Apa Itu Skema Ponzi yang Kerap Dijadikan Modus Investasi Bodong?

Oleh: Desika Pemita - 14 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Mengenal apa itu skema ponzi yang sering dipakai dalam investasi bodong, serta hal-hal yang perlu diperhatikan.
tirto.id - MeMiles, aplikasi investasi berkedok bisnis digital advertising yang dibuat PT Kam and Kam. Saat kasusnya terungkap, MeMiles banyak dibicarakan setelah beberapa artis mendatangi polisi, termasuk penyanyi Ello, sebagai saksi.

Polda Jatim mendapati investasi MeMiles tak berizin. Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa sejak Agustus 2019, Satgas Waspada Investasi memasukkan MeMiles sebagai salah satu entitas investasi ilegal.

Dari laporan yang dikumpulkan Tirto.id terkuak, MeMiles melakukan praktik seperti itu karena mereka menggunakan 'Skema ponzi', yakni memutar dana nasabah melalui pola klise: membayar bonus atau reward anggota lama dengan uang yang disetor anggota baru.

Skema Ponzi, penipuan investasi yang menjanjikan tingkat pengembalian dana tinggi dengan risiko yang kecil bagi investor.

Investopedia menyebutkan, mirip dengan skema piramida, praktiknya didasarkan pada penggunaan dana investor baru untuk membayar investor lama.

Skema Ponzi berakhir ketika dana dari investor baru mengering dan tidak ada cukup uang untuk dibagikan. Pada titik itu, skema terurai.

Asal Usul Skema Ponzi

Dilansir dari laman Investor.gov, istilah "Skema Ponzi" diciptakan dari nama Charles Ponzi, penipu ulung di tahun 1919.

Saat ditelusuri kembali, jenis penipuan ini diperkirakan telah ada sekitar pertengahan hingga akhir 1800-an, dan diatur oleh Adele Spitzeder di Jerman dan Sarah Howe di Amerika Serikat.

Faktanya, metode yang kemudian dikenal sebagai Skema Ponzi dijelaskan dalam dua novel terpisah yang ditulis oleh Charles Dickens, Martin Chuzzlewit, diterbitkan pada tahun 1844 dan Little Dorrit pada tahun 1857.

Namun nama Ponzi yang terkenal, dianggap sebagai tokoh munculnya investasi bodong ini. Pada 1920-an, Ponzi menjanjikan investor pengembalian dana 50% dalam beberapa bulan untuk apa yang dia klaim sebagai investasi dalam kupon surat internasional.

Ponzi menggunakan dana dari investor baru untuk membayar "pengembalian" palsu kepada investor sebelumnya.

Skema asli Charles Ponzi difokuskan pada Layanan Pos AS. Layanan pos, pada saat itu, telah mengembangkan kupon balasan internasional yang memungkinkan pengirim untuk membeli prangko dan memasukkannya ke dalam korespondensi mereka.

Penerima akan membawa kupon itu ke kantor pos setempat dan menukarnya dengan prangko pos udara prioritas yang diperlukan untuk mengirim balasan.

Skema Ponzi membutuhkan aliran uang baru yang konstan untuk bertahan hidup. Ketika menjadi sulit untuk merekrut investor baru, atau ketika sejumlah besar investor yang ada menguangkan, skema ini cenderung runtuh.

Karena keberhasilan Ponzi dalam skema perangko, investor langsung tertarik. Alih-alih benar-benar menginvestasikan uangnya, Ponzi hanya mendistribusikannya dan memberi tahu investor bahwa mereka mendapat untung.

Skema tersebut berlangsung hingga Agustus 1920 ketika The Boston Post mulai menyelidiki Perusahaan Bursa Efek.

Hasil dari penyelidikan, Ponzi akhirnya diamankan oleh otoritas federal pada 12 Agustus 1920, dan didakwa dengan beberapa tuduhan penipuan.

Melihat skema Ponzi, tak ada salahnya untuk waspada sebelum investasi. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

- Jangan percaya dengan jaminan keuntungan tinggi dengan risiko kecil.

- Aliran pengembalian yang konsisten terlepas dari kondisi pasar.

- Investasi yang belum terdaftar di Securities and Exchange Commission (SEC).

- Strategi investasi yang dirahasiakan atau digambarkan terlalu rumit untuk dijelaskan.

- Klien tidak diizinkan untuk melihat dokumen resmi untuk investasi mereka.

- Klien menghadapi kesulitan mengeluarkan uang mereka.



Baca juga artikel terkait SKEMA PONZI atau tulisan menarik lainnya Desika Pemita
(tirto.id - Ekonomi)

Kontributor: Desika Pemita
Penulis: Desika Pemita
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight