tirto.id - Program Belajar Beton Goes to School (BBGS) X Kelas Tirto kembali hadir di SMK Negeri 1 Karawang membawa semangat edukasi industri konstruksi kepada 160 siswa jurusan Desain Permodelan dan Informasi Bangunan (DPIB), pada Rabu (26/11/2025). Didukung oleh PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara dunia pendidikan vokasi dengan perkembangan terbaru teknologi beton dan isu keberlanjutan.
Kepala Sekolah SMKN 1 Karawang, Rosli, membuka acara dengan rasa syukur dan apresiasi kepada WSBP. Ia menekankan bahwa komitmen perusahaan tidak berhenti pada kunjungan, melainkan juga diwujudkan melalui dukungan nyata berupa penyediaan peralatan bagi jurusan DPIB.
Dukungan tersebut, ujar Rosli, sangat berarti untuk menghidupkan konsep teaching factory—model pembelajaran berbasis produksi yang menuntut sekolah memiliki fasilitas memadai.
“Sekali lagi, terima kasih yang tidak terhingga atas kepedulian, perhatian, dan CSR yang diberikan kepada SMK Negeri 1 Karawang,” ujarnya.
Indra Kurnia, Manajer Komunikasi & TJSL WSBP, menjelaskan bahwa program BBGS ini merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya. Sekolah-sekolah kejuruan di sekitar pabrik menjadi sasaran utama, karena WSBP ingin memastikan calon tenaga teknik memahami realitas industri manufaktur beton yang identik dengan emisi tinggi.
Indra mengingatkan para siswa bahwa pembangunan modern tak lagi hanya soal struktur megah atau produk efisien, tetapi juga soal kepedulian terhadap lingkungan. Ia berharap para siswa kelak menjadi insinyur yang mampu menyeimbangkan kebutuhan konstruksi dengan keberlanjutan.
“Harapannya calon-calon insinyur di hadapan saya kelak tidak hanya membangun struktur megah atau produk efisien, tetapi juga peduli pada lingkungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, acara inti dari BBGS X Kelas Tirto adalah seminar yang bertajuk “Pengurangan Emisi dalam Proses Produksi Beton Precast” dengan dua narasumber utama, yakni Bertha Maheswari, kreator dan insinyur teknik sipil; dan Maulidia Savitri, Ahli Madya Divisi QSHE WSBP.
Bertha memulai dengan gambaran besar bahwa sepertiga emisi karbon global berkaitan dengan sektor konstruksi dan infrastruktur. Ia menjelaskan bahwa produksi semen—komponen utama beton—menjadi penyumbang emisi besar, sehingga inovasi material menjadi kunci.
“Penggunaan material ramah lingkungan seperti clay ash, slag, atau perbaikan proses pabrikan menjadi langkah nyata menurunkan emisi,” jelasnya.
Paparan Maulidia melengkapi gambaran tersebut dengan menunjukkan bagaimana WSBP menurunkan intensitas emisinya. Komitmen penurunan emisi ini adalah prioritas perusahaan agar dapat mencapai target emisi nol bersih (net zero emission) pada jangka 2030-2060.
Terdapat tiga strategi utama dekarbonisasi WSBP, mulai dari penggunaan bahan baku rendah karbon, pelaksanaan reforestasi, penerapan Standar Industri Hijau (SIH), hingga optimalisasi energi terbarukan dan implementasi circular economy.
“Kami melihat satu per satu proses yang tidak efisien, lalu mengoptimalkannya agar tidak menjadi sumber emisi tinggi. Setelah itu kami menetapkan baseline, mengalihkan energi ke sumber terbarukan, dan menyusun standar emisi bagi supplier. Targetnya, emisi tersisa kurang dari lima persen untuk menuju net zero,” ujar Maulidia.
Di akhir kegiatan, WSBP menyampaikan harapan agar siswa-siswa SMKN 1 Karawang tumbuh menjadi calon insinyur yang kompeten dan sadar lingkungan. Indra menambahkan bahwa WSBP selalu membuka kesempatan magang dan kolaborasi bagi sekolah, serta berharap kegiatan seperti ini memperkuat kesiapan lulusan vokasi dalam menjawab kebutuhan industri.
Bagi para siswa, BBGS X Kelas Tirto bukan sekadar seminar teknis, melainkan pengalaman belajar langsung tentang masa depan industri beton—sebuah masa depan yang menuntut inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan berjalan beriringan.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id































