Menuju konten utama
Informasi Kesehatan

Apa Itu Penyakit Difteri, Gejala dan Cara Penularannya

Mengenal penyakit difteri, gejala difter dan cara penularan sakit difteri.

Apa Itu Penyakit Difteri, Gejala dan Cara Penularannya
Ilustrasi vaksin Diphtheria. GettyImages/iStockphoto

tirto.id - Difteri adalah jenis penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi pada bakteri.

Pada umumnya, seseorang yang menderita penyakit tersebut akan mengalami rasa sakit pada tenggorokan, demam, lemas, hingga membengkaknya kelenjar getah bening pada selaput lendir.

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, bakteri yang menginfeksi penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheria.

Bakteri tersebut akan menghasilkan racun yang dapat membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga sel tersebut akan mengalami kematian.

Sel-sel yang mati itulah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan.

Selain itu, racun yang dihasilkan dapat menyebar dalam aliran darah sehingga berpotensi merusak jantung, ginjal, hingga sistem saraf.

Gejala Penyakit Difteri

Pada umumnya, penyakit difteri muncul selama 2 sampai 5 hari. Hal tersebut dikarenakan penyakit tersebut memiliki masa inkubasi atau rentang waktu ketika bakteri hendak masuk ke tubuh. Gejala-gejala dari penyakit difteri di antaranya:

  • Terdapat lapisan tipis berwarna abu-abu, lapisan tersebut dapat menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Mengalami demam dan menggigil.
  • Mengalami rasa sakit pada tenggorokan dan suara menjadi serak.
  • Sulit bernapas atau napas menjadi lebih cepat.
  • Mengalami pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Tubuh menjadi lemas dan mudah lelah.
  • Mengeluarkan lendir dari mulut dan hidung. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Cara Penularan Penyakit Difteri

Selaput pada bagian belakang tenggorokan bernama pseudomembran. Selaput tersebut dapat berdarah jika mengalami pengelupasan.

Sehingga dapat menyebabkan rasa sakit ketika sedang menelan sesuatu. Adapun cara penularan penyakit difteri di antaranya:

  • Terhirup percikan ludah dari penderita difteri saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Memakai barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Bersentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Cara Menangani Penyakit Difteri

1. Imunisasi DPT

Sebagian besar seseorang yang mengalami difteri, sebelumnya belum pernah diimunisasi sama sekali. Salah satu jenis imunisasi wajib yang dapat mencegah difteri yakni DPT.

Imunisasi tersebut dapat mencegah penyakit difteri, tetanus, dan batuk rejan. Selain itu imunisasi DPT juga dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu.

2. Melakukan imunisasi ulang

Rata-rata seseorang yang telah melakukan imunisasi, masih ada peluang untuk terkena difteri. Sehingga kekebalan yang diberikan oleh satu kali imunisasi DPT tidak dapat berlangsung seumur hidup.

Maka dari itu, para dokter menganjurkan untuk mengimunisasikan ulang DPT setiap 10 tahun selama seumur hidup.

Pada kasus anal, pemberian imunisasi DPT mesti dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu ketika anak berumur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun.

Jika anak terlambat diberikan imunisasi, anak masih bisa diberikan imunisasi kejaran sesuai anjuran dokter sebelum usianya 7 tahun.

3. Pola hidup sehat tidak cukup

Kabar buruknya, meskipun seseorang telah menjalankan pola hidup sehat seperti menjaga kebersihan serta mengonsumsi sayur dan buah, namun upaya tersebut tidak cukup mampu menangkal penyakit difteri.

Sehingga para dokter menilai bahwa, pencegahan paling efektif terhadap jenis penyakit tersebut adalah melakukan imunisasi.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT DIFTERI atau tulisan lainnya dari Mohamad Ichsanudin Adnan

tirto.id - Kesehatan
Kontributor: Mohamad Ichsanudin Adnan
Penulis: Mohamad Ichsanudin Adnan
Editor: Dhita Koesno