Menuju konten utama

Asumsi APBN 2020 Direvisi Lagi, Rupiah Jadi 14.900-15.500/USD

Asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami perubahan paling mencolok dibandingkan asumsi lain dalam revisi APBN 2020.

Asumsi APBN 2020 Direvisi Lagi, Rupiah Jadi 14.900-15.500/USD
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan pers tentang realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 per akhir Oktober di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (18/11/2019). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.

tirto.id - Kementerian Keuangan merevisi asumsi dasar makro untuk APBN 2020 untuk yang kedua kalinya. Pada revisi kedua ini, pemerintah mempertahankan indikator pertumbuhan ekonomi dijaga pada kisaran minus 0,4-2,3 persen sesuai skenario COVID-19 dan inflasi akan dijaga di kisaran 2-4 persen.

Nilai ini tidak banyak berubah dari Perpres 54/2020 yang menjadi turunan Perppu No. 1 Tahun 2020 yang menetapkan pertumbuhan ekonomi di angka 2,3 persen. Lalu inflasi berada di angka 3,9 persen. Sisanya mengalami perubahan signifikan.

“Kami akan lakukan revisi Perpres. Kami akan sampaikan ke Komisi XI dan Badan Anggaran,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferesi pers virtual, Senin (18/5/2020).

Perubahan signifikan terjadi pada asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Perpres No. 54/2020, pemerintah memasang perkiraan nilai tukar akan berada di angka Rp17.500 per dolar AS. Nilai ini diubah pada outlook terbaru 2020 di angka Rp14.900-15.500 per dolar AS. Adapun pada April 2020, nilai tukar berada di posisi Rp14.642 per dolar AS.

Lalu asumsi harga minyak atau Indonesia Crude Price (ICP) dipangkas dari dari 38 dolar AS per barel minyak sesuai Perpres 54/2020 menjadi 30-35 dolar AS per barel minyak pada outlook 2020 terbaru. Realisasi sampai April 2020 untuk indikator ini sendiri berada di angka 46 dolar AS per barel minyak.

Produksi minyak siap jual atau lifting minyak juga ikut dipangkas targetnya. Dari 735 ribu barel minyak per hari menjadi hanya 695-725 ribu barel minyak per hari.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan lifting minyak memang dalam tren menurun. Pada April 2020 saja realisasinya hanya 702 ribu barel minyak per hari.

Lalu lifting gas juga dipangkas targetnya dalam asumsi makro terbaru menjadi 990-1050 ribu barel setara minyak per hari. Nilai ini turun dari Perpres 54/2020 yang masih di kisaran 1.064 ribu barel setara minyak per hari.

“Lifting migas turun dari APBN dan Perpres. Jadi dapat memengaruhi penerimaan negara dan PNBP,” ucap Sri Mulyani.

Baca juga artikel terkait APBN 2020 atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti