Bagong Kussudiardja: Seniman yang Melahirkan Seniman

Oleh: Maya Saputri - 9 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Bagong Kussudiardja dikenal sebagai pelopor tarian modern Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh Martha Graham, seniman tari modern.
tirto.id - Seniman tari Bagong Kussudiardja yang merayakan ulang tahun ke-89 hari ini dijadikan Google doodle. Sosok Bagong menjadi salah satu tokoh Indonesia yang namanya diabadikan dalam doodle. Beberapa seniman lain yang pernah dijadikan Google doodle seperti seniman angklung Daeng Soetigna, Ibu Soed, Soejadi alias Pak Raden yang tenar lewat boneka Si Unyil.

Dalam ilustrasi Google doodle, Bagong digambarkan sedang duduk di kursi memegang kuas, karena ia dikenal tak hanya sebagai koreografer tari tetapi juga pelukis.

Anak kedua dari empat bersaudara ini lalu berkenalan dengan seni melalui Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang merupakan dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.

Bagong Kussudiardja dikenal sebagai pelopor tarian modern Indonesia. Menurut kritikus tari Sal Murgiyanto, ada tiga seniman pelopor tari modern Indonesia. Ketiganya berlatih pada Martha Graham, seniman tari legendaris yang terkenal dengan teknik-tekniknya yang mendobrak batasan.

Tiga seniman itu Bagong Kussudiardja, Seti-Arti Kailola dan Wisnu Wardhana. Pada 1957-1958, Bagong mempelajari teknik tari modern arahan Martha Graham dan memperkenalkannya di Tanah Air.

Bagong menggabungkan unsur-unsur modern dalam tarian Jawa dan mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT) pada 5 Maret 1958. Lalu ia juga menjadi pendiri Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 2 Oktober 1978 yang sampai saat ini masih diketuai oleh anaknya, Butet Kertaradjasa.

Darah seniman dalam diri Bagong mengalir juga ke dua anaknya, Butet dan Djaduk Ferianto. Butet dikenal sebagai pemain teater dan pelawak kawakan asal Indonesia. Butet bisa dikatakan aktor yang mumpuni saat pentas monolog. Aksinya yang sangat terkenal adalah dengan menirukan suara mantan presiden RI, Soeharto dalam setiap pementasannya.

Ia pernah memerankan tokoh SBY (Si Butet Yogja) dalam Republik Mimpi di Metro TV dan pindah tayang di TV One yang merupakan pameo dari presiden RI, SBY. Selain itu ia juga memerankan beberapa film layar lebar seperti Maskot dan Banyu Biru. Selain itu ia juga tampil dalam beberapa iklan televisi, dan sinetron. Sejak 2010 bersama aktor Slamet Rahardjo dan komedian Cak Lontong, Butet bermain dalam program mingguan Sentilan-Sentilun di MetroTV.

Berbeda dengan Butet yang memilih seni panggung, Djaduk Ferianto mengambil jalur musik. Dalam bermusik, dia lebih berkonsentrasi pada penggalian musik-musik tradisi. Djaduk adalah salah satu anggota dari kelompok musik Kua Etnika, musik humor Sinten Remen, dan Teater Gandrik. Selain bermusik, dia juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater dan menggarap ilustrasi musik untuk sinetron di televisi.

Sejak tahun 1972, Djaduk sering menggarap ilustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara. Ia bersama kelompoknya terkenal dengan eksplorasi berbagai alat dan benda sebagai instrumen musiknya.

Jiwa seniman Butet dan Djaduk bisa dikatakan diwarisi dari sang ayah, Bagong Kussudiardja, yang telah menciptakan 200 tari dalam bentuk tunggal atau massal. Sederetan prestasi dan penghargaan juga diterima oleh seniman tari yang juga dikenal serba bisa ini.

Pada 1985, ia menerima Hadiah Seni Pemerintah RI, dan penghargaan Sri Paus Paulus VI atas fragmennya Perjalanan Yesus Kristus. Untuk lukisan abstraknya yang dipamerkan di Dacca, ia memperoleh medali emas dari pemerintah Bangladesh pada 1980.

Hingga dalam dunia tari Indonesia, sempat muncul aliran "Bagongisme", yang merujuk pada karakter tarian-tarian khas Bagong. Tarian ciptaan Bagong memiliki gerak-gerak yang dinamis, energik, dan hidup. Bagong tidak pernah berhenti berkarya sampai masa akhir hidupnya.

Atas segudang prestasi yang telah ditorehkan, ulang tahun Bagong Kussudiardja ke-89 yang jatuh hari ini dijadikan Google doodle. ”Selamat ulang tahun bapak para pelopor seni Jawa,” begitu Google menulis dalam rilisnya. Bagong tutup usia pada 15 Juni 2004 di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta sebelum pementasan sendratari lintasan sejarah, Jakarta Maju, Indonesia Maju yang akan dipentaskan 17 Juni 2004 ini.

Baca juga:

Baca juga artikel terkait GOOGLE DOODLE atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri
DarkLight