aktif. Aktivasi yang berlebihan dari sistem ini dapat menyebabkan ketegangan otot, nyeri, dan kejang.
Kasus yang dijabarkan Theodor Schaarschmidt di artikelnya yang berjudul The Art of Lying ini menunjukkan bahwa berbohong tidak hanya memiliki konsekuensi sosial tetapi juga kesehatan yang serius. Perubahan kecil dalam struktur otak dapat menyebabkan reaksi fisik yang parah.
Meskipun berbohong kecil-kecilan, seperti memberi pujian palsu atau membuat alasan palsu, tampaknya memperlancar hubungan sosial, dampak jangka panjangnya tetap dapat merugikan.
Studi: Berbohong akan Memperburuk Kesehatan Mentalmu
Penelitian oleh Dr. Anita E. Kelly, seorang profesor psikologi di University of Notre Dame, menunjukkan bahwa kebohongan dapat memiliki dampak besar pada kesehatan mental.
Dalam studi yang melibatkan lebih dari 110 peserta, Dr. Kelly menemukan bahwa orang yang berbohong secara teratur melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lebih jujur. Peserta yang terlibat dalam kebohongan berulang kali mengalami perasaan cemas, tertekan, dan bahkan kelelahan emosional.
Ketika seseorang berbohong, mereka tidak hanya harus memikirkan kebohongan itu sendiri, tetapi juga harus terus-menerus menavigasi konsekuensi dari kebohongan tersebut. Ini bisa termasuk mengingat detail kebohongan, menjaga konsistensi dalam cerita mereka, dan berurusan dengan potensi konflik yang mungkin timbul. Semua ini menambah beban mental yang dapat menyebabkan stres kronis.
Berbohong Hanya akan Membuatmu Susah Tidur & Kembung
Masalah tidur adalah salah satu dampak yang sering dilaporkan. Stres yang berkelanjutan akibat kebohongan dapat menyebabkan insomnia atau tidur yang tidak nyenyak. Gangguan pencernaan juga dapat terjadi karena sistem pencernaan sangat sensitif terhadap stres. Peningkatan kadar hormon stres seperti kortisol dapat memengaruhi fungsi pencernaan dan menyebabkan gejala seperti kembung, nyeri perut, dan gangguan lainnya.Editor: Iswara N Raditya