Bandara Rio Ganti Nama 10 Hari Peringati Hari Perempuan

Oleh: Maya Saputri - 8 Maret 2017
Bandara utama di Rio de Janeiro akan berganti nama selama 10 hari menjadi Bandara Maria da Penha untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret.
tirto.id - Bandara utama di Rio de Janeiro, Brasil akan berganti nama selama 10 hari menjadi Bandara Maria da Penha untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret.

Bandara utama di Rio de Janeiro akan berganti nama selama 10 hari menjadi Bandara Maria da Penha untuk memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret.

Maria da Penha yang digunakan sebagai nama Bandara Rio merupakan tokoh aktivis antikekerasan perempuan.

Sebelumnya, bandara itu menggunakan nama ikon musik Brasil, Tom Jobim, kendati lebih dikenal dengan nama Bandara Rio Galeao.

Juru bicara bandara Bianca Ferreira menjelaskan guna memperingati Perempuan Internasional itu, dua penerbangan di Brasil akan dilakukan oleh pilot dan awak kabin yang semuanya perempuan.

"Untuk membangkitkan diskusi tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hak-hak perempuan dengan mengambil keuntungan lokasi bandara yang memiliki jumlah orang melintasi terminal yang tinggi setiap hari," kata Bianca dalam pernyataan seperti dikutip AFP.

Maria da Penha selamat dari tembakan dan setrum brutal suaminya. Dia berjuang di pengadilan dan pada tahun 2006 namanya dikenal dalam undang-undang sebagai "Hukum Maria da Penha" yang mengatur tentang kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan.

Brasil merupakan salah satu negara paling kejam soal pelanggaran hak-hak perempuan di dunia. Sebuah studi besar pada tahun lalu menemukan sekira 4.757 wanita dibunuh pada tahun 2014. Jumlah itu lebih besar 11,6 persen pada dekade sebelumnya.

Pelecehan fisik dan kekerasan adalah masalah utama di tempat umum dengan rata-rata satu serangan terjadi setiap empat menit selama karnaval di Rio baru-baru ini, menurut polisi setempat seperti diberitakan AFP.

Baca juga artikel terkait HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
DarkLight