Babi Ngepet Era Harto: Reaksi atas Boom Ekonomi & Orang Kaya Baru?

Oleh: Sekar Kinasih - 4 Mei 2021
Dibaca Normal 5 menit
Tuyul, babi ngepet, dan monyet ngipri adalah respons pra-ilmiah terhadap ketimpangan ekonomi.
tirto.id - “Saya pusing, Pak! Frustasi! Entah sudah berapa ratus surat lamaran saya ajukan, tak ada satu pun jawaban!”

Demikian Yono, tokoh utama dalam film Warisan Terlarang (1990). Saking lamanya menganggur menganggur, ia akhirnya mengambil jalan pintas: menjalin kesepakatan dengan Ratu Babi. Setelah menumbalkan nyawa sang ibu, Yono bisa bertransformasi jadi celeng berbulu hitam legam. Hanya dengan menggesek-gesekkan tubuh babinya ke dinding rumah orang-orang berduit, kekayaan mereka otomatis berpindah ke tangannya. Dalam gelimang harta, Yono semakin rakus sampai-sampai rela meninggalkan istrinya demi seorang biduanita. Akhirnya, ia mati mengenaskan dikeroyok warga.

Narasi babi ngepet sebelumnya pernah diangkat dalam film Ingin Cepat Kaya (1976). Berlatar di komunitas pedesaan, seorang penjudi bernama Kosim menjalani hidup yang susah. Setelah berguru pada seorang kakek misterius di gua, Kosim diminta mengorbankan nyawa anaknya. Kemudian, ia dibekali mantra untuk menjelma jadi babi sehingga bisa bebas bebas bergerilya ke rumah orang-orang kaya. Seperti bisa diduga, hidup Kosim berakhir tragis di tangan seorang pemburu, yang memenggal kepalanya untuk dipajang di dinding rumah.

Selain babi ngepet, tuyul juga jadi andalan untuk meraih cuan secara instan. Film Tuyul (1978) menuturkan kisah Dayat, pengusaha toko kelontong yang jatuh bangkrut. Setelah seluruh utangnya ditanggung mertua, Dayat pun ditinggal pergi sang istri. Dibakar rasa malu dan putus asa, Dayat menemukan solusi dengan memelihara tuyul. Makhluk kecil berkepala plontos ini mungkin pernah mengabdi di angkatan laut Amerika Serikat, karena selalu berseru “Aye aye, Sir!” kepada Dayat sebelum menjalankan perintahnya untuk mencuri uang dari orang-orang kaya.

Kisah-kisah pesugihan juga melibatkan kekuatan supranatural atau binatang lain, seperti Ngipri Monyet (1988).

Selama tiga dekade pemerintah Orde Baru berkuasa, sineas Indonesia cukup produktif mengolah kisah-kisah imajinatif tentang pemanfaatan jasa setan dan makhluk gaib agar kaya raya. Mitos pesugihan senantiasa direproduksi sebagai konsumsi publik, seiring pemerintah gencar menggenjot aktivitas ekonomi, industri, dan berbagai proyek pembangunan nasional serta program-program pemerataan kesejahteraan.

Indonesia, semakin makmur dan kapitalis?

Pada dekade 1970-an, Indonesia ketiban berkah harga minyak dunia yang meroket, karena negara-negara Arab kala itu memboikot Paman Sam dan dunia barat yang memberikan dukungan kepada Israel dalam perang Yom Kippur melawan Mesir. Revolusi Iran (1978-79) juga turut mengkatrol harga minyak dunia. Pasalnya, rantai pasokan minyak dari Iran, salah satu produsen minyak terbesar, ikut terguncang. Hal ini pun memberikan kesempatan bagi industri minyak di Indonesia untuk semakin unjuk gigi. Sejumlah pendapatan dari ekspor dan pajak perusahaan migas di Indonesia berkontribusi pada proyek-proyek pembangunan dan investasi.


Tak berapa lama kemudian, industri migas mengalami kelesuan. Pemerintah pun beralih pada ekspor industri manufaktur. Langkah ini disokong pula dengan derasnya aliran modal, baik dari dalam maupun luar negeri, yang diputar oleh perusahaan swasta di sektor jasa terutama perbankan. Mengutip studi berjudul “The middle class and the bourgeoisie in Indonesia” (1996) oleh ahli politik-ekonomi Richard Robison, menjelang akhir dekade 1980-an, keputusan pemerintah untuk melakukan relaksasi ekonomi berdampak pada meningkatnya partisipasi sektor swasta. Investasi tak lagi berpusat di negara, namun bergeser ke tangan swasta. Akibatnya, kesempatan kerja sebagai staf di bidang teknis, penjualan, dan manajerial pun bertambah luas.

Masih dilansir dari studi Robison, kemajuan industrialisasi pada era ini terlihat dari menjamurnya gedung-gedung pencakar langit di ibukota dan meningkatnya daya beli masyarakat seperti tercermin dari tingginya angka penjualan properti rumah, apartemen, sampai mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Perubahan-perubahan ini, kata Robinson, menunjukkan lahirnya kekuatan sosial baru di Indonesia, yakni kelompok pemilik modal dan kelas menengah.

Menurut Robison, kelompok mapan baru di Indonesia tidak bisa digeneralisasi memiliki karakter seragam. Mereka terdiri atas sejumlah sub-elemen. Misalnya, kelompok kapitalis atau elite korporat, yang melingkupi kaum pengusaha Tionghoa sampai pengusaha migas era kejayaan Pertamina seperti Aburizal Bakrie, Fahmi Idris, Ponco Sutowo, Siswono Yudo Husodo. Selain itu, ada pula kelompok manajer dan eksekutif muda di perkotaan besar, kategori yang gemar disorot TV dan media, salah satunya oleh majalah Eksekutif (terbit sejak 1979). Di area pinggiran, desa atau kota-kota kecil, kelas menengah diwakili oleh pegawai tingkat rendah dan guru sekolah, yang punya kedekatan dengan pemimpin agama setempat atau ulama.

Di mata Robison, kelas menengah Indonesia tidak sekadar melahirkan yuppies—profesional muda di perkotaan dan pinggiran kota—melainkan juga “reformis liberal sekuler, pendukung korporatisme yang otoriter, dan kaum populis di pedesaan”.

Singkatnya, kelas menengah bermekaran dari desa sampai kota, masing-masing dengan tingkat kemapanan berbeda dan caranya sendiri untuk memupuk kekayaan.

Pesugihan di kalangan proletar dan petani

Menarik untuk ditelisik, mengapa narasi babi ngepet atau tuyul sebagaimana dipopulerkan lewat industri hiburan, konsisten bermunculan seiring dengan pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang beragam. Mungkinkah mereka hadir sebagai respons atau kritik terhadap transformasi ekonomi yang pesat? Apakah mereka merepresentasikan pihak-pihak yang kalah bersaing dalam kompetisi cepat-cepat menjadi kaya? Ataukah mereka sekadar mengajukan jawaban instan untuk menjelaskan kemunculan kelas-kelas menengah baru yang “tiba-tiba” bisa pesta pora makan enak dan berselancar di jalanan mulus ibukota dengan mobil mewah?

Salah satu penjelasan menarik berasal dari antropolog Michael T. Taussig, yang mencoba menggunakan pendekatan Marxis untuk menjawab kenapa praktik pesugihan berkembang pada kelompok masyarakat yang tengah melalui serangkaian perubahan sosio-ekonomi, khususnya pada kelas proletar atau pekerja upahan. Dalam buku The Devil and Commodity Fetishism in South America (1970), Taussig meneliti fenomena pesugihan di kalangan buruh perkebunan di Cauca Valley, Kolumbia dan penambang timah di dataran tinggi Bolivia. Taussig.

Di perkebunan tebu Cauca Valley, sejumlah pekerja upahan keturunan Afrika dikabarkan menjalin kesepakatan dengan setan untuk meningkatkan hasil panen. Menurut mitos, mereka yang terlibat dalam kesepakatan ini otomatis menjadi budak setan. Pada waktu yang sama, hasil kekayaan dari pesugihan ini dipercaya bersifat tidak produktif. Artinya, hasil dari pesugihan tidak boleh dipakai sebagai modal, tapi harus dihabiskan untuk konsumsi barang-barang mewah seperti pakaian atau minuman beralkohol. Jika dipakai untuk beli tanah atau kebun, mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika dipakai untuk beli hewan ternak, mereka akan jatuh sakit lalu meninggal. Dipercaya pula bahwa pelaku praktik pesugihan ini akan mati muda dengan menyakitkan.

Taussig kurang sepakat dengan pendapat yang sudah cukup mapan di kalangan antropolog, bahwa sihir atau ilmu hitam diinterpretasikan sebatas pada fungsi atau kegunaannya. Salah satunya, Taussig mengutip pendapat Bronisław Malinowski, yang memandang sihir sebagai pseudosains untuk meredam kecemasan dan frustasi ketika terdapat kesenjangan dalam ilmu pengetahuan di kalangan masyarakat pra-ilmiah. Menurut Taussig, interpretasi demikian belum bisa menjelaskan secara detil, apa motif dan makna dari setiap langkah ritual mistis yang dilakukan. Di samping itu, pandangan ini belum menjawab alasan ditemuinya praktik pesugihan pada suatu masyarakat di situasi dan waktu tertentu.


Taussig juga belum puas dengan penjelasan bahwa pesugihan merupakan ekspresi kecemburuan, atau “etika sosial egaliter” untuk menjelek-jelekkan pihak yang lebih kaya dan sukses. Pandangan ini berangkat dari konsep “barang terbatas” yang diperkenalkan George M. Foster pada 1965 dalam analisis berjudul “Peasant Society and the Image of Limited Good” dan “Cultural Responses to Expressions of Envy in Tzintzuntzan”. Foster mengambil contoh masyarakat petani di pedesaan Amerika Selatan (dan para petani pada umumnya), yang menganggap barang-barang di dunia—mulai dari lahan, kekayaan, sampai kesehatan—jumlahnya terbatas, sehingga cara terbaik untuk meningkatkan kekayaan pribadi adalah dengan mengambil kepunyaan pihak lain yang jumlahnya dipandang berlebih. Foster menambahkan, dalam konteks masyarakat tradisional, kemajuan materiil seseorang dilihat sebagai ancaman terhadap stabilitas dalam komunitasnya.

Meskipun pesugihan tampak masuk akal untuk dipahami dari sudut pandang “barang terbatas” dan prinsip kecemburuan, Taussig menganggapnya belum cukup spesifik untuk menjelaskan kenapa narasi ini marak ditemui di kalangan proletar, kaum buruh penerima upah.

Menurut Taussig, fenomena pesugihan bisa juga dilihat dari kacamata Marxis. Taussig meminjam cara pandang Marx tentang nilai guna dan nilai tukar pada suatu barang. Sederhananya, nilai guna lahir dari seseorang yang memproduksi suatu barang dalam rangka memenuhi kebutuhannya sendiri. Akan tetapi, apabila ditukar, barang tersebut jadi punya nilai tukar dan menjelma jadi komoditas atau barang dagangan. Nilai tukar penting sebagai roda penggerak dalam ekonomi kapitalis. Hal ini kemudian mengarah pada “fetisisme komoditas”, yakni kecenderungan untuk menggilai suatu komoditas karena nilai tukarnya yang tinggi dan menguntungkan.

Petani di lingkup masyarakat pra-kapitalis dipandang sebagai produsen yang akrab dengan nilai guna. “Di moda produksi pra-kapitalis, tidak ada pasar dan definisi komoditas tentang nilai dan fungsi suatu barang…” tulis Taussig. Hasil panen dijual demi uang (pendapatan kontan) yang kelak dipakai untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat pra-kapitalis berbeda dengan kaum kapitalis atau pemilik modal, yang punya cita-cita mengejar nilai tukar tinggi dan menumpuk modal sebanyak-banyaknya. Seiring kehadiran sistem ekonomi kapitalis dan fetisisme komoditas, kaum pekerja dan petani jadi terasing dari produk-produk yang mereka hasilkan sendiri. Mereka pun jadi tak berkuasa atas produk-produk buatannya, yang didaku sebagai komoditas milik kelompok pemegang modal.

Kembali pada praktik pesugihan yang narasinya mengakar kuat di kalangan pekerja proletar, Taussig mengintrepretasikan ‘setan pesugihan’ sebagai respons terhadap perubahan fundamental dalam tatanan masyarakat yang sebelumnya menganut praktik ekonomi pra-kapitalis. Sementara itu, kapitalisme, sebagai sistem sosio-ekonomi baru, dipandang kejam dan tidak alamiah, persis seperti disimbolkan oleh karakter setan atau kekuatan-kekuatan mistis supernatural.

Setan, menurut Taussig, menjadi “mediator” antara dua sistem produksi dan tukar-menukar yang bertentangan tersebut. Setan menyimbolkan rasa sakit dan kekacauan yang ditimbulkan praktik eksploitatif seperti yang ditemui di perkebunan atau pertambangan. Di samping itu, masyarakat pra-kapitalis memandang aktivitas ekonomi sebagai hal personal, alih-alih komoditas dagangan. Ketika memandang produknya sebagai komoditas, mereka mendapati distorsi mengerikan dalam prinsip timbal balik, “prinsip yang di setiap masyarakat pra-kapitalis didukung oleh sanksi-sanksi mistis dan ditegakkan dengan hukuman-hukuman yang bersifat supernatural,” tulis Taussig.

Berkaca pada hasil studi Taussig di atas, maraknya narasi pesugihan ala babi ngepet dan tuyul pada era Orde Baru bisa juga dipahami sebagai reaksi spontan masyarakat miskin Indonesia terhadap pesatnya pertumbuhan sosio-ekonomi dan kelas menengah—orang-orang di kanan-kiri mereka yang semakin bermodal, mapan dan kaya raya.

Baca juga artikel terkait ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight