tirto.id - Tim Ekonom Bank Mandiri menilai, bencana banjir bandang dan longsor yang melanda tiga provinsi: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,08-0,12 persen. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2025 yang diperkirakan Perseroan akan tumbuh di level 5,08 persen, berpotensi menyusut.
“Kalau kita lihat dampak banjir di Sumatra, terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), itu kalau one-off event-nya ini sendiri, itu perkiraannya antara minus 0,08-0,12 percentage point. Jadi, kalau kita lihat ekspektasi (pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025) di 5,1 persen pertumbuhan ekonomi, ya memang ada downside risk-nya,” ujar Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, dalam konferensi pers secara daring, Rabu (3/12/2025).
Meski begitu, menurut dia, dampak pasti dari bencana hidrometeorologi ini baru akan terlihat pada pertengahan bulan. Tidak hanya itu, hitungan dampak bencana di tiga provinsi juga akan terus bergulir karena bencana baru saja terjadi.
“Dan kalau dilihat dari ini, kalkulasinya tentu saja rolling terus ya, karena kan memang kejadiannya baru dan tentunya memang estimasi dari dampak terhadap ekonominya akan terus di-update ya,” sambung Asmo, sapaan Andry.
Sementara itu, jika berkaca dari bencana-bencana nasional yang terjadi sebelumnya, seperti gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Selatan pada 2018 lalu, kerugian negara yang harus ditanggung negara adalah sekitar Rp15 triliun-Rp22 triliun. Kemudian, dampak gempa Lombok di tahun yang sama diperkirakan mencapai Rp5 triliun-Rp7,7 triliun.
“Kalau estimasi awal kami, roughly dari data yang ada, dampak yang terakhir yaitu banjir bandang di tiga provinsi itu sekitar Rp32,6 triliun. Tentu saja ini datanya terus bergulir dan terus berkembang,” ungkapnya.
Dari nilai dampak potensi tersebut, sekitar 50 persen di antaranya berasal dari kerugian ekonomi yang harus ditanggung Aceh. Hal ini terjadi seiring dengan paling parahnya kondisi Aceh, dibanding dua provinsi lainnya.
“Kalau hitungannya memang inflasi, memang proporsi inflasi Sumatera dan Aceh terhadap nasional sebesar 7 persen. Jadi, lebih kecil dibandingkan Jakarta dan Jawa Barat yang menyumbangkan 55 persen," tutur Asmo.
"Saya rasa kalau misalnya bantuannya cepat datang, apalagi kalau kita lihat beberapa daerah merupakan lumbung beras, terutama di provinsi Sumatera Barat, ya ini harusnya memang bisa menurunkan tensi kenaikan inflasi secara umum,” tambah dia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
























