Menuju konten utama

Banyak Pabrik Tapioka di Lampung, Pemerintah Diminta Tahan Impor

Kapasitas terpasang pabrik tapioka di Lampung mencapai 21 juta ton ubi kayu per tahun.

Banyak Pabrik Tapioka di Lampung, Pemerintah Diminta Tahan Impor
Business Matching Pati Ubi Kayu di Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (22/1/2026). tirto.id/nanda Aria Putra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, meminta pemerintah pusat menahan impor tepung tapioka. Permintaan ini didasari kesiapan provinsi tersebut sebagai produsen utama dengan lebih dari 60 pabrik pengolahan dan potensi pasokan yang besar.

Menurut Rahmat, ubi kayu telah menjadi tulang punggung ekonomi Lampung selama lebih dari 60 tahun, dengan ratusan ribu petani bergantung pada komoditas ini. Saat ini, kapasitas terpasang pabrik tapioka di Lampung juga cukup besar, mencapai 21 juta ton ubi kayu per tahun.

"Dengan rasio konversi rata-rata sekitar 5 kilogram ubi kayu menjadi 1 kilogram tapioka, Lampung memiliki potensi produksi lebih dari 4,2 juta ton tepung tapioka per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri nasional," katanya dalam acara Business Matching Pati Ubi Kayu di Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Berdasarkan potensi itu, ia menyatakan kesiapan Lampung menyediakan hingga 5 juta ton ubi kayu per tahun secara berkelanjutan. Lampung juga siap menjadi produsen terbesar dengan kualitas baik, pasokan stabil, dan harga bersaing, asalkan didukung kebijakan nasional yang konsisten.

Di luar persoalan impor, Rahmat juga menyampaikan tiga poin permohonan kepada pemerintah pusat. Pertama, mendorong industri pengguna tapioka agar mengutamakan produk dalam negeri.

“Kedua, menahan impor tapioka selama pasokan lokal masih mampu memenuhi kebutuhan nasional,” ucapnya

Ketiga, ia meminta pemerintah mengatur harga tepung tapioka secara nasional, agar kebijakan perlindungan petani dan pengendalian tata niaga di daerah dapat berjalan efektif dan seragam di seluruh Indonesia.

Permintaan ini relevan dengan data dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, yang menyebut industri pati ubi kayu dalam negeri baru beroperasi pada tingkat utilisasi 43 persen.

Meski pangsa pasar domestik mencapai 79 persen Indonesia masih mengimpor pati ubi kayu senilai 73,8 juta dolar AS hingga November 2025, meski angkanya turun 54,59 persen dari tahun sebelumnya.

“Hingga November 2025, nilai ekspor pati ubi kayu mencapai 18,7 juta dolar AS meningkat 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Agus.

Baca juga artikel terkait LAMPUNG atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana