tirto.id - Arnoun, kota kecil di tenggara Nabatieh, Lebanon Selatan, dipenuhi asap pekat dari amunisi fosfor putih. Kabut beracun itu menutup pandangan di perbukitan curam, sementara pasukan darat Israel bergerak maju.
Dari balik asap, siluet tentara Zionis itu muncul, terus menapaki reruntuhan batu berusia ratusan tahun. Di puncak benteng kuno itu, mereka mengibarkan bendera Israel dan bendera unit Golani, mengulang adegan yang pernah terjadi pada Juni 1982 saat Perang Lebanon Pertama. Kala itu, benteng dianggap simbol kemenangan besar setelah pertempuran sengit melawan pejuang perlawanan Palestina.
"Pengibaran bendera Israel dan bendera Brigade Golani di atas kastil mengejutkan bagi saya dan semua orang selatan dan Lebanon," tutur Hussain Alawieh, pemandu wisata lokal di Lebanon Selatan yang biasa membawa turis ke kastil.
Hal serupa diutarakan Wali Kota Arnoun, Fouad Fatimi, "Tentu saja, ini membawa saya kembali ke masa pendudukan. Kami kembali ke 1986, 1987, dan 2000. Ini mengingatkan pada hari-hari menyakitkan itu."
Arnoun sudah kosong akibat serangan udara sebelum Israel tiba, dan Fatimi sempat mendapat telepon dari perwira Israel yang memerintahkan evakuasi.
Invasi darat Israel yang terus melanggar gencatan senjata telah menembus Sungai Litani hingga mendekati Sungai Zahrani dan menghancurkan desa-desa di sekitarnya. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan Israel akan mempertahankan kendali atas benteng itu sembari menghancurkan infrastruktur perlawanan di Lebanon Selatan.
Pelanggaran terang-terangan itu memicu kecaman internasional. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, mendesak pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, menilai pendudukan Israel di wilayah Lebanon melanggar hukum internasional.
Benteng batu kapur yang dikenal Beaufort Castle itu telah jadi sejarah jejak pejuang, tawanan, dan jenderal dari berbagai imperium. Semua datang dengan tujuan penguasaan titik pandang strategis yang mengawasi jalur dari Laut Tengah hingga pedalaman Levant.
Mengakar di Cadas Curam
Benteng Beaufort berdiri di tepi tebing curam di Nabatieh, Lebanon Selatan, sekitar satu kilometer dari Desa Arnoun. Ketinggiannya mencapai 700 meter di atas permukaan laut, langsung menghadap lembah Sungai Litani. Posisi ini menjadikannya titik observasi militer dari menara benteng, pergerakan di Lebanon Selatan, jalur lembah Beqaa, hingga dataran tinggi Galilea bisa diawasi dengan jelas. Tebing batu yang menjadi fondasi benteng sekaligus berfungsi sebagai pertahanan alami yang sulit ditembus.
Ada benteng yang lebih kecil di lokasi ini sebelum tahun 1139, yang oleh sebagian ahli diperkirakan berasal dari akhir periode Romawi atau Bizantium. Namun, tidak ada bukti arkeologis yang kuat, dan sejarawan umumnya hanya menyimpulkan bahwa posisi strategisnya sudah dimanfaatkan sejak lama. Tebing Beaufort menjadi mata pengawas terhadap ancaman perompak maupun pasukan musuh.
Nama lokalnya, Qal‘at al-Shaqif Arnun, berasal dari kata Aramaik "Shaqif” yang berarti tebing curam atau batu karang menjulang. Struktur benteng dipahat langsung dari tebing, menjadikannya benteng yang sulit ditaklukkan dari sisi lembah.
Pada 1139 di masa Perang Salib, Raja Fulk dari Yerusalem memimpin pengepungan dan merebut benteng dari penguasa Damaskus. Menyadari potensi topografinya, ia memerintahkan rekonstruksi besar-besaran dengan arsitek Eropa.
Benteng diperluas menjadi kompleks pertahanan. Halaman bawah untuk barak, gudang, dan istal, serta benteng inti di atas sebagai pertahanan terakhir. Parit buatan ditambahkan untuk memperkuat sisi yang tidak terlindungi jurang. Para pembangunnya dari Prancis menamainya "Beaufort" atau "Bel fort", yang berarti "Benteng Indah".
Di bawah penguasaan bangsawan Sidon, Beaufort berkembang menjadi pusat komando feodal sekaligus simbol kekuasaan. Benteng memastikan jalur logistik, pergerakan pasukan, dan arus peziarah antara Yerusalem dan kota-kota pelabuhan tetap aman dari serangan pasukan muslim.
Sejak itu, Beaufort menjadi saksi perebutan kekuasaan yang terus berulang, menjadikan tebing batu ini menjadi titik kunci dalam sejarah panjang konflik di Levant.
Jatuhnya Beaufort ke Tangan Salahuddin al-Ayyubi
Pada akhir abad ke-12, benteng ini menjadi salah satu titik kunci dalam perebutan kekuasaan antara pasukan Salib dan kekuatan muslim yang dipimpin Salahuddin al-Ayyubi. Sebagai pendiri dinasti Ayyubiyah, Salahuddin bertekad menyatukan dunia Islam dan menyingkirkan dominasi Eropa di Levant. Beaufort, yang mengontrol jalur vital antara Tirus dan pedalaman, menjadi target strategis utama.
Momentum datang setelah Pertempuran Hattin pada Juli 1187. Pasukan Salib hancur total, banyak bangsawan ditawan, dan Yerusalem jatuh ke tangan Salahuddin. Namun Reginald dari Sidon, penguasa Beaufort, berhasil lolos dan kembali ke bentengnya. Ia tahu Beaufort adalah aset terakhir yang harus dipertahankan.
Pada 1189, Salahuddin mengepung benteng itu. Catatan Ibnu al-Atsir dalam karyanya yang berjudul Al-Kamil fi al-Tarikh (1231:3198) menggambarkan bagaimana pasukan Ayyubiyah menekan posisi Beaufort dari Marjayoun. Kemudian Reginald mencoba melakukan tipu daya. Ia menemui Salahuddin, berjanji menyerahkan benteng, bahkan bersedia masuk Islam, dengan syarat diberi waktu tiga bulan.
Salahuddin, terkenal murah hati, menerima dan memberinya tempat tinggal di Damaskus. Namun janji itu hanya muslihat. Reginald menggunakan waktu tersebut untuk memperkuat pertahanan benteng.
Ketika kebohongan terbongkar, Salahuddin murka. Menurut Abdul Rahman Azzam dalam Saladin (2009:201), Reginald ditangkap dan dipenjara di Damaskus. Meski kehilangan pemimpin, garnisun Beaufort tetap bertahan. Pengepungan pun dimulai. Serangan senjata menghantam tembok, tetapi posisi benteng di ketinggian membuat serangan itu kesulitan.
Sepanjang musim dingin 1189 hingga awal 1190, Beaufort tetap berdiri. Namun blokade total perlahan mencekik para penjaga. Persediaan habis, mereka terpaksa memakan kuda sendiri. Pada April 1190, setelah hampir setahun bertahan, pasukan Salib yang kelaparan akhirnya menyerah. Salahuddin, konsisten dengan reputasinya, mengampuni mereka dan membiarkan keluar dengan selamat.
"Sekarang, ketika Beaufort akhirnya jatuh, Reginald dibebaskan," sambung Abdul Rahman.
Jatuhnya Beaufort meneguhkan supremasi Ayyubiyah di Levant. Benteng yang selama puluhan tahun menjadi simbol kekuatan Franka kini menjadi panji kemenangan pasukan Islam. Peristiwa ini menunjukkan betapa sebuah tebing batu bisa menjadi pusat perebutan geopolitik, sekaligus panggung intrik dan strategi yang menentukan arah sejarah kawasan.
Roda Nasib Imperium
Sejarah Beaufort Castle setelah masa kejayaan Salahuddin tetap penuh pergantian kuasa dan tragedi. Pada 1240, ketika Dinasti Ayyubiyah melemah akibat konflik internal, penguasa Damaskus menyerahkan benteng ini kepada pasukan Salib sebagai imbalan dukungan militer.
Dua dekade kemudian, cucu Reginald dari Sidon menjualnya kepada Ksatria Templar. Mereka memperkuat pertahanan, tetapi pada 26 April 1268 benteng kembali jatuh ke tangan Kesultanan Mamluk di bawah Sultan Baibars, menandai berakhirnya era Salib di tebing Litani.
Di masa Ottoman, Beaufort beralih fungsi menjadi basis pemberontakan lokal. Fakhr al-Din II dari Druze menjadikannya pusat perlawanan terhadap pajak kekaisaran pada awal abad ke-17. Pemberontakan itu berakhir dengan kekalahan, dan pasukan Ottoman menghancurkan sebagian menara benteng agar tak lagi berguna secara militer.
Kerusakan bertambah pada 1782 akibat bombardir milter Gubernur Acre Jazzar Pasha, lalu gempa Galilea 1837 meruntuhkan dinding-dinding kokoh yang tersisa. Sejak itu, benteng lebih banyak menjadi sumber batu bagi warga desa dan tempat berteduh bagi gembala.
Merujuk dokumen bertajuk "Military Strategy in the Latin Kingdom of Jerusalem: The Crusader Fortification at Caesarea" (1999), minat akademis baru muncul pada masa mandat Prancis di Suriah pada 1921. Paul Deschamps bersama arsitek Pierre Coupel memimpin ekskavasi besar pada 1936, membersihkan halaman dan menara utama. Hasilnya terdokumentasi dalam buku La Défense du Royaume de Jerusalem (1939), yang menjadi rujukan penting tentang arsitektur asli Beaufort. Upaya ini terbukti berharga, karena beberapa dekade kemudian benteng kembali hancur oleh perang modern.
Pada paruh kedua abad ke-20, Beaufort berubah lagi menjadi basis militer. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menguasainya sejak 1970-an, memanfaatkannya sebagai pos peluncuran roket dan titik pengamatan strategis. Ancaman ini memicu invasi Israel ke Lebanon pada Juni 1982.
Dalam operasi Peace for Galilee, Beaufort menjadi target utama. Pertempuran berlangsung sengit, di mana sekitar tiga puluh pejuang Fatah dari Batalyon Jarmaq bertahan mati-matian melawan pasukan elite Israel, Brigade Golani. Mereka bertempur dari parit dan terowongan kuno, menolak menyerah meski kalah jumlah dan persenjataan.
"Para pejuang bertahan di kastil selama lebih dari 60 jam sampai mereka semua menjadi martir," kenang mantan pejuang PLO, Mohammed al-Qarout.
Komandan Israel Guni Harnik tewas dalam baku tembak jarak dekat. Sebagian besar pejuang Palestina akhirnya gugur, tetapi perlawanan mereka menelan korban dari pihak Israel. Perdana Menteri Israel, Menachem Begin, datang dengan helikopter dan bertanya polos kepada tentara Israel, apakah mereka memiliki senjata mesin.
Sejak saat itu, Beaufort menjadi bagian dari zona pendudukan Israel di Lebanon Selatan. Selama hampir dua dekade, benteng terus dihujani mortir, penembak jitu, dan serangan gerilya Hizbullah.
Ketika tekanan publik memuncak, Israel akhirnya mundur pada Mei 2000. Sebelum pergi, mereka meledakkan fasilitas militer yang dibangun, menghancurkan sebagian besar struktur asli.
Upaya pelestarian baru dimulai setelahnya. Situs dibersihkan dari ranjau, dan pada 2024 UNESCO menetapkan Beaufort sebagai prioritas perlindungan darurat di tengah konflik Gaza. Pada Mei 2026, siklus kekerasan kembali berulang. Israel membatalkan kesepakatan damai de facto, membombardir reruntuhan, lalu mengibarkan bendera Brigade Golani di atas tebing.
Secara militer, penguasaan benteng tak lagi relevan di era drone dan satelit. Hizbullah pun tidak mempertahankannya secara frontal. Hanya beberapa jam setelah bendera dikibarkan, serangan drone menewaskan seorang prajurit Israel dan melukai tiga lainnya.
Bagi Tel Aviv di bawah penjahat perang Benjamin Netanyahu, pengibaran bendera di Beaufort adalah propaganda domestik untuk menampilkan citra kemenangan di tengah krisis politik. Menurut Ahron Bregman, mantan veteran perang Israel-Lebanon 1982, Netanyahu gagal menggulingkan Hamas, gagal menghancurkan Hizbullah, gagal menghancurkan rezim Iran. Kegagalan demi kegagalan ketika pemilihan umum sudah di depan mata.
Sedangkan bagi rakyat Lebanon, peristiwa ini membangkitkan trauma lama, tetapi juga keyakinan bahwa pendudukan tak pernah abadi. Mundurnya Israel pada 2000 menjadi preseden kuat bahwa siapa pun yang menancapkan panji di atas tebing itu pada akhirnya akan pergi.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





























